
"Kenapa aku harus terlibat kembali dengannya? Dan kenapa harus dia yang melakukan hal itu padaku dulu?" Ellia memijat keningnya. Sebenarnya ia sudah bisa melupakan masa lalunya yang pahit, tapi kemudian Anders kembali hadir di hidupnya. Dan setelah tahu kalau Anders lah yang berbuat hal itu padanya, rasanya luka lama itu kembali terbuka dan menganga. Saat melihat wajah Anders, Ellia selalu terbayang saat ibunya meregang nyawa, juga saat di mana dirinya di perlakukan begitu rendah dan di hina oleh orang-orang di sekitarnya.
Krucuk-krucuk.
Suara itu membuyarkan lamunan Ellia. Perutnya sudah menagih ingin di isi. Diliriknya makanan yang di bawa Anders tadi. Terlihat sangat menggugah seleranya apalagi aromanya yang seakan menguar memenuhi kamar.
"Sepertinya aku harus tetap makan, aku membutuhkan tenaga untuk menjaga Emily nanti. Dan aku juga membutuhkan tenaga lebih untuk menghadapi Anders." Gumamnya.
Kenyataannya hanya sedikit makanan yang bisa ditelannya, semua rasanya begitu tercekat di kerongkongannya. Tidak apa yang penting perutnya sudah terisi makanan.
Selesai makan Ellia berbaring di samping putrinya, sambil terus mengusap lembut wajah Emily. Sedangkan Anders hanya duduk bersandar di kursinya sambil memandang keluar jendela. Memandangi awan putih yang jaraknya begitu dekat.
_
_
_
Willians Hospital
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dari dua jam, akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Emily langsung menjalani pemeriksaan. Anders dan Ellia menunggu dengan wajah cemasnya. Sementara Jeff, pria itu masih setia menemani Anders dan wajahnya terlihat datar-datar saja.
"Lihat mereka berdua. Sudah seperti sepasang suami istri yang sedang cemas menunggu anaknya yang sakit." Ucap Jeff dalam hati. Matanya melirik ke arah Anders dan Ellia bergantian. Posisi kedua orang itu terlihat sama, duduk sambil berdoa menautkan kedua telapak tangannya.
"Sebenarnya mereka berdua itu cocok, dan bodohnya Tuan Anders malah melakukan kesalahan fatal. Tapi aku masih berharap mereka bisa bersatu. Setidaknya dengan begitu Tuan Anders tidak akan merasa kesepian lagi dalam hidupnya. Semoga saja Nona kecil bisa membuat kedua orang tuanya bersatu kembali." Batin Jeff terus menggumam, tapi ada doa tulus yang terselip di sana.
Klek, pintu ruangan itu terbuka. Ellia dan Anders langsung bangkit dari duduknya.
"Dokter, bagaimana keadaan putriku?" Tanya Ellia. Dokter cantik itu melepas kacamatanya, menatap Ellia dan Anders bergantian.
"Emily menderita kanker leukimia stadium dua." Jawabnya. Ellia dan Anders seketika lemas mendengarnya. Ternyata Emily benar menderita penyakit mematikan itu.
"Meitha, pasti ada cara untuk mengobati putriku kan?" Tanya Anders pada dokter tersebut.
"Kemotherapi?" Ellia dan Anders seketika tersentak.
"Dokter, setahuku kemotherapi menggunakan obat yang sangat keras. Apa putriku tidak akan kesakitan nantinya?" Tanya Ellia, matanya sudah nampak berkaca-kaca. Sedikit banyak Ellia tahu tentang kemotherapi, ada tetangganya yang dulu pernah melakukan kemotherapi. Dan Ellia tidak tega melihat kondisinya. Apalagi jika putri kecilnya yang harus menjalaninya.
"Nyonya benar. Kemotherapi memang mengunakan obat yang cukup keras untuk membunuh sel-sel kanker tersebut. Dan juga beberapa efek samping yang bisa di bilang cukup beresiko. Tapi memang kemotherapi adalah salah satu cara yang banyak di tempuh oleh penderita kanker." Terang Dokter Meitha.
"Dok, aku tidak akan tega melihat putriku kesakitan seperti itu. Apa tidak ada cara lain?" Tanya Ellia penuh harap.
"Ada satu cara lagi, donor sumsum tulang belakang. Dan itu harus di lakukan oleh anggota keluarga pasien." Jawab Dokter Meitha.
"Aku bersedia untuk menjadi pendonornya." Jawab Anders cepat.
"Aku juga." Tambah Ellia.
"Tuan, Nyonya. Menjadi pendonor untuk penderita kanker tidak semudah itu. Tuan dan Nyonya harus menjalani beberapa tes lebih dulu."
"Aku tidak peduli, Meitha. Aku hanya ingin putriku cepat sembuh." Ujar Anders. Dokter Meitha mengangguk.
"Tapi harus ku katakan di awal, kalau orang tua yang menjadi pendonor, biasanya tingkat kecocokannya hanya sedikit dan kemungkinan besar tidak cocok." Ucapnya.
"Maksudmu? Kami orang tua kandungnya, seharusnya kami bisa menjadi pendonor untuk Emily bukan?" Tanya Anders tak mengerti. Dokter muda itu menghela nafas berat.
"Sebaiknya Tuan dan Nyonya menjalani tes terlebih dahulu. Setelah itu kita lihat tingkat kecocokannya." Jawabnya. Anders dan Ellia mengangguk.
"Baiklah." Jawab Ellia.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊