
"Apa kau ingin mengacaukan acara pernikahanku?" Tanya Fredy dengan tatapan mengintimidasinya.
"Kenapa kau berkata seperti itu? Aku bahkan tidak tahu hari ini adalah hari pernikahanmu dengan Ellia." Jawab Anders jujur.
"Lalu untuk apa kau di sini?" Tanya Fredy lagi.
"Aku merindukan Emily. Maka dari itu aku datang lagi kemari. Dan tadi aku ke ruko, tapi ruko itu tutup. Seseorang mengatakan padaku kalau hari ini kau akan menikah dengan Ellia." Anders menerangkan.
"Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan mengacaukan pernikahanmu. Aku hanya ingin bertemu dengan putriku." Sambungnya. Fredy tersenyum miring.
"Putrimu? Apa aku tidak salah dengar? Setelah tujuh tahun kau menyia-nyiakannya, sekarang kau baru mengakui kalau Emily adalah putrimu?" Tanya Fredy sarkastik.
"Kau tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi. Jadi ku harap kau tidak berkata seenaknya seperti itu." Timpal Anders.
"Lalu apa yang sebenarnya sudah terjadi? Jangan bilang kalau dulu kau menghabiskan waktu dengan banyak wanita sampai kau melupakan perbuatanmu pada Ellia. Dan sekarang begitu kau tahu tentang Emily, kau menginginkannya." Sindir Fredy. Terlihat Anders mengepalkan tangannya, ia mencoba menahan emosinya yang mulai naik.
"Jangan bicara sembarangan! Kau tidak tahu apapun tentangku!" Serunya.
"Fredy!" Panggilan itu membuat kedua pria itu menoleh. Ellia dan Frida sudah berada di antara mereka. Frida menatap nyalang pada pria yang berdiri di samping putranya.
"Hei, kau! Mau apa kau kemari?!" Tanya Frida dengan ketusnya pada Anders.
"Nyonya aku kemari..."
"Kau pasti mau mengacaukan pernikahan putraku atau kau ingin mengambil Emily?" Sela Frida, matanya menatap curiga pada Anders. Anders tercengang mendengarnya. Kenapa mereka berfikiran buruk padanya?
"Tidak Nyonya. Aku kemari hanya ingin bertemu dengan Emily." Jawab Anders. Matanya beralih menatap Ellia yang berdiri di samping Frida. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan gaun pengantinnya, namun tatapannya begitu tak bersahabat. Dan sekarang bukan saat bagi Anders untuk terpesona mengagumi kecantikan ibu dari putrnya itu.
"Apa kau lupa Tuan? Aku sudah melarangmu untuk bertemu dengan putriku?" Tanya Ellia yang terdengar begitu dingin, sedangkan mata hazel itu menatapnya sendu.
"Ellia, izinkan aku bertemu dengan Emily sebentar saja. Aku benar-benar merindukannya." Pinta Anders memelas.
"Aku tidak akan pernah mengizinkan putriku untuk bertemu denganmu." Ucap Ellia penuh penekanan.
"Kau dengar sendiri Tuan Anders? Jadi sebaiknya kau pergi dari sini." Tukas Frida, tapi Anders tidak mempedulikannya.
"Ellia, ku mohon. Sebentar saja, aku ingin bertemu dengan Emily." Anders kembali memelas, ia melipat tangannya di depan dada.
"Fredy, tolong usir dia." Ucap Ellia pada calon suaminya tanpa pedulikan permintaan Anders.
"Anders, sebaiknya kau pergi dari sini sebelum aku berbuat kasar padamu." Ujar Fredy dengan datarnya.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi. Maaf kalau kedatanganku sudah mengganggu." Anders memutar langkahnya. Dadanya terasa sesak, ia hanya ingin bertemu dengan Emily. Tapi mereka menganggapnya seperti seorang penjahat dan mengusirnya. Dengan langkah gontai Anders kembali ke mobilnya, namun belum sempat Anders mencapai pintu mobilnya sebuah suara menghentikannya.
"Daddy...!"
Anders membeku, mendengar kembali suara yang ia rindukan beberapa hari terakhir ini.
"Daddy!" Binar kebahagiaan nampak di mata gadis kecil itu. Daddynya akhirnya datang kembali. Sepasang kaki mungil itu berlari ke arah Anders.
"Emily..." Anders menoleh, memandang nanar pada putri kecilnya.
"Emily! Kau mau ke mana?" Sayangnya Ellia lebih dulu menangkap putrinya itu.
"Mama... Emily ingin menemui Daddy." Pinta Emily, mata hazel itu terlihat memohon. Namun Ellia memegangnya erat lengannya.
"Emily, dia bukan Daddymu! Bukannya Mama sudah mengatakan padamu kalau dia itu sudah jahat pada Mama? Jadi Emily tidak boleh lagi menemuinya." Tegas Ellia.
"Tapi Mama..."
"Emily..." Anders kembali menghampiri Ellia.
"Mama, Daddy tidak jahat." Ucap Emily sambil menggeleng pelan. Entah mengapa ada keyakinan dalam dirinya kalau Daddynya itu tidak seperti yang di katakan sang Mama.
"Dia pria jahat, Emily. Kau tidak boleh lagi dekat dengannya!" Ucap Ellia penuh penekanan. Anders menatapnya tak percaya, dirinya memang sudah berbuat kesalahan dulu. Tapi apa tidak ada kesempatan untuknya memperbaiki kesalahannya?
"Ellia, kenapa kau berkata seperti itu pada Emily?" Tanyanya sambil menatap sendu pada Ellia.
"Karena kenyataannya memang seperti itu!" Timpal Ellia ketus.
"Emily, kita ke dalam saja ya?" Ajak Frida, tapi Emily menggeleng.
"Tapi Emily ingin Daddy." Gadis kecil itu mulai merengek. Ellia mulai merasa gemas pada putrinya.
"Emily sudah berjanji pada Mama bukan kalau Emily tidak akan dekat lagi dengan lelaki itu?" Tanya Ellia, Emily terdiam seketika.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊