
"Fredy, maaf kan aku... Aku terpaksa menikah dengan Anders untuk mendapatkan seorang adik yang akan menjadi pendonor untuk Emily nantinya. Karena ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa Emily..." Lirih Ellia yang kemudian terisak, sedangkan Fredy membeku di tempatnya.
"Maafkan aku Fredy. Aku terpaksa mengambil keputusan ini..." Ucap Ellia di tengah tangisnya.
"Tidak apa Ellia..." Ucap Fredy dengan suara bergetar.
"Tapi aku sudah mengatakan pada Anders, kami akan langsung bercerai setelah Emily sembuh nanti. Aku juga tidak ingin terus terikat hubungan dengan laki-laki yang ku benci." Ucap Ellia yang seolah menghibur Fredy."Ellia, sebaiknya..."
"Kau masih mau menungguku kan? Kau masih mau menikah denganku kan?" Sela Ellia lebih dulu.
"Ellia..."
"Kau mau menungguku kan?" Desak Ellia kembali mengulang pertanyaannya. Fredy tidak jadi berucap, ia terdiam sejenak.
"Iya, Ellia. Aku akan menunggu kau dan Emily kembali kemari." Jawab Fredy kemudian.
"Terima kasih, Fredy. Setelah semuanya selesai, kita akan menikah." Ucap Ellia, Fredy tersenyum pahit mendengarnya.
"Ini sudah malam, sebaiknya kau istirahat. Kalau ada apa-apa kabari aku." Kata Fredy.
"Ya, selamat malam." Ellia dan Fredy menutup panggilannya.
Fredy menatap hampa layar ponselnya yang telah mati.
"Ternyata kau sudah menikah dengan Anders, lalu apa aku masih bisa berharap kau kembali?" Gumamnya. Fredy memejamkan matanya dan menggeleng pelan, kemudian di raihnya kunci mobil yang terletak di atas meja.
Sementara itu sepasang netra hazel terlihat berkaca-kaca di balik celah pintu kamar yang terbuka sedikit.
"Sebegitunya kah kau membenciku? Sampai kau memaksa Fredy untuk menunggumu seperti itu?" Rasa sesak kembali menyeruak di hati Anders, tadi tanpa sengaja Anders mendengar semua percakapan Ellia dan Fredy ketika dirinya hendak masuk ke dalam kamarnya.
Anders membuang nafas berat, sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya masuk ke kamar. Ellia yang menyadari kedatangannya meliriknya sejenak, Anders langsung menuju kamar mandi.
Pria itu membasuh wajahnya, menatap pantulan dirinya di cermin. Raut lelah dan putus asa tercetak jelas di wajahnya.
"Tenanglah, Anders. Semua akan baik-baik saja. Kau hanya tinggal menuruti semua keinginan Ellia agar dia tidak semakin membencimu."
Anders menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan hati dan fikirannya. Dan juga menyiapkan kesabaran ekstra untuk menghadapi Ellia.
_
_
_
"Apa yang bisa ku lakukan? Tangan Tuhan sendiri yang menyatukan kalian dalam ikatan pernikahan, takdir menginginkan kalian untuk bersatu." Fredy melangkah mendekati bangunan itu. Terbayang dulu dirinya dan Emily selalu membantu Ellia untuk mengisi stok barang, dan membersihkan ruko itu bersama.
"Sekeras apapun usahaku, tetap saja aku tidak bisa mendapatkanmu. Bahkan di saat kita hampir menikah. Dan Anders, sejauh apapun dia pergi nyatanya dia akan kembali padamu, Ellia."
Fredy menghela nafas panjang, kemudian berjalan kembali ke mobilnya.
"Sepertinya aku memang harus melepaskanmu. Apalagi ada Emily yang membutuhkan ayah kandungnya, bukan aku..."
Fredy masuk kembali ke dalam mobilnya, menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menyandarkannya di kemudi. Merelakan seseorang yang selama ini di cintainya untuk orang lain ternyata rasanya sangat menyakitkan.
"Semoga kau dan Emily bisa bahagia bersama Anders. Dan semoga Emily bisa cepat mendapat adik agar Emily bisa cepat sembuh dan ceria lagi seperti dulu." Doa Fredy tulus dalam hati.
_
_
_
Jika Fredy sedang berusaha untuk menguatkan hatinya, berbeda dengan sepasang pengantin yang baru saja melakukan malam pengantinnya.
Di sebuah kamar dengan cahaya temaram. Dua orang yang tidak pernah memiliki hubungan sebelumnya kini tengah terbaring bersama dalam satu ranjang.
Percintaan baru saja usai, punggung polos itu terlihat bergetar d iringi isak tangis tertahan. Malam pengantin seharusnya berlangsung dengan indah, tapi tidak bagi seorang Elliana. Lagi, dirinya kembali membiarkan seorang Anders Calvert menyentuhnya, memiliki tubuhnya.
"Ellia, kau baik-baik saja?" Tanya Anders khawatir karena istrinya terus menangis, Ellia yang semula membelakanginya seketika berbalik. Menatapnya dengan mata yang basah dengan air mata.
"Apa kau fikir aku akan baik-baik saja?" Ellia balik bertanya.
"Ellia..."
"Aku harus membiarkan laki-laki yang sudah menghancurkan hidupku kembali menyentuhku, demi menyelamatkan nyawa putriku. Apa kau fikir aku baik-baik saja?!" Tanya Ellia sarkastik.
"Apa kau menyesal? Bukannya ini keputusan yang sudah kau ambil?" Anders bertanya, menatap lekat pada Ellia.
"Menyesal? Hah! Ya, aku sangat menyesal karena telah mengenal seorang Anders Calvert! Dan aku harus selalu terlibat dengannya!"
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊