
Ellia melepas kacamatanya, dan membasuh wajahnya.
"Apa aku dan Anders akan melakukannya lagi?" Ellia membuang nafasnya berat. Rasanya harga dirinya sudah benar-benar hancur di hadapan seorang Anders Calvert.
Anders menyimpan kembali laptopnya, dan berbaring di atas tempat tidur.
"Pusing sekali kepalaku membaca tulisan-tulisan itu. Jeff benar-benar keterlaluan! Awas saja dia." Gerutunya. Sejenak Anders terdiam.
"Sepertinya ada yang kurang. Tapi apa?"
Anders beranjak duduk, matanya mengedar mengelilingi sudut kamarnya dan berfikir.
"Tidak ada yang berubah, sama saja sepertinya."
Klek, pintu kamar mandi terbuka. Ellia melangkah keluar dari sana.
"Oh ya, istriku yang cantik tapi galak ternyata. Hah, bisa-bisanya aku lupa sudah menikah dengan Ellia."
Anders kembali membaringkan tubuhnya. Ellia melangkah mendekati tempat tidur, seperti biasa wajahnya selalu datar jika dekat dengan suaminya itu.
Ellia membaringkan tubuhnya di samping Anders. Dilihatnya suaminya itu sudah memejamkan matanya, tapi sebenarnya fikirannya sedang mengelana ke mana-mana.
"Kira-kira harus menunggu berapa lama ya untuk Ellia hamil lagi?"
Pertanyaan itu tiba-tiba melesak di fikiran Anders. Kelopak matanya kembali terbuka. Ia menoleh ke arah Ellia. Wanita itu terlihat sedang memandang langit-langit kamar. Belum tidur ternyata.
"Ellia..." Panggil Anders pelan.
"Apa?" Sahut Ellia tanpa melihat ke arahnya.
"Kapan kau akan hamil?" Tanya Anders membuat Ellia langsung menatapnya.
"Maksudku, kira-kira kita harus menunggu lama untuk kehamilanmu?" Anders mengoreksi pertanyaannya.
"Mana ku tahu!" Sahut Ellia ketus, ia kembali memandang langit-langit kamarnya.
"Dulu aku hanya melakukannya sekali, dan kau langsung hamil. Apa sekarang juga sama? Kita sudah melakukannya kemarin, apa kau akan langsung hamil juga?"
Ellia kembali menatap suaminya, kedua alisnya tampak saling bertaut mendengar pertanyaan aneh dari Anders.
"Tidak perlu menatapku seperti itu, aku hanya bertanya." Anders langsung membalikkan tubuhnya, membelakangi istrinya melihat tatapan Ellia yang sangat tidak bersahabat.
"Kenapa dia selalu menatapaku seperti itu? Aku tahu kalau Ellia membenciku, tapi apa tidak bisa ia merubah tatapannya padaku sedikit saja?" Batin Anders. Pria itu mulai memejamkan matanya.
"Kenapa dia memberiku pertanyaan yang aneh begitu? Dia bertanya kapan aku akan hamil? Ya mana ku tahu. Seharusnya dia yang lebih tahu, mungkin saja dia sudah menghamili wanita yang lain selain aku." Ellia menggerutu dalam hati.
Tiba-tiba saja pemikiran itu ada di kepala Ellia, sepertinya ada harapan baru untuk Emily agar sembuh lebih cepat.
"Anders!" Panggilnya, namun Anders tak bergeming.
"Anders!" Ellia kembali memanggil sambil mengguncang tubuh suaminya.
"Hm..." Anders menyahut dengan deheman karena dirinya hampir saja terjun ke alam mimpi.
"Anders, bangun! Ada yang ingin ku tanyakan padamu." Ellia kembali mengguncang tubuh Anders.
"Ada apa Ellia? Apa kau ingin melakukan seperti yang kemarin malam?" Tanya Anders yang masih setengah sadar. Ellia langsung membelalakan matanya.
PLAK!
Satu tepukan keras mendarat di lengan Anders membuat lelaki itu langsung terjaga sepenuhnya.
"Sakit, Ellia! Kenapa kau memukulku?" Tanya Anders yang sudah terduduk di tengah ranjang sambil mengusap-usap lengannya yang terasa panas.
"Apa kau tidak puas memaki diriku setiap hari, dan sekarang kau memukulku?" Keluhnya.
"Makanya jangan bicara sembarangan!" Sahut Ellia ketus. Wanita itu ikut duduk dan keduanya saling berhadapan.
"Ada yang ingin ku tanyakan padamu." Ucap Ellia.
"Apa?"
"Apa ada wanita lain yang hamil karena ulahmu?" Tanya Ellia, Anders menautkan kedua alisnya.
"Maksudmu?" Kening pria itu mengerut, Anders tak mengerti.
"Ck, maksudku kau kan playboy. Pasti sering menanam benih pada wanita lain kan?" Tanya Ellia lagi. Kerutan di kening Anders semakin dalam.
"Menanam benih? Benih apa maksudmu? Benih tanaman? Aku tidak suka dan tidak pernah bercocok tanam apalagi dengan wanita." Jawab Anders dengan memasang tampang polosnya. Ellia ternganga dibuatnya. Kenapa jadi membawa-bawa benih tanaman?
"Bukan itu maksudku, Anders." Geramnya.
"Lalu?"
"Pasti sudah banyak wanita yang kau tiduri selain aku kan? Yang aku tanyakan, apa ada di antara mereka yang sedang hamil? Kalau ada, setidaknya anaknya nanti bisa menjadi pendonor bagi Emily. Jadi kita tidak perlu menunggu lama lagi." Ellia menjelaskan, tatapan Anders langsung berubah datar.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊