
"Tidak Ellia, aku..." Ucapan Anders terhenti, karena mendadak ia merasa mual.
"Anders kau kenapa?" Raut wajah Ellia berubah panik, Anders tak menjawab dan berlari ke kamar mandi.
Lelaki itu kembali mengeluarkan isi perutnya di dalam sana. Dan Ellia kembali memijat tengkuknya. Begitu selesai Anders mencuci mulutnya, rasa mual itu masih terasa. Wajahnya terlihat semakin pucat. Ellia mengambil selembar tisu dan menyeka peluh yang membasahi kening Anders.
"Apa kita ke rumah sakit saja? Aku takut kau bertambah parah." Tanya Ellia khawatir.
"Aku tidak apa-apa Ellia. Aku hanya ingin tidur." Anders melangkahkan kakinya keluar kamar mandi, rasanya begitu berat. Ellia segera memapahnya ke tempat tidur dan membantu Anders berbaring dan menyelimutinya. Ia kemudian berbaring di sebelah Anders, tangannya di tempelkan ke kening suaminya. Suhu badannya tidak panas.
"Tidurlah. Kalau besok keadaanmu tidak membaik, kita ke rumah sakit." Kata Ellia, Anders mengangguk saja.
"Bisa tolong peluk aku, Ellia." Pintanya lirih dengan mata yang sudah terpejam. Ellia menatap Anders sejenak kemudian mendekatkan diri dan menarik tubuh Anders dalam pelukannya. Ia menyandarkan kepala Anders di dadanya dan membelai rambutnya. Tak lama terdengar hembusan nafas teratur dari Anders. Pria itu sudah tertidur.
"Kenapa hidupku seperti ini?" Ellia mendaratkan satu kecupan di puncak kepala Anders. Hatinya benar-benar galau, antara rasa benci dan kasihan jadi satu. Rasa bencinya pada Anders begitu besar, tapi melihat keadaan Anders yang seperti ini ia jadi tidak tega. Anders benar-benar terlihat rapuh.
Waktu terus berjalan, sepasang suami istri itu sudah terlelap. Jarum jam menunjukkan waktu tengah malam.
"Ellia..."
Kelopak mata Ellia terpaksa terbuka ketika mendengar suara seperti memanggil namanya.
"Ellia..."
Ellia mengarahkan pandangannya pada Anders yang masih berada di dalam pelukannya.
"Anders?" Lelaki itu nampak gelisah dalam tidurnya.
"Ellia, maaf... Maafkan aku..." Anders kembali mengigau dalam tidurnya. Kini nama Ellia yang disebutnya. Ellia mengecek suhu badannya, masih normal. Tapi kenapa Anders mengigau lagi?
"Maafkan aku, Ellia. Aku menyesal..." Lirih Anders, ada air mata yang mengalir di sudut matanya.
"Anders, tenanglah..." Ellia menghapus air mata suaminya dan mengeratkan pelukannya.
"Aku di sini Anders..."
_
_
_
Pagi harinya.
Kelopak mata Ellia terbuka saat silau cahaya matahari menembus tirai kamarnya. Tangan Ellia meraba tempat di sebelahnya. Kosong. Ke mana Anders?
Wanita itu beranjak bangun dan meraih kacamatanya yang berada di atas nakas. Dahi Ellia mengernyit melihat Anders yang sudah nampak rapi dan sedang fokus dengan ponselnya.
"Anders, kau mau ke mana?" Tanyanya sambil berjalan mendekat.
"Ke kantor." Jawab Anders singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
"Ke kantor? Bukannya kau masih sakit?" Tanya Ellia heran. Ada raut kekhawatiran di wajahnya.
"Aku sudah sembuh Ellia, karena semalam kau memelukku." Jawab Anders dengan senyum tipis di wajahnya yang masih terlihat pucat.
"Cepat mandilah, aku dan Emily menunggu di meja makan." Anders menyela lebih dulu kemudian keluar dari kamarnya.
Anders menuju kamar putrinya. Gadis kecil itu sudah terlihat cantik, Emily sedang memutar-mutar tubuhnya di depan cermin. Berkaca penampilannya hari ini.
"Selamat pagi My Princess..." Sapa Anders.
"Daddy!" Sorak Emily, gadis kecil itu langsung lari dan memeluk kaki Anders.
"Daddy sudah sembuh?" Tanya Emily wajahnya mengadah dengan mata hazel yang berkedip-kedip. Sungguh seperti boneka hidup.
"Iya. Daddy sudah sembuh, Sayang." Anders melepaskan pelukan Emily di kakinya, dan mensejajari tingginya dengan Emily.
"Emily senang Daddy sudah sembuh." Emily menangkup wajah Anders dengan jari-jari mungilnya.
"Jangan sakit lagi, Daddy. Nanti Mama sedih lagi." Ucapnya. Anders mengecup kening putrinya.
"Tidak, sayang. Daddy tidak akan sakit lagi."
Anders beranjak berdiri dan menggandeng tangan kecil Emily.
"Ayo kita sarapan."
"Siap Daddy." Anders mengangkat tubuh gadis kecil itu dan menggendongnya membawanya menuju ruang makan.
"Mama di mana, Daddy?" Tanya Emily sambil mendaratkan tubuhnya di kursi.
"Mama sedang mandi, nanti akan menyusul. Apa Emily mau Daddy buatkan roti lagi?" Tawar Anders, Emily mengangguk cepat.
"Mau, Daddy!" Sahutnya penuh semangat.
"Baiklah Daddy buatkan." Anders mengambil selembar roti tawar dan mengoleskan selai coklat di atasnya.
Tak lama Ellia ikut bergabung bersama mereka.
"Mama, selamat pagi!" Sapa Emily dengan mulut penuh roti.
"Pagi, baby." Ellia duduk berhadapan dengan suami dan putrinya. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Anders yang tengah meminum coklat hangat.
"Anders, benar kau mau ke kantor? Apa tidak sebaiknya kau istirahat di rumah dulu?" Tanyanya yang masih ragu. Dirinya tidak yakin jika suaminya itu sudah benar-benar sembuh.
"Tentu saja, Ellia. Aku sudah sembuh." Jawab pria itu.
"Daddy sudah sembuh, Mama. Daddy saja sudah kuat menggendong Emily tadi." Gadis kecil itu ikut bicara.
"Menggendong?!" Seru Ellia dengan nada terkejut.
"Ya, Mama. Daddy menggendong Emily dari kamar sampai meja makan." Celoteh Emily, Ellia langsung menatap tajam pada Anders. Terlihat pria itu menelan salivanya.
"Anders! Kau ini belum benar-benar sehat. Kenapa malah menggendong Emily? Kalau kau tiba-tiba pusing dan terjatuh di tangga, bagaimana?!" Tanyanya dengan nada tinggi. Anders melirik takut, istrinya terlihat menyeramkan.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊