Ellia Im Sorry

Ellia Im Sorry
CHAPTER 61. JEFF & EMILY



Tok.Tok.Tok.


Suara ketukan pintu membuat ketiganya menoleh.


"Biar Emily yang buka." Gadis itu berlari kecil ke arah pintu, sedang Ellia kembali menyuapi suaminya meski wajahnya memasang tampang dingin.


"Paman Jeff?" Jeff berdiri di ambang pintu dengan beberapa berkas di tangannya.


"Selamat siang Nona Emily." Sapa Jeff balik, tapi matanya langsung tertuju pada Anders dan Ellia.


"Hah, lihat itu. Aku sibuk di kantor, sedangkan Bosku itu sedang asyik makan sambil disuapi oleh istrinya." Jeff menggerutu dalam hati.


"Ada apa, Paman Jeff?" Tanya Emily.


"Ehm, Paman mau bertemu dengan Daddy Emily karena ada perlu penting." Jawab Jeff.


"Baiklah, silakan masuk." Emily menggeser kakinya, memberi jalan pada Jeff. Jeff menghampir suami istri itu.


"Selamat siang Tuan Anders dan Nyonya Ellia." Sapa Jeff yang sudah berada di hadapan Anders dan Ellia.


"Mau apa kau ke sini?" Tanya Anders heran. Rasanya ia tak meminta Jeff untuk datang.


"Ada beberapa berkas yang harus Tuan tanda tangani dan Tuan periksa." Jeff menunjukkan berkas itu.


"Apa tidak bisa kau saja yang mengerjakannya?" Tanya Anders sedikit kesal, dirinya sedang sakit masih saja harus terlibat dengan pekerjaan.


"Tidak bisa Tuan. Lagipula ini berkas penting dan memang sudah tanggung jawab Tuan." Jawab Jeff datar. Anders mendengus, Jeff selalu saja mengganggunya.


"Tunggu saja di ruang kerjaku." Sahut Anders.


"Baik, Tuan." Jeff hendak berbalik namun Ellia memanggilnya.


"Jeff, apa kau sudah makan?" Tanyanya. Jeff menggeleng.


"Belum, Nyonya." Jawabnya. Ia memang belum makan siang, rencananya setelah dari tempat Anders ia baru akan makan siang.


"Sebaiknya kau makan dulu sambil menunggu Anders. Lagipula makan Anders juga belum habis." Ucap Ellia.


"Eh, itu tidak perlu Nyonya. Aku akan makan di luar saja nanti." Tolaknya segan.


"Tidak baik menolak tawaran dari istri atasanmu, Jeff." Anders ikut bicara.


"Paman Jeff, ayo makan. Biar Emily temani, atau Paman Jeff mau Emily suapi seperti Daddy?" Tanya Emily sambil menarik tangan Jeff. Pemuda itu jadi tak kuasa untuk menolaknya.


"Iya, Nona. Paman akan makan, tapi tidak perlu disuapi." Jawab Jeff sambil melirik ke arah Anders. Tapi sepertinya Anders tak peduli.


"Ya sudah, ayo Paman." Emily membawa Jeff keluar dari kamar.


_


_


_


Jeff menikmati makan siangnya sambil sesekali melirik Emily yang masih setia menemaninya. Gadis itu duduk sambil melipat kedua tangannya di atas meja.


"Nona, mau?" Tanyanya, Emily menggeleng.


"Tidak, Emily sudah makan tadi." Jawabnya.


"Kenapa Paman Jeff memanggil Nona pada Emily?" Tanya Emily sambil menatap Jeff.


"Karena Nona adalah putri dari Tuan Anders. Dan Tuan Anders adalah atasan Paman." Jawab Jeff, ia memperhatikan wajah mungil itu.


"Sangat mirip dengan Alice." Batinnya. Jeff seakan melihat Alice yang terlahir kembali, hanya warna matanya saja yang berbeda.


"Mau Nona Emily putri kandung atau bukan, tetap saja Nona Emily putri Tuan Anders. Jadi sudah kewajiban Paman untuk memanggil Nona." Jawab Jeff, Emily mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Andai saja Alice masih hidup..."


"Paman? Paman kenapa melamun?" Tanya Emily yang melihat Jeff terdiam.


"Tidak, Paman tidak melamun." Jeff mengelak.


"Tadi Paman diam saja."


"Paman sedang berfikir. Oh ya, Nona. Kenapa Daddy Nona bisa sakit?" Tanya Jeff. Emily terlihat berfikir sambil mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk.


"Mungkin kehujanan. Semalam Emily menunggu Daddy pulang, tapi sampai jam sembilan Daddy tidak pulang-pulang." Jawabnya.


"Lalu Daddy pulang jam berapa?"


"Emily tidak tahu." Gadis kecil itu menggeleng.


"Lalu tadi pagi, Mama bilang Daddy sakit dan sedang di periksa Tante Dokter." Lanjunya.


"Tante Dokter?" Jeff mengerutkan keningnya.


"Tante Meitha." Jawab Emily menjelaskan.


"Oh... Kenapa Daddy tidak di bawa ke rumah sakit?" Jeff jadi banyak bertanya. Mengobrol dengan Emily ternyata cukup menyenangkan.


"Daddynya tidak mau, Paman. Daddy ingin di rumah." Jawab Emily.


"Bilang saja Tuan Anders tidak mau jauh dari Nyonya Ellia."


"Paman, makanan di piring Paman sudah habis. Apa mau tambah?" Tanya Emily yang melihat piring Jeff sudah nampak kosong.


"Oh sudah habis ya?" Jeff malah tidak menyadari kalau makanannya sudah tandas tak bersisa karena terlalu asyik mengobrol dengan putri atasannya itu.


"Ayo tambah, Paman. Mama bilang harus banyak makan biar cepat besar." Ujar Emily. Jeff tertawa mendengarnya.


"Paman sudah besar, Nona. Mau sebesar apalagi?" Tanya Jeff di sela tawanya.


"Memang usia Paman berapa? Usia Emily sebentar lagi tujuh tahun." Tanya Emily sambil mengangkat tujuh jari tangannya, ada saja bahan pembicaraannya.


"Usia Paman dua puluh dua tahun, Nona." Jawab Jeff. Terlihat Emily menghitung jari-jari tangannya.


"Berarti kita beda lima belas tahun ya Paman?" Tanya Emily yang sudah selesai menghitung.


"Iya, benar. Wah Nona Emily pandai, sudah bisa berhitung." Puji Jeff sambil bertepuk tangan.


"Terima kasih atas pujiannya, Paman."


"Jeff." Panggil Ellia yang baru saja datang.


"Iya Nyonya." Jeff bangun dari duduknya.


"Anders sudah menunggumu di ruang kerjanya." Ujar Ellia yang duduk di samping Emily.


"Baik, Nyonya. Nona kecil, Paman permisi dulu." Pamit Jeff pada Emily.


"Ya, Paman. Paman jangan terlalu lama mengajak Daddy bekerja, nanti Daddy tidak sembuh-sembuh." Timpal Emily.


"Tentu, Nona. Paman hanya meminjam Daddy Nona sebentar saja."


......................


JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊