Ellia Im Sorry

Ellia Im Sorry
CHAPTER 14. KAU AYAH KANDUNG EMILY KAN?



Sementara di ruko.


"Terima kasih atas kunjungannya." Ucap Ellia pada pelanggan yang baru saja selesai berbelanja.


"Hai Ellia." Suara seorang pria membuat Ellia menoleh. Fredy sudah berdiri di hadapannya hanya terhalang meja kasir.


"Hai Fredy." Sapa Ellia kembali


"Kau sudah kembali dari luar kota?" Tanyanya.


"Aku baru saja pulang, di mana Emily? Aku membawakan sesuatu untuknya." Tanya Fredy, ia menunjukkan paper bag yang di bawanya. Seperti biasa, jika dari luar kota Fredy selalu membawakan oleh-oleh untuk Emily.


"Emily sedang pergi bersama Anders." Jawab Ellia sambil merapikan uang di mesin kasir.


"Anders?" Fredy menautkan kedua alisnya.


"Ya, mereka berdua pergi ke kedai es krim." Sahut Ellia.


"Kau biarkan Emily pergi dengannya?" Tanya Fredy menatapnya tak percaya.


"Kenapa memangnya? Apa ada yang salah?" Ellia balik bertanya.


"Bukankah dia orang asing? Maksudku dia orang baru di kota ini? Bagaimana kalau dia...?"


"Berniat jahat dan menculik Emily maksudmu?" Potong Ellia, menatap Fredy dengan tatapan mengintimidasinya.


"Bukan Ellia, maksudku..." Fredy mencoba mengelak.


"Fred, Anders teman satu sekolahku dulu. Dia laki-laki yang baik. Selama seminggu ini dia selalu kemari, dan mengajak Emily bermain atau jalan-jalan." Ellia menjelaskan.


"Dan Emily juga nyaman dengan Anders, jadi aku tak ada alasan untuk melarang mereka pergi bersama." Sambung Ellia.


"Jadi Anders sering kemari? Untuk apa? Apa Ellia belum menyadari siapa Anders yang sebenarnya?" Fredy bertanya-tanya dalam hati.


Ellia hanya menggeleng pelan melihat Fredy yang terdiam.


TING.


"Mama, Mama..!" Seru Emily riang. Gadis kecil itu berlari kecil, di ikuti Anders yang berjalan di belakangnya.


"Mama, lihatlah. Aku membawakan es krim untuk Mama." Emily menyerahkan satu cup es krim yang di bawanya.


"Terima kasih, baby." Ellia mengusap rambut putrinya. Emily beralih menatap Fredy.


"Paman Fredy? Paman sudah pulang?" Tanyanya.


"Ya, Paman baru saja pulang. Oh ya, Paman bawa sesuatu untukmu." Fredy menyerahkan paper bag yang di bawanya.


"Wah, terima kasih Paman." Dengan riang Emily menerimanya. Emily membuka paper bag itu, ternyata isinya sebuah boneka.


"Cantik sekali. Terima kasih Paman Fredy." Ucapnya sambil memeluk erat boneka itu..


"Sama-sama my princess." Sahut Fredy. Anders tersenyum melihat interaksi keduanya.


"Fred, kapan kau kembali?" Tanyanya.


"Baru saja. Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Fredy basa-basi.


"Aku hanya mengajak Emily jalan-jalan." Anders menyadarkan tubuhnya di meja kasir.


"Oh begitu? Aku ingin bicara denganmu, apa kau ada waktu?" Tanya Fred lagi.


"Bicara? Apa yang ingin kau bicarakan?" Anders balik bertanya. Rasanya tak ada yang perlu di bicarakan antara dirinya dan juga Fredy. Atau Fredy hanya ingin mengajaknya mengobrol?


"Kita bicara di luar saja." Ajak Fred. Walaupun merasa aneh, Anders tetap menerima ajakannya.


"Ok, baiklah." Sahut Anders.


"Ellia, Emily... Aku dan Anders akan keluar sebentar." Pamit Fredy.


"Daddy?" Fredy mengerutkan keningnya mendengar panggilan itu.


"Ya, Daddy. Karena mulai hari ini Paman Anders adalah Daddy ku." Jawab Emily sambil tersenyum ke arah Anders. Anders membalas senyumnya, mengusap lembut rambut panjang Emily.


"Oh jadi sekarang Paman Anders adalah Daddy Emily?" Tanya Fredy dengan nada sedikit kecewa. Gadis kecil itu tak pernah memanggilnya Daddy, padahal dirinya yang ada di saat Emily lahir dulu sampai sekarang. Tapi Anders? Dengan mudahnya Emily memanggilnya Daddy padahal mereka belum lama bertemu. Hah, hubungan darah memang tidak bisa bohong.


"Ya, Paman, Daddy Anders adalah Daddy Emily sekarang." Sahut Emily.


"Paman mau mengajak Daddy keluar sebentar, Emily. Kami pergi dulu ya." Pamit Fredy. Ellia dan Emily mengangguk, sedangkan Anders mengikuti langkahnya.


_


_


_


Kedua pria itu duduk saling berhadapan. Tatapan Fredy terlihat mengintimidasi pada sosok di depannya.


"Apa yang ingin kau bicarakan padaku?" Anders membuka suara, mereka berdua berada di restoran Anders, di ruang VIP.


"Aku sudah tahu siapa dirimu yang sebenarnya." Ucap Fredy menatap datar pria yang duduk di hadapannya.


"Apa maksudmu?" Tanya Anders tak mengerti.


"Apa kau pikir aku tidak bisa melihatnya? Kau dan Emily." Fredy menjeda ucapannya.


"Aku dan Emily? Apa sebenarnya maksudmu, Fred?" Anders benar-benar tak mengerti kemana arah pembicaraan Fredy.


"Kau, kau ayah kandung Emily kan?" Tatapan tajam Fredy terarah pada manik hazel Anders yang langsung berubah memucat.


"Kau pria yang sudah merenggut kesucian Ellia pada malam itu, bukan?" Tanya Fredy penuh penekanan.


Anders mematung, jantungnya berdetak cepat. Bagaimana bisa Fredy mengetahui itu semua begitu cepat?


Fredy mengangkat salah satu sudut bibirnya. Melihat reaksi Anders yang terdiam, ia benar-benar yakin kalau semua itu adalah benar.


"Kenapa kau diam Anders? Kau terkejut aku bisa mengetahui semua ini?" Tanya Fredy lagi membuat Anders seakan tersadar. Ia berdehem mencoba menetralkan detak jantungnya.


"Ehm... Bagaimana bisa kau punya pikiran seperti itu?" Anders akhirnya membuka suara walau sedikit tergagap.


Fredy tersenyum sinis.


"Kau pikir aku tidak bisa melihat kemiripan wajah bahkan warna mata kalian yang sama?" Tanyanya. Tatapan Fredy terus mengintimidasinya, dan itu membuat Anders salah tingkah.


"Kau pikir hanya aku dan Emily yang mempunyai mata berwarna hazel?" Anders mencoba mengelak.


"Anders, bukan hanya mata kalian. Tapi wajah kalian juga hampir mirip. Apalagi melihat kalian berdua yang mudah sekali akrab. Aku jadi benar-benar yakin dengan dugaanku." Fredy kembali menjeda ucapannya, sedangkan Anders nampak semakin gugup.


"Dan yang aku heran, kenapa Ellia tidak menyadari hal itu?" Lanjut Fredy menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, sepasang netranya masih terus menatap Anders.


Anders menelan salivanya dengan susah payah. Fredy dengan mudahnya mengetahui siapa dirinya. Bagaimana dengan Ellia? Bagaimana reaksi Ellia, seandainya Ellia menyadari hal itu? Ellia pasti akan sangat membencinya.


"Jangan katakan apapun pada Ellia, aku tidak ingin dia membenciku." Ucap Anders yang akhirnya secara tidak langsung mengakui bahwa dirinya lah laki-laki itu.


"Hah, jadi benar kau laki-laki itu? Dan kini kau takut Ellia membencimu? Seharusnya kau fikirkan hal itu sebelum kau menghancurkan hidupnya!" Sinis Fredy.


"Kenapa kau kembali lagi setelah dulu meninggalkannya? Ke mana dirimu tujuh tahun yang lalu di saat hidup Ellia benar-benar hancur?" Cecar Fredy, ia bangkit dari duduknya.


"Fred." Anders memegang lengan Fredy, tapi Fredy langsung menepisnya.


"Aku yakin, Ellia sudah menceritakan padamu apa yang sudah terjadi padanya selama tujuh tahun ini. Berusahalah untuk menutupi kenyataan ini dari Ellia. Aku juga tak akan mengatakan ini padanya. Tapi aku yakin, cepat atau lambat Ellia pasti akan menyadarinya." Fredy tersenyum miring sebelum pergi menginggalkan ruangan itu. Meninggalkan Anders yang mematung di tempatnya.


......................


JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊