
Setelah selesai menjemput Emily, Fredy langsung kembali ke rumahnya. Sudah ada Frida yang menunggu kedatangannya.
"Fredy!" Panggil Frida begitu melihat putranya memasuki rumah.
"Ya, Ma. Ada apa?" Tanya Fredy sambil berjalan menghampiri ibunya.
"Kemari, Nak." Frida menepuk kursi kosong di sampingnya. Fredy menurut dan duduk di sana.
"Fredy, tadi Ellia kemari dan menceritakan apa yang sudah terjadi sebenarnya." Ucap Frida
"Ellia kemari?" Kening pria itu nampak mengerut.
"Ya, Ellia juga mengatakan kalau sebenarnya Anders Calvert adalah ayah kandung Emily." Jawab wanita paruh baya itu.
"Ellia mengatakan itu pada Mama?" Tanya Fredy heran, di fikirnya Ellia tidak akan menceritakan hal itu pada ibunya.
"Ya, Fredy. Dan menurut Mama ini adalah saat yang tepat untuk kau melamar Ellia kembali." Ujar Frida dengan penuh semangat, sementara Fredy malah menatapnya penuh tanya.
"Maksud Mama?"
"Fredy, saat ini fikiran Ellia sedang kacau dan ia juga ketakutan. Ia takut kalau Anders mengambil Emily darinya. Karena bagaimanapun Emily adalah putri kandungnya. Dan ini adalah kesempatan untukmu, kau harus segera menikahinya. Dengan begitu Ellia tidak akan merasa ketakutan lagi dan kau juga bisa menikah dengan wanita yang kau cintai selama ini." Jelas Frida. Lelaki itu mencoba mencerna perkataan Frida.
"Jadi maksud Mama, aku harus memanfaatkan keadaan ini. Begitu?" Tanya Fredy yang mulai mengerti maksud Mamanya.
"Tentu saja, Fredy. Kapan lagi kau mempunyai kesempatan seperti ini. Selama ini kau mencintai Ellia, dan sudah berkali-kali melamarnya. Tapi Ellia selalu menolakmu. Jadi apa salahnya kalau kau melamarnya di saat ia merasa ketakutan seperti ini." Jawab Frida panjang lebar, raut wajah Fredy berubah serius.
"Ma, aku ingin Ellia menerimaku karena ia mencintaiku. Bukan karena rasa takut karena Anders akan mengambil Emily darinya." Ujar Fredy yang langsung mendapatkan tepukan di lengannya.
PLAK!
"Ma, ini sakit." Ringis Fredy sambil mengusap-usap lengannya yang terasa panas.
"Fredy, kau ini sudah dewasa. Ingat, usiamu sudah 28 tahun. Kapan lagi kau akan menikah? Mau menunggu sampai Ellia mencintaimu? Sampai kapanpun Ellia tidak akan mencintaimu, karena ia menganggap dirinya tidak pantas untukmu." Ucap Frida yang langsung membuat putranya itu terdiam.
"Kalau kau tidak mau melamar Ellia, biar Mama saja yang melakukannya." Frida bangkit dari duduknya.
"Ma, tapi..."
"Sudahlah, Fredy. Kau diam saja, biar Mama yang bertindak." Sela Frida yang kemudian beranjak dari sana, sementara Fredy masih mematung di tempatnya.
Memanfaatkan ketakutan Ellia agar wanita itu mau menikah dengannya? Ibunya benar, kapan lagi ia mempunyai kesempatan seperti ini. Tapi rasanya ini tidak akan adil bagi Ellia. Karena itu sama saja Ellia terpaksa menerima dirinya.
_
_
_
"Emily, kenapa tidak makan? Apa makanannya tidak enak?" Tanya Ellia yang sedari tadi memperhatikan putri kecilnya.
"Tidak, Mama." Jawab Emily sambil menggeleng pelan.
"Apa kau ingin makan yang lain?" Tanya Ellia lagi.
"Tidak, Mama." Emily tersenyum tipis kemudian menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan malas.
"Emily pasti memikirkan Anders. Biasanya hampir setiap hari lelaki itu kemari." Batin Ellia yang curiga melihat perubahan pada putrinya. Sejak pulang sekolah tadi Emily jadi pendiam. Biasanya putri kecilnya itu selalu berceloteh dan sekarang terlihat tidak bersemangat.
"Aku harus membuat Emily melupakan Anders secepatnya. Tapi apa yang harus aku lakukan?" Ellia bertanya-tanya dalam hati.
"Mama kenapa diam?" Tanya Emily yang kini melihat mamanya melamun.
"Hah? Tidak sayang. Ayo cepat habiskan makananmu." Perintahnya yang di jawab anggukkan oleh Emily.
_
_
_
Willans Grup
Sebuah gedung bertingkat yang merupakan perusahaan besar berdiri kokoh di tengah pusat kota. Willians Grup, perusahaan yang memiliki cabang di mana-mana. Di dalam dan juga luar negri.
Seorang pria nampak berdiri di samping kaca jendela besar, memandang hampa pada pemandangan indah di luar sana.
"Tuan, saya sudah mendapat laporan tentang siapa saja yang berbuat kecurangan di perusahaan ini." Lapor Jeff yang baru saja masuk ke ruangan itu.
"Kalau kau sudah tahu siapa yang berbuat kecurangan itu, kenapa tidak kau sendiri saja yang selesaikan masalah ini?" Sahut Anders acuh tak acuh.
"Karena perusahaan ini milik Tuan. Jadi Tuan yang harus menyelesaikan masalah yang terjadi di sini." Jawab Jeff dengan datarnya. Anders seketika berbalik, tatapan tajam ia hunuskan pada sekretarisnya itu.
"Jeff, kau benar-benar menyebalkan." Geramnya.
"Tapi aku benarkan, Tuan? Perusahaan ini memang milik Tuan dan sudah menjadi tanggung jawab Tuan. Kecuali kalau perusahaan ini milikku. Aku yang akan menyelesaikan sendiri masalah ini." Sahut Jeff dengan entengnya.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊