
Fredy memperhatikan Anders, rasanya wajahnya tidak asing, apalagi mata hazel pria itu.
"Kau tahu Fred, dulu Anders adalah playboy paling terkenal di sekolah." Ujar Ellia.
"Benarkah?"
"Hei itu sudah lama. Sekarang aku sudah berubah, aku bukan playboy lagi." Anders mengelak.
"Oh ya? Apa kau sudah menikah?" Tanya Ellia.
"Tentu saja. Tapi sayangnya aku belum menikah." Jawab Anders dengan wajah yang di buat sedih.
"Kenapa kau belum menikah? Kau sudah sangat mapan." Tanya Ellia, Anders mengangakat bahunya sebagai jawaban.
"Aku belum menemukan yang tepat." Jawab Anders sekenanya. Ellia hanya menggeleng. Ia tahu, dulu hampir seluruh siswi di sekolahnya menyukai seorang Anders Calvert. Jadi tidak mungkin jika Anders belum menemukan wanita yang tepat, lelaki itu pasti terlalu pemilih!
"Fred, kau ingat restoran kemarin tempat kita makan? Ternyata itu milik Anders." Ellia mengalihkan pandangannya pada Fredy.
"Oh, jadi restoran itu milikmu? Itu artinya, kau pemilik hotelnya juga?" Tanya Fredy pada Anders.
"Ya, bisa di bilang begitu." Sahutnya. Anders melihat arloji yang melingkar di tangannya.
"Ini sudah waktunya makan siang, bagaimana kalau aku mentraktir kalian makan siang di restoranku? Anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karena semalam kalian telah menolongku." Kata Anders.
Ellia dan Fredy saling menatap, dan keduanya mengangguk.
"Tentu, kami tidak menolak." Jawab Fredy.
Mereka berlima kemudian berangkat menggunakan mobil Anders.
_
_
_
AC Resto
"Kita makan di sini lagi?" Tanya Emily begitu duduk di restoran mewah itu, matanya terlihat berbinar. Itu membuat Anders tersenyum dalam hati.
"Iya Emily, apa kau suka?" Tanya Anders.
"Aku suka sekali Paman. Restoran ini bagus sekali, dan makanan di sini juga sangat lezat." Jawab Emily begitu antusias.
"Kalau begitu, kau boleh datang kesini kapan pun kau mau." Kata Anders.
"Benarkah?" Mata hazel itu berkedip menatap Anders.
"Tentu, restoran ini milik Paman. Dan kau boleh datang dan makan apapun yang kau inginkan." Jawab Anders di iringi senyuman di wajah tampannya.
"Restoran ini milik Paman?" Ulang Emily terlihat raut tak percaya di wajah mungilnya.
"Iya, sayang." Sahut Anders sambil mengusap lembut rambutnya.
Fredy memperhatikan interaksi antara keduanya, dan ia sadar akan sesuatu.
"Akh... Ya, aku baru sadar, ternyata wajah Anders mirip dengan Emily. Bukan hanya wajah, tapi warna mata mereka sama-sama berwarna hazel. Tunggu, apa jangan-jangan...?" Batin Fredy menduga-duga sambil menatap Emily dan Anders bergantian. Sementara Ellia masih sibuk melihat buku menu, memilih makanan apa yang akan dipilihnya.
Selama makan siang, Anders begitu melayani Emily dengan baik. Ia mengambilkan makanan untuk gadis kecil itu, dan juga membersihkan bibir Emily yang nampak ada sisa makanan. Dan itu tak luput dari perhatian Fredy dan Ellia.
Fredy semakin merasa curiga pada Anders, sementara Ellia merasa senang ada orang yang peduli pada putrinya.
"Anders, terima kasih atas makan siangnya." Ucap Ellia begitu acara makan siang mereka selesai.
"Sama-sama. Terima kasih juga karena kalian telah menolongku semalam." Balas Anders. Lelaki itu menunduk, mensejajari tingginya dengan Emily.
"Emily, ini untukmu." Anders menyerahkan paper bag yang dibawanya.
"Ini menu spesial di restoran ini. Kau bisa memakannya nanti." Jawab Anders sambil tersenyum.
"Terima kasih, Paman. Aku pasti akan memakannya, karena makanan di sini sangat lezat." Ujar Emily dengan binar di wajahnya, Anders mengusap pelan rambut Emily. Kemudian menarik gadis kecil itu ke dalam pelukannya.
"Putriku... Tidak salah lagi, kau adalah putriku, Emily. Maafkan aku yang baru mengetahui keberadaanmu." Batin Anders terasa sesak.
Nyaman. Itulah yang di rasakan Anders dan Emily. Rasanya Anders tak ingin melepaskan pelukan itu. Keduanya pun tak lepas dari tatapan heran dari Ellia dan Fredy.
"Kenapa mereka berdua mudah sekali akrab?" Tanya Ellia dalam hati. Selama ini Emily tidak mudah akrab dengan orang asing, hanya dengan keluarga Fredy saja Emily dekat.
"Aku semakin yakin dengan dugaanku." Batin Fredy dengan tatapannya yang mengintimidasi.
"Jeff akan mengantar kalian pulang." Ujar Anders begitu melepaskan pelukannya pada Emily.
"Tidak perlu Anders, kami tidak ingin merepotkanmu." Tolak Ellia.
"Sama sekali tidak, Ellia. Tunggulah sebentar, Jeff sedang mengambil mobil."
"Baiklah." Sahut Ellia pasrah.
_
_
_
Malam harinya. Anders menatap kosong pada langit-langit kamarnya yang putih bersih.
"Tidak ku sangka, ternyata perbuatanku dulu pada Ellia membuahkan seorang putri. Bagaimana Ellia menjalani kehidupannya dulu? Maafkan aku Ellia, kau pasti sudah menjalani hidup yang berat karena perbuatanku..."
"Seandainya aku jujur mengatakan kalau aku adalah ayah kandung dari Emily, apa Ellia mau menerimaku? Atau malah membenciku?"
"Apa aku simpan dulu rahasia ini sampai aku bisa dekat dengan mereka berdua? Ya, sebaiknya begitu. Karena kini hanya mereka berdualah yang ku miliki. Aku tidak ingin kehilangan mereka..."
_
_
_
Seminggu pun berlalu, hampir setiap hari Anders berkunjung ke ruko Ellia. Dan dirinya semakin dekat dengan Emily, tak jarang Anders membawakan berbagai macam mainan dan makanan untuk gadis kecil itu. Anders juga selalu mengajak Emily untuk berjalan-jalan walaupun tak jauh. Dan Emily begitu bahagia di buatnya.
Sebenarnya Ellia sendiri merasa heran, kenapa Emily begitu mudah akrab dengan Anders. Tapi ia tak ingin memikirkan hal itu, asal Emily bahagia itu sudah cukup untuknya. Lagipula Anders juga terlihat tulus menyayangi putrinya.
"Anders, apa Emily tak menyusahkanmu? Hampir tiap hari kau kemari, dan selalu bawa banyak mainan dan makanan." Tanya Ellia sambil meletakkan segelas kopi panas di atas meja. Rukonya sudah tutup sepuluh menit yang lalu. Namun lampunya masih menyala dan pintunya belum di kunci. Dan Emily sudah tertidur di lantai atas.
"Sama sekali tidak, Ellia. Selama Emily menyukai apa yang ku bawa. Itu sudah cukup bagiku." Jawab Anders. Pria itu tersenyum, menambah kadar ketampanannya.
Jantung Ellia berdetak lebih cepat melihat senyuman Anders. Tak bisa di pungkiri, ia memang sempat menaruh hati pada pria itu pada saat sekolah dulu. Karena Anders satu-satunya murid yang tak pernah menghina dan menjahili dirinya. Tapi ia cukup sadar diri untuk tidak berharap lebih, dan memilih untuk memendam perasaannya. Lagipula itu hanya masa lalu.
"Oh ya, di mana Fredy? Rasanya aku tidak pernah melihatnya?" Tanya Anders sambil menyesap kopinya.
"Fredy? Dia sedang ke luar kota karena ada pekerjaan di sana." Jawab Ellia. Anders mengangguk-anggukan kepalanya.
"Apa kau punya hubungan dengan Fredy?" Tanya Anders, tatapannya terlihat menyelidik.
"Hubungan?" Ellia balik bertanya.
"Ya, awalnya ku kira dia suamimu. Namun sekarang ku pikir dia adalah kekasihmu?"
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊