Ellia Im Sorry

Ellia Im Sorry
CHAPTER 80. SEDIH DAN BAHAGIA



Willians Hospital


"Tenanglah, Emily. Mama akan baik-baik saja." Fredy mengusap-usap rambut coklat milik gadis kecil itu mencoba menenangkannya, sedari tadi Emily tidak berhenti menangis.


"Kenapa Mama tiba-tiba tak sadarkan diri, Paman? Apa Mama sakit?" Tanya Emily di antara isak tangisnya.


"Kita tunggu Tante Dokter periksa Mama dulu ya." Fredy memeluk tubuh kecil itu dan menyandarkannya di dadanya.


"Fredy!" Anders baru saja tiba dengan nafas terengah-engah.


"Bagaimana Ellia?" Tanyanya panik.


"Ellia masih di periksa dokter." Jawab Fredy.


"Daddy..." Emily mengangkat tangannya, dan Anders langsung meraih tubuh mungilnya.


"Daddy, Mama tadi tiba-tiba tak sadarkan diri saat Emily dan Paman Fredy melihat bunga di taman." Emily mengadu sambil menangis. Anders langsung mengusap air matanya.


"Emily takut, Daddy." Tangan Emily memeluk leher Anders dan menyandarkan kepala di bahunya.


"Mama baik-baik saja, sayang. Jangan takut." Anders mengecup puncak kepala putrinya agar putri kecilnya itu tenang. Jangan sampai putri kecilnya itu syok karena akan berakibat buruk untuk kesehatan Emily.


Klek, pintu ruangan itu terbuka. Dokter Meitha keluar dari ruangan itu, karena tadi kebetulan ada Dokter Meitha di sana, jadi dialah yang memeriksa Ellia. Anders dan Fredy langsung menghampirinya.


"Bagaimana keadaan istriku, Meitha?" Tanya Anders.


"Tuan tidak perlu khawatir, Nyonya Ellia baik-baik saja." Jawab Dokter Meitha dengan tenangnya.


"Lalu kenapa Ellia tiba-tiba pingsan?" Tanya Anders kembali.


"Itu wajar Tuan Anders." Dokter Meitha menjeda ucapannya, sementara Anders dan Fredy menatapnya penuh tanya.


"Wajar?" Ulang Anders.


"Ya, karena tekanan darah Nyonya Ellia cukup rendah. Dan ini biasa terjadi di awal kehamilan." Terang dokter cantik tersebut.


"Awal kehamilan?" Anders mencoba mencerna perkataan sahabatnya itu.


"Ya, Tuan Anders. Selamat, Nyonya Ellia sedang mengandung. Usia kehamilannya kini berjalan empat minggu. Jadi tubuhnya masih menyesuaikan diri dengan hormon kehamilannya. Pembuluh darahnya menjadi melebar, dan itu yang menyebabkan tekanan darah Nyonya Ellia menjadi rendah. Tapi tenang saja, ini tidak akan berlangsung lama. Hanya trimester awal saja." Terang Dokter Meitha panjang kali lebar. Kedua sudut bibir Anders terangkat, senyum merekah di wajah tampannya, Ellia kembali mengandung anaknya. Itu artinya pendonor untuk Emily akan segera hadir, putrinya akan sembuh.


"Sekali lagi selamat, Tuan. Tolong jaga dengan baik kandungan Nyonya Ellia. Karena usia kandungannya masih sangat rentan." Ucap Dokter Mitha.


"Tentu, Meitha. Apa aku boleh melihatnya?"


"Silakan, Tuan. Saya permisi dulu." Dokter Meitha undur diri, dia sempat melirik ke arah Fredy sejenak. Lelaki itu terlihat tanpa ekspresi.


"Mama kenapa Daddy?" Tanya Emily yang masih berada di gendongan Daddynya.


"Mama sedang hamil sayang, itu artinya Emily akan punya adik." Jawab Anders.


"Emily akan punya adik?" Mata hazel itu berkedip-kedip.


"Ya, sayang. Ayo kita lihat Mama." Anders hendak melangkah masuk ke ruangan itu, namun ia teringat dengan Fredy.


"Fredy, ayo kita masuk." Ajaknya.


"Tidak usah Anders." Fredy menolak.


"Kenapa?"


"Oh begitu? Baiklah."


"Selamat untukmu dan Ellia. Sampaikan juga salamku pada Ellia." Fredy menepuk bahu Anders. Anders mengangguk.


"Iya, nanti ku sampaikan."


"Paman mau pergi?" Tanya Emily.


"Ya, sayang. Paman harus bekerja. Paman pergi dulu ya." Fredy mengusap kepala Emily dengan sayang.


"Iya, Paman. Hati-hati di jalan." Emily melambaikan tangannya, Fredy membalasnya dan berlalu dari sana.


Anders membawa Emily masuk ke dalam ruang rawat Ellia.


"Anders..." Suara Ellia masih terdengar lemah.


"Ellia..." Anders menurunkan Emily dari gendonganya dan mendekat ke arah istrinya.


"Apa yang terjadi? Aku di mana?" Tanya Ellia, matanya mengedar memperhatikan sekitarnya. Sebuah ruangan yang di dominasi warna putih, dan juga ada selang infus yang terpasang di pergelangan tangannya


"Kau di rumah sakit, Ellia. Tadi kau pingsan di taman." Jawab Anders yang duduk di kursi samping Ellia. Emily ikut duduk di pangkuannya.


"Pingsan?" Ellia mencoba mengingat. Tadi dirinya sedang berdiri di belakang Fredy dan Emily yang begitu antusias melihat bunga di taman, tapi mendadak kepalanya pusing, dan setelah itu semuanya menjadi gelap.


"Tadi Meitha yang memeriksamu, dan kau tahu apa katanya?" Tanya Anders sambil membelai wajah istrinya. Ellia menggeleng pelan.


"Apa yang Dokter Meitha katakan?" Tanyanya.


"Emily akan punya adik." Jawab Anders dengan senyum simpul di wajah tampannya.


"Adik?" Ellia mengerutkan keningnya.


"Iya, Mama. Tante Dokter bilang, Mama sedang hamil. Dan Daddy bilang, Emily akan punya adik." Emily ikut bicara.


"Itu artinya..." Ellia langsung terduduk.


"Aku hamil?!" Serunya.


"Iya, Ellia. Kau hamil, usia kandunganmu sudah empat minggu." Sahut Anders. Sepasang netra Ellia berkaca-kaca. Anders mendaratkan kecupan hangat di keningnya.


"Terima kasih Ellia, putri kita akan segera sembuh. Dan terima kasih karena bersedia mengandung anakku kembali." Ucapnya setengah berbisik. Ellia mengangguk dan meraba perutnya yang masih rata.


"Aku hamil? Dan itu berarti..." Ada rasa bahagia dan sedih yang Ellia rasakan bersamaan. Anders mengusap lembut rambut Ellia yang tergerai, membuat Ellia kembali menatapnya.


"Sekarang aku ada untukmu. Katakan apa saja yang kau inginkan, aku akan mengabulkannya. Aku tidak ingin kau sedih lagi selama masa kehamilanmu, aku ingin menebus semua kesalahanku padamu." Ucapnya. Bulir bening mengalir di pipi Ellia, Anders segera menghapusnya.


"Jangan menangis, ini adalah kabar bahagia untuk kita. Aku tidak ingin ada air mata. Aku akan melakukan apapun untukmu, dan aku juga janji tidak akan mengingkari perjanjian kita." Ucap Anders.


Perjanjian kita?


Kata-kata itu yang rasanya membuat Ellia ingin kembali menangis.


......................


JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊