Ellia Im Sorry

Ellia Im Sorry
CHAPTER 79. ELLIA PINGSAN



"Anders? Dia mengantar kami tadi. Tapi langsung ke kantor karena ada rapat." Ellia menerangkan. Dokter Meitha mengangguk-anggukkan kepalanya. Di kiranya Anders tak tahu jika Ellia pergi keluar.


Mereka terlibat percakapan ringan, sambil menikmati makanan dan minuman masing-masing.


"Oh, jadi Tuan Fredy adalah teman Nyonya Ellia dari luar kota?" Tanya Dokter Meitha. Sedikit banyak Fredy dan Ellia menceritakan hubungan mereka.


"Jangan panggil Tuan, panggil Fredy saja." Sela Fredy.


"Maaf Tuan, tapi saya biasa memakai panggilan seperti itu pada siapapun." Timpal Dokter Meitha sambil tersenyum tipis. Fredy membuang nafasnya pelan.


"Ya, dulu aku bekerja di ruko milik Fredy sebelum akhirnya pindah kemari." Ujar Ellia. Lagi, Dokter Meitha mengangguk, kemudian ia beralih pada Emily yang tengah mengaduk-aduk minumannya.


"Emily, bagaimana perasaan Emily sekarang?" Tanyanya.


"Perasaan Emily?" Gadis kecil itu balik bertanya karena tidak mengerti.


"Maksud Tante Dokter, Emily merasa senang atau Emily merasa lemas?" Tanya Dokter Meitha.


"Emily tidak merasa lemas, Tante Dokter. Emily senang karena Emily bersama Daddy setiap hari, dan sekarang ada Paman Fredy. Emily jadi tambah senang." Jawabnya dengan mata berbinar. Dokter Meitha tersenyum mendengarnya. Syukurlah Emily baik-baik saja. Dirinya hanya takut jika kondisi Emily menurun apalagi belum ada donor untuknya.


Fredy, sedari tadi lelaki itu tak berhenti memperhatikan Dokter Meitha, dia juga diam-diam mencuri pandang. Dan ternyata Ellia menyadari itu, Ellia tersenyum dalam hati. Sepertinya Fredy menyukai Dokter Meitha. Bukankah itu bagus?


Setelah sarapannya selesai Dokter Meitha pamit lebih dulu, karena sebentar lagi ia harus ke rumah sakit.


"Fredy!" Panggil Ellia.


"Ada apa?"


"Dokter Meitha cantik ya?" Tanya Ellia memancing.


"Ya, dia cantik." Jawab Fredy tanpa sadar, ia masih memandang Dokter Meitha yang berjalan menjauh.


"Paman Fredy menyukai Tante Dokter?" Suara menggemaskan itu menyadarkan Fredy, ia langsung menoleh ke arah Ellia yang menatapnya dengan pandangan yang tak biasa.


"Eh, maksudku..." Lelaki itu tampak salah tingkah.


"Maksudmu?" Sepasang netra di balik kacamata itu menyipit, membuat Fredy makin salah tingkah.


"Dia cantik sepertimu, Ellia. Penampilan kalian mirip." Jawab Fredy gugup. Sementara Ellia masih menatapnya.


"Kalau kau menyukainya juga tidak apa-apa, Fred. Nanti akan ku bantu." Sahut Ellia. Fredy menautkan kedua alisnya.


"Lalu bagaimana dengan rencana pernikahan kita?" Tanyanya membuat raut wajah Ellia berubah seketika.


_


_


_


Willians Group


Rapat sudah selesai, Anders dan Jeff kembali ke ruangan mereka. Anders segera menghubungi Ellia.


"Halo Ellia."


"Halo Anders."


"Apa kau dan Emily masih bersama Fredy?"


"Oh, begitu? Nanti kalau kalian mau pulang telepon supir saja agar menjemput kalian di taman."


"Iya, Anders."


"Ya sudah, aku kerja dulu." Mereka mengakhiri panggilan itu. Anders kembali menyimpan ponselnya di atas meja.


"Tuan, apa Tuan Fredy ada di sini?" Tanya Jeff yang sedari tadi mendengar percakapan Anders dan istrinya.


"Ya, kebetulan Fredy ada pekerjaan di kota ini. Dan dia meminta bertemu dengan kami, maka dari itu tadi aku mengantar Ellia dan Emily terlebih dahulu." Jawab Anders sambil membaca berkas yang sudah menumpuk di atas mejanya.


"Anda tidak cemburu, Tuan?" Tanya Jeff.


Anders melirik sejenak ke arah sekretarisnya, kemudian fokus kembali pada berkasnya.


"Cemburu untuk apa?" Anders balik bertanya. Jeff menganga mendengarnya.


"Istri Tuan sedang bersama calon suaminya. Tuan tidak cemburu?" Raut wajah Jeff terlihat bingung.


"Biarkan saja, Jeff. Tidak ada gunanya juga aku cemburu. Karena memang seharusnya Fredy yang menikah dengan Ellia, bukan aku." Terdengar helaan nafas berat dari Anders.


"Tuan tidak berusaha untuk mempertahankan pernikahan Tuan?"


"Jeff, kesepakatan tetaplah kesepakatan. Aku tidak akan mengingkarinya. Sudah sebuah keberuntungan untukku, Ellia mau memberiku kesempatan selama pernikahan ini. Dan aku tidak ingin menjadi manusia yang tidak tahu diri." Jawab Anders yang terkesan pasrah.


"Ya, terserah Tuan saja. Keputusan ada di tangan Tuan dan Nyonya Ellia. Tapi ku berharap, pernikahan kalian akan terus terjalin tidak hanya sampai Nona kecil mendapat pendonor saja."


"Aku tidak ingin menyakiti siapa-siapa lagi, Jeff." Bos dan sekretaris itu saling menatap sejenak, kemudian fokus kembali pada pekerjaan masing-masing. Ponsel Anders kembali berdering.


"Ellia?" Gumam Anders, ia segera mengangkatnya.


"Halo Ellia, ada apa?"


"Anders, ini aku Fredy." Suara Fredy menyahut di balik ponsel.


"Fredy? Kenapa ponsel Ellia ada padamu?" Tanya Anders heran.


"Ellia, tiba-tiba pingsan. Kami sedang dalam perjalanan ke rumah sakitmu." Jawab Fredy, terdengar juga suara tangis Emily.


"Pingsan?! Kenapa Ellia bisa pingsan?" Seru Anders, terkejut sekaligus panik. Rasanya tadi istrinya baik-baik saja, mereka juga baru saling menelepon.


"Aku tidak tahu, Anders. Sebaiknya kau cepat ke rumah sakit."


"Baiklah, aku ke sana sekarang."


"Tuan, ada apa?" Tanya Jeff yang melihat Tuannya tergesa-gesa hendak beranjak.


"Jeff, tolong kau urus pekerjaanku dulu. Ellia tiba-tiba pingsan."


"Nyonya Ellia pingsan?"


"Iya, Jeff. Ellia dalam perjalan ke Willians Hospital. Aku akan ke sana sekarang." Anders langsung berlari keluar ruangannya.


......................


JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊