Ellia Im Sorry

Ellia Im Sorry
CHAPTER 60. TIDAK SIA-SIA



"Dan itu artinya aku yang akan menyelesaikan pekerjaan hari ini. Nasib seorang sekretaris..." Keluhnya. Hari ini dirinya banyak pekerjaan dan sekarang harus di tambah dengan pekerjaan Anders.


"Paman Jeff bilang apa?" Tanya Anders pada Emily setelah putrinya meletakan kembali ponselnya di tempatnya semula.


"Tidak bilang apa-apa, Daddy. Hanya terima kasih saja." Jawab Emily. Anders menganggukkan kepalanya. Jeff pasti tidak akan protes jika bukan dirinya yang mengangkat telepon, untung saja ada Emily di sana.


Klek, pintu kamar terbuka. Ellia menghampiri keduanya.


"Emily, Daddy harus istirahat sekarang. Jadi sebaiknya kita keluar saja ya." Ajaknya.


"Tapi Emily masih ingin bersama Daddy, Mama." Pinta Emily dengan tatapan tak relanya.


"Ellia, biarkan Emily di sini. Lagipula Emily tidak menggangguku." Anders ikut bicara.


"Kau masih ingat apa yang di katakan Dokter Meitha tadi?" Tanya Ellia padanya.


"Emily akan menemani sampai Daddy tidur, bagaimana? Emily janji tidak akan mengganggu Daddy." Emily memohon sambil mengedip-ngedipkan mata hazelnya. Ellia menatap ayah dan anak itu bergantian. Kedua orang itu memang sulit di pisahkan jika sudah bersama.


"Baiklah, tapi Emily tidak boleh mengganggu Daddy. Biar Daddy istirahat, agar cepat sembuh." Akhirnya Ellia mengalah. Emily langsung tersenyum lebar.


"Baik, Mama. Ayo Daddy berbaring, Emily akan menemani sampai Daddy tidur." Ujarnya sambil mendorong pelan tubuh Anders agar berbaring kembali, Emily kemudian menarik selimut sampai menutupi dada Anders.


Cup.


Satu kecupan mendarat di kening Anders membuatnya tersenyum simpul. Perlakuan Emily padanya benar-benar manis.


"Mama, ayo cium Daddy. Biar Daddy cepat tidur." Pintanya sambil menarik tangan Ellia. Sedangkan Anders langsung menutup matanya, ia tidak peduli Ellia mau menciumnya atau tidak. Menggigitnya sekalipun rasanya tak masalah. Namun tiba-tiba...


Cup.


Satu kecupan hangat kembali mendarat di keningnya, Anders refleks membuka mata.


"Istirahatlah." Ucap Ellia setengah berbisik. Wanita itu kemudian beranjak keluar kamar.


"Daddy, ayo tutup matanya." Ucapan Emily menyadarkan Anders, pria itu tadi membeku saat menyadari Ellia mencium keningnya.


"Eh, iya sayang. Daddy tidur ya." Anders memejamkan matanya kembali.


Ellia melangkah menuruni tangga, dan berhenti di dua anak tangga terakhir. Ia duduk di sana.


"Daddy, Mommy, jangan tinggalkan aku. Alice.... Alice maafkan Kakak. Semua salah Kakak..."


Racauan Anders semalam masih terngiang di telinga Ellia.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga Anders? Aku benar-benar penasaran. Apa lagi Anders selalu menyebut nama Alice. Apa yang sudah terjadi dengannya? Di mana dia sekarang?"


Berbagai pertanyaan tentang keluarga Anders memenuhi kepala Ellia. Ellia juga tidak tahu harus bertanya pada siapa untuk mendapat jawabannya.


_


_


_


Siang harinya.


Senyum sedari tadi tertahan di bibir Anders, ketika istrinya kembali menyuapinya makan.


"Sebenarnya Ellia wanita yang baik, aku saja yang bodoh sudah merusaknya."


"Bagaimana Daddy, apa rasanya enak?" Tanya Emily yang juga berada di kamar memperhatikan Mama dan Daddynya.


"Sangat enak, sayang. Terima kasih sudah mau memasak untuk Daddy." Jawabnya sambil mencubit pelan hidung Emily, gadis kecil itu tertawa.


"Mama yang sudah memasaknya, Daddy. Emily tadi hanya melihat saja." Jawab Emily dengan polosnya. Dan itu semakin membuat Anders menahan senyumnya, untung saja Ellia tidak menyadarinya.


"Apa Emily sudah makan?" Tanyanya kemudian.


"Sudah, Daddy. Tadi Emily dan Mama makan lebih dulu." Jawab Emily.


......................


JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊