
"Anders! Kau ini belum benar-benar sehat. Kenapa malah menggendong Emily? Kalau kau tiba-tiba pusing dan terjatuh di tangga, bagaimana?!" Tanyanya dengan nada tinggi. Anders melirik takut, istrinya terlihat menyeramkan.
"Tapi aku tidak jatuh kan?" Sahutnya walaupun takut-takut. Ellia semakin menatap tajam padanya.
"Ehm, ini sudah siang. Aku permisi dulu." Anders langsung bangkit dari duduknya.
"Emily, Daddy berangkat dulu ya." Pamitnya sambil mengusap rambut coklat Emily, ia tak berani menatap Ellia.
"Anders!" Ellia bangun dari duduknya.
"Aku pergi dulu." Anders berjalan cepat meninggalkan meja makan, menghindari kemarahan istrinya.
"Kenapa Mama marah? Apa Daddy tidak boleh menggendongku?" Tanya Emily, gadis kecil itu terlihat bingung dengan Ellia yang tiba-tiba marah.
"Bukan tidak boleh, sayang." Ellia kembali duduk.
"Tapi Daddy kan belum sembuh. Mama hanya takut tadi kalian berdua jatuh di tangga."Jelas Ellia dengan suara lembut agar putrinya itu tidak salah paham. Emily mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Tapi Daddy sudah sembuh, Mama. Buktinya Daddy kuat menggendong Emily." Sahut Emily. Ellia hanya bisa membuang nafas berat ke udara, ayah dan anak itu sama saja. Tidak bisa mengerti kekhawatirannya.
_
_
_
Mobil Anders melaju dengan kecepatan penuh, tangannya mencengkram erat stir mobilnya.
"Setelah bertahun-tahun akhirnya aku berhasil menemukanmu." Terlihat sorot penuh amarah di matanya.
Tak lama Anders sampai di sebuah tempat yang jauh dari hingar bingar kota. Ada beberapa orang yang sudah menunggu kedatangannya.
"Selamat datang Tuan Anders." Ucap salah satu dari tiga pria yang berdiri di sana. Anders hanya mengangguk.
"Dia ada di dalam, Tuan. Selama ini dia bersembunyi di daerah terpencil dan juga mengganti namanya. Itu yang membuat kami sulit untuk menemukannya."
"Kalian tunggu di sini."
Anders melangkah masuk ke dalam tempat itu.
"Lucas Corner! Bangun kau!" Bentak Anders. Lelaki yang bernama Lucas itu membuka sempurna matanya. Dia begitu terkejut dengan keadaan dirinya yang berada di tempat asing dan juga kaki tangannya terikat. Dengan susah payah Lucas beranjak duduk, dilihatnya sosok yang berdiri di hadapannya tengah menatapnya dengan tatapan membunuhnya.
"Siapa kau?" Tanya Lucas.
"Kau tidak siapa tahu aku?" Anders balik bertanya. Lucas menggeleng, ia sama sekali tidak mengenal sosok di hadapannya.
"Jadi kau tidak tahu siapa aku?" Tanya Anders lagi.
"Siapa sebenarnya kau? Kenapa kau mengikatku? Kita tidak saling mengenal!" Seru Lucas. Anders tersenyum miring.
"Apa kau ingat dengan Alice Davine Willians?" Tanya Anders, begitu dingin nada bicaranya. Lucas langsung membelalakan matanya. Tidak mungkin ia lupa dengan nama itu.
"Kau ingat?" Anders berjongkok di depan Lucas.
"Apa hubunganmu dengan Alice?" Tanya Lucas. Anders tersenyum sinis.
"Alice adikku." Jawabnya. Sepasang mata Lucas kembali melebar.
"Kau... Kau Anders Calvert?" Tanya Lucas dengan suara bergetar, ketakutan mulai menyergapnya. Selama ini ia berusaha untuk sembunyi dari seorang Anders Calvert, dan sekarang orang itu ada di hadapannya.
"Ya, aku Anders Calvert Willians. Kakak dari gadis yang telah kau hancurkan hidupnya!"
BUGH!
Satu bogem mentah mendarat di wajah Lucas membuat lelaki itu tersungkur di lantai yang keras.
Anders meraih kerah baju Lucas.
"Kau tahu? Gara-gara perbuatanmu adikku menderita! Adikku mengalami trauma, hingga akhirnya dia memilih untuk mengakhiri hidupnya!"
Anders kembali melayangkan pukulan dan tendangan pada Lucas. Memukuli lelaki itu tanpa belas kasihan, di benaknya terlintas bayangan Alice yang tengah menangis saat tahu dirinya telah kehilangan mahkotanya.
Lucas terbatuk-batuk, darah segar keluar dari mulutnya dan hidungnya. Anders kembali meraih kerah bajunya, menatap tajam pada Lucas.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊