Ellia Im Sorry

Ellia Im Sorry
CHAPTER 36. HASIL TES



"Kau berharap hasil tesnya tidak cocok?" Ellia balik bertanya, suaranya terdengar menajam.


"Bukan seperti itu..."


"Aku ibunya, pasti aku bisa menjadi pendonor untuk putriku sendiri." Ellia menyela lebih dulu.


"Ellia, tentu kau masih ingat apa yang diucapkan Dokter Meitha tadi siang kan? Tingkat kecocokan kita untuk menjadi pendonor untuk Emily hanya sedikit, dan aku hanya bicara tentang kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi nanti." Ucap Anders yang serasa meruntuhkan harapan Ellia.


"Emily putriku, tidak mungkin kalau hasil tidak cocok." Sergah Ellia.


"Ellia..."


"Kenapa kau selalu merusak harapanku?" Cecar Ellia, bahkan tangannya mendorong dada Anders hingga pria itu mundur beberapa langkah.


"Ellia, aku tidak bermaksud..."


"Anders Calvert, kau benar-benar pembawa sial dalam hidupku." Tukas Ellia.


"Dulu hidupku dan Emily baik-baik saja sebelum kedatanganmu. Dan tiba-tiba saja kau datang membawa malapetaka untuk kami." Ucap Ellia penuh penekanan. Wanita itu kembali masuk ke dalam ruang rawat Emily. Sedangkan Anders mematung di tempatnya berdiri. Kata-kata pahit yang Ellia ucapkan benar-benar menghujam jantungnya.


"Aku pembawa sial?" Gumamnya. Anders mendudukan tubuhnya di kursi besi yang ada di dekatnya. Tangannya mengusap kasar wajahnya.


"Ya, aku memang pembawa sial bagi Ellia." Lirihnya.


"Padahal tadi aku hanya ingin membujuk Emily. Tapi apa yang ku lakukan selalu saja salah di mata Ellia."


Anders menyandarkan punggungnya. Ini pertama kali ada wanita yang berkata seperti itu padanya.


Selama ini para wanita hanya memujanya dan hanya Ellia seorang yang berani memakinya seperti itu. Hah, wanita itu memang berbeda. Bahkan menyebutnya sebagai pembawa sial. Sepertinya kebencian Ellia pada dirinya sudah mendarah daging. Padahal dulu setahunya Ellia hanyalah seorang gadis polos dan pendiam.


"Mama, mana Daddy?" Tanya Emily yang hanya melihat Ellia masuk seorang diri.


"Daddy pergi sebentar, sayang. Ada perlu katanya." Jawab Ellia yang duduk kembali di samping putrinya.


"Iya, Emily. Daddy akan kemari lagi." Jawab Ellia sambil tersenyum kecut. Sangat menyebalkan rasanya ketika Emily terus menanyakan tentang Anders.


_


_


_


Keesokan harinya.


Sepasang orang tua kandung Emily sudah berada di ruang Dokter Meitha. Wajah keduanya terlihat cemas menunggu hasil tesnya. Dokter Meitha mengambil sebuah amplop yang sudah terletak di atas meja.


"Tuan Anders dan Nyonya Ellia, ini hasil tesnya." Kata Dokter Meitha sambil menunjukan sebuah amplop berwarna putih pada Anders dan Ellia.


"Lihat, ini masih tersegel." Lanjutnya. Anders dan Ellia hanya mengangguk. Dokter Meitha membuka amplop itu perlahan. Matanya membaca dengan teliti apa yang tertullis di sana. Wajahnya perlahan berubah.


"Bagaiman Dokter? Aku bisa menjadi pendonor untuk putriku kan?" Tanya Ellia penuh harap, tapi ia juga takut hasilnya tak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Dokter Meitha melepas kacamatanya, menatap kedua orang itu bergantian.


"Nyonya Ellia, sudah saya katakan kemarin kalau tingkat kecocokan orang tua untuk menjadi pendonor sumsum tulang belakang bagi anaknya itu sangat kecil." Dokter Meitha menjeda ucapannya.


"Lalu?" Tanya Ellia harap-harap cemas. Jemarinya saling bertaut di bawah meja. Dokter muda itu menggeleng pelan.


"Tuan Anders dan Nyonya Ellia tidak bisa menjadi pendonor untuk Emily. Hasilnya tes kalian tidak cocok." Dokter Meitha menyerahkan dua lembar kertas itu pada Ellia. Ellia langsung membacanya. Hanya ada kata bertuliskan negative yang berurutan di kertas itu.


Seketika dunia terasa runtuh bagi Ellia dan Anders. Dada Ellia langsung terasa sesak, dan Anders hanya bisa terdiam di tempat duduknya.


......................


JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊