
"Daddy Anders jahat?" Tanya Emily dengan tatapan polosnya.
"Iya, sayang. Maka dari itu Emily jangan dekat lagi dengannya. Nanti Mama akan menangis jika Emily dekat dengannya." Ujar Ellia sambil kembali membawa Emily ke dalam pelukannya. Walaupun bingung Emily tetap mengangguk.
"Iya, Mama. Emily tidak akan dekat lagi dengan Daddy Anders. Emily tidak ingin melihat Mama menangis." Kata-kata Emily membuat Ellia semakin mengeratkan pelukannya.
"Maafkan Mama, Emily. Mama terpaksa berkata seperti ini. Mama tidak mau kehilanganmu, dan Mama juga sangat membenci pria itu." Ucap Ellia dalam hati sambil menghujani puncak kepala putrinya dengan kecupan.
"Ini sudah malam, sebaiknya kita tidur." Ajak Ellia.
"Iya, Mama."
_
_
_
Keesokkan harinya.
Rumah keluarga Fredy.
"Jadi Anders Calvert adalah ayah kandung dari Emily?" Tanya seorang wanita paruh baya bernama Frida, yang merupakan ibu dari Fredy.
"Iya, Tante. Dia, dia yang sudah..." Ucapan Ellia terhenti, Frida menarik Ellia ke dalam pelukannya.
"Tante tahu, ini pasti berat untukmu. Kau harus kembali merasakan rasa sakit yang selama ini sudah kau coba untuk kau lupakan." Wanita itu mengusap lembut bahu Ellia. Dirinya lah yang selama ini Ellia anggap sebagai pengganti ibunya yang telah meninggal. Frida begitu menyayanginya dan menganggapnya seperti anaknya sendiri.
"Kenapa juga dia harus datang kembali? Lebih baik aku tidak pernah tahu tentang dirinya... Tante, apa yang harus aku lakukan? Aku takut dia akan mengambil Emily dari ku?" Tanya Ellia, terlihat raut ketakutan di wajahnya. Padahal belum tentu juga ketakutannya itu menjadi kenyataan.
"Ellia, Anders tidak akan melakukan hal itu. Kalaupun dia berani melakukan hal itu padamu. Maka dia harus berhadapan dengan kami dulu." Jawab Frida. Tentu saja ia tak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Em... Ellia, bagaimana kalau sebaiknya kau menerima tawaran Fredy saja?" Tanyanya kemudian.
"Tawaran Fredy?" Ellia balik bertanya.
"Iya, Ellia. Bukankah Fredy sudah sering memintamu untuk menjadi pendampingnya? Jadi apa salahnya jika kalian berdua menikah saja? Fredy juga sudah dekat dengan Emily, dan mungkin dengan begitu lelaki itu tidak lagi berani mengganggumu." Tuturnya. Frida tahu kalau putranya itu sudah lama menyukai Ellia, dan ia juga tahu kalau Ellia selalu menolak putranya. Mungkin ia harus memanfaatkan kesempatan ini, dengan begini Ellia pasti mau menerima Fredy.
"Tapi Tante, Fredy berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku." Cicit Ellia.
"Tapi kau yang dicintai oleh Fredy, Ellia. Dan Fredy telah memilihmu." Timpal Frida. Terlihat sorot kebingungan di mata Ellia.
Apa benar dirinya harus menikah dengan Fredy agar Anders tidak lagi datang mengganggu hidupnya? Tapi bukannya itu malah seperti memanfaatkan Fredy karena selama ini dirinya juga selalu menolak permintaan Fredy untuk menikah dengannya?
"Ellia, jangan terlalu lama berfikir. Kita tidak tahu kapan Anders akan kembali lagi, dan bisa saja dia langsung mengambil Emily darimu. Kita semua tahu betapa dekatnya mereka bukan?" Ucap Frida, seolah mempengaruhi fikiran Ellia.
"Tante, aku..."
"Ellia, sudah lama Fredy mencintaimu. Apa yang kau ragukan padanya?" Sela Frida. Ellia menggeleng pelan.
"Ellia, kau sangat pantas untuk bersanding dengan putra Tante. Dan kau seharusnya tahu, kalau kami sangat menyayangimu dan Emily." Tandasnya.
_
_
_
Sepasang netra di balik kacamata itu terlihat menerawang. Perkataan Frida terngiang terus di fikiran Ellia. Tadi Ellia datang ke rumah Fredy dan menceritakan apa yang sebenarnya sudah terjadi. Rasanya ia tidak sanggup menanggung semua ini sendiri, jadi ia memutuskan untuk mengatakan semuanya pada Frida.
"Apa benar jika aku menikah dengan Fredy, Anders tak akan mengambil Emily dariku? Tapi bukannya dengan begini sama saja aku memanfaatkan Fredy? Fredy berhak mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dariku. Fredy juga berhak menikah dengan wanita yang mencintainya."
Ellia membuang nafas berat, hatinya benar-benar terasa kacau dan galau.
"Mama... Mama!" Suara menggemaskan itu memecah lamunannya, gadis kecil itu berlari kecil menghampirinya.
"Emily, kau sudah pulang?" Tanyanya heran.
"Sudah, Mama. Tadi Paman Fredy yang menjemputku." Jawab Emily yang langsung duduk di sampingnya.
Ellia melirik jam yang terpasang di dinding rukonya, sudah jam pulang sekolah memang. Karena terlalu larut dalam lamunan Ellia sampai lupa waktu.
"Di mana Paman Fredy?" Tanya Ellia, sebab putrinya hanya datang sendiri.
"Paman Fredy langsung pulang tadi." Jawab Emily.
"Ya sudah, ganti bajumu ya. Setelah itu kita makan siang."
"Iya, Mama."
Emily menaiki tangga dan berjalan menuju kamarnya. Gadis kecil itu meletakan tasnya di lantai dan juga terduduk di sana. Wajahnya berubah sendu.
"Daddy Anders..." Gumamnya.
"Aku merindukanmu." Emily menyandarkan punggungnya di dinding kamarnya.
Tak bisa di pungkiri kalau dirinya merasa kehilangan Anders. Apalagi mamanya melarangnya untuk bertemu kembali dengan Anders. Sosok Ayah yang selama beberapa hari ini selalu datang dan bermain bersamanya kini tak ada lagi.
"Mama bilang Daddy jahat? Apa itu benar? Tapi aku tidak melihat sedikitpun kalau Daddy jahat." Gumamnya.
"Baru saja sebentar aku merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang Daddy, tapi sekarang aku harus kembali kehilangannya." Lirih Emily. Dengan malas ia bangun dan mengganti pakaiannya.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊