
Setelah sempat berfikir beberapa waktu, Ellia akhirnya setuju untuk menikah dengan Fredy. Tanpa adanya acara lamaran, Ellia ingin langsung menikah saja. Tentu saja keputusannya itu membuat Frida begitu bahagia.
Setidaknya setelah dirinya menikah dengan Fredy nanti, ada yang menjaga dirinya dan juga Emily jika Anders datang kembali dan mengganggunya, fikir Ellia.
Mengenai masalah cinta, Ellia yakin cinta akan tumbuh dengan sendirinya jika mereka berdua sering menghabiskan waktu bersama, dan lagi cinta tak begitu penting baginya sekarang.
"Kenapa sayang? Apa Emily tidak menyukai Paman Fredy? Bukankah Paman Freedy laki-laki yang baik? Paman Fredy juga yang sudah memberikan kehidupan pada kita selama ini?" Tanya Ellia, jemarinya mengusap lembut wajah mungil itu.
Emily menggeleng pelan.
"Paman Fredy baik, Emily menyukainya." Jawab Emily sambil tersenyum.
"Dan setelah ini Paman Fredy akan menjadi Daddy Emily. Emily akan punya Daddy." Ellia mencubit pelan hidung putrinya.
"Iya, Mama." Gadis kecil itu kembali tersenyum, namun terlihat sorot kesedihan di mata hazelnya. Entah mengapa, semenjak tidak bertemu dengan Anders, Emily selalu merasa sedih. Tapi ia tidak pernah menunjukkan kesedihannya di hadapan Ellia.
"Sebenarnya aku ingin Daddy Anders yang menjadi Daddyku." Batin gadis kecil itu.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi Fredy mendengarkan percakapan mereka karena pintu kamar yang memang terbuka sebagian. Ellia dan Emily memang berada di rumahnya, pernikahan mereka akan di adakan di taman depan rumah Fredy.
"Kenapa aku tidak melihat kebahagian di wajah mereka berdua? Dan Emily, sudah beberapa hari ini aku melihat kesedihan di wajahnya. Apa Emily merindukan ayah kandungnya dan ia tidak senang jika aku yang menjadi ayahnya?" Batin Fredy bertanya-tanya.
Sebenarnya Fredy begitu senang ketika Ellia mengatakan bersedia untuk menikah dengannya, tapi jika melihat kesedihan di wajah Emily rasanya kebahagiaannya dalam dirinya tidak berarti apa-apa. Bagaimanapun Fredy sudah menganggap Emily seperti putrinya sendiri, dan ia tidak ingin melihat putri kecilnya itu bersedih.
Benarkah keputusan yang sudah dia ambil untuk menikahi Ellia?
PLAK!
Tiba-tiba saja sebuah tepukan melayang di bahunya Fredy, membuat pria itu terjingkat kaget.
"Mama!" Ternyata Frida sudah berdiri di belakangnya.
"Fredy! Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Frida tangannya berkacak di pinggang.
"Aku, aku hanya..." Fredy jadi tergagap karena terkejut.
"Jangan mengintip seperti itu. Sebentar lagi juga Ellia akan menjadi milikmu." Tukas Frida.
"Bukan begitu, Ma. Aku..."
"Sudah, sudah. Cepat turun ke bawah. Sebentar lagi acaranya akan di mulai. Mama yang akan mendampingi Ellia nanti." Lagi, Frida kembali menyela sebelum Fredy sempat bicara. Terlihat putranya itu membuang nafas berat.
"Iya, Mama." Jawabnya sambil berlalu dari sana.
Tok tok tok. Frida mengetuk pintu sebelum masuk ke kamar. Anak dan ibu menoleh.
"Pantas saja Fredy begitu tergila-gila padamu." Sambungnya.
"Tante Frida bisa saja." Wajah Ellia nampak merona mendengar pujian Frida.
"Tapi kau memang benar-benar cantik, Ellia. Iya kan Emily?" Frida menunduk, menyamai tingginya dengan gadis kecil itu.
"Iya, Oma. Mama cantik sekali." Sahut Emily.
"Ya sudah, ayo kita turun. Sebentar lagi acaranya di mulai." Ajak Frida yang di jawab anggukkan oleh Ellia dan putrinya.
_
_
_
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan ruko milik Ellia. Terlihat rolling door toko itu masih tertutup rapat.
"Kenapa rukonya masih tutup?" Tanya Anders heran. Biasanya di jam seperti ini ruko itu sudah buka.
"Aku tidak tahu, Tuan." Jawab Jeff yang duduk di kursi kemudi.
"Ck, seharusnya kau tahu Jeff." Tukas Anders.
"Aku kan datang bersama Tuan. Dan selama dua minggu ini aku juga bersama Tuan, jadi aku tidak tahu kenapa ruko Nona Ellia masih tutup." Jawab Jeff apa adanya. Anders hanya mendengus kemudian turun dari mobilnya. Anders hendak melangkah, namun ia ragu.
"Kalau aku ke sana, Ellia pasti akan mengusirku lagi." Gumamnya sambil menatap bangunan ruko di hadapannya tersebut.
"Tapi aku merindukan Emily. Aku ingin melihatnya, tidak apa jika Ellia akan mengusirku lagi yang penting aku bisa melihat putriku walaupun sebentar saja." Anders menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, menyiapkan hatinya jika Ellia akan memakinya dan mengusirnya lagi nanti.
Ting Tong.
Ditekannya bel ruko itu, walau jantung Anders berdetak tak karuan ia tetap berdiri di sana. Namun setelah beberapa saat menunggu, tak ada reaksi apapun dari dalam.
"Apa Ellia dan Emily sedang pergi?" Tanya Anders dalam hati. Sementara Jeff masih setia menunggunya di dalam mobil.
Sudah berkali-kali Anders memencet bel, tapi ruko itu nampak begitu hening seperti tidak ada kehidupan di dalamnya.
"Sudahlah, lebih baik aku kemari lagi nanti." Anders menghela nafas kecewa.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊