Ellia Im Sorry

Ellia Im Sorry
CHAPTER 10. WAJAH YANG TIDAK ASING



TING.


Bel pintu ruko itu berbunyi, menandakan seseorang yang masuk.


"Selamat datang." Suara gadis kecil itu menyapa. Sementara Anders terpaku di tempatnya berdiri. Memandang seorang gadis kecil yang sedang duduk di depan meja kasir.


"Tuan?" Suara Jeff menyadarkannya.


"Ehm." Anders kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam ruko tersebut, mendekati meja kasir.


"Halo Tuan, apa Tuan mencari sesuatu? mungkin Emily bisa membantu?" Tanya Emily dengan sopan. Pandangan keduanya bertemu, kedua mata hazel itu saling menatap. Anders kembali terdiam memandang wajah mungil itu.


DEG


Anders merasakan getaran aneh di hatinya. Sepasang mata hazel itu berkedip-kedip dan masih menatapnya. Sementara Jeff hanya memperhatikan mereka berdua.


"Halo Tuan, apa yang Tuan cari?" Tanya Emily kembali. Anders tersadar, mata hazel miliknya mengerjap.


"Aku..."


"Emily, siapa yang datang?" Tanya Ellia menghampiri mereka berdua.


"Anders?" Ellia menatap lelaki yang berdiri tak jauh darinya.


Anders mengalihkan pandangan pada Ellia. Wanita itu masih sama seperti dulu, berpenampilan sederhana dengan kacamata tebalnya.


"Ellia, kau..." Lidah Anders mendadak kelu. Ia seakan tak mampu untuk bicara.


"Anders, bagaimana keadaanmu?" Tanya Ellia, ia melihat pelipis Anders yang terbalut perban.


"Aku... Aku baik-baik saja." Jawab Anders tergagap. Tatapannya tak lepas dari wanita itu.


"Terima kasih karena telah menolongku semalam." Sambungnya.


"Sama-sama." Ellia menerbitkan senyumnya. Melihat reaksi Ellia, Anders yakin kalau Ellia tak mengetahui perbuatannya di masa lalu.


"Kau masih ingat aku?" Tanya Anders.


"Tentu. Kau Anders Calvert Willians, kita pernah satu sekolah dulu." Jawab Ellia.


"Ternyata kau masih mengingatku. Ku fikir kau lupa." Sahut Anders.


"Kau juga masih mengingatku?'' Ellia balik bertanya.


"Elliana Scherie, itu namamu kan?" Tanya Anders.


"Ya, ternyata kau masih ingat namaku. Ku fikir kau hanya ingat dengan gadis-gadis cantik di sekolah kita saja." Timpal Ellia di irirngi tawa. Sedikit tak percaya jika Anders masih mengingat namanya, bahkan nama lengkapnya.


"Mama, siapa Paman ini?" Tanya Emily menyela, gadis kecil itu memiringkan kepalanya menatap Anders, Ellia beralih menatap putrinya.


"Em, Paman ini dulu teman sekolah Mama, sayang." Jawab Ellia.


"Hai, namaku Anders. Siapa namamu?" Anders memperkenalkan diri, mengusap pelan rambut gadis kecil itu.


"Hai Paman Anders, namaku Emily." Jawabnya, terlihat begitu menggemaskan di mata Anders.


"Lalu siapa Paman yang di belakang?" Tanya Emily sambil menunjuk ke arah Jeff yang masih setia berdiri di belakang Anders.


"Namanya Jeff, Paman ini sekretarisku, Emily." Anders menjawab, sedangkan Jeff hanya mengangguk kecil. Wajah Emily mengingatkan Jeff pada seseorang.


"Sekretaris? Wah Paman Anders hebat bisa punya sekretaris." Ucap Emily dengan kekaguman di matanya. Itu tidak bisa membuat Anders untuk tidak tersenyum.


"Ellia, apa dia putrimu?" Tanya Anders yang beralih pada Ellia. Wanita muda itu mengangguk.


"Iya, dia putriku." Jawabnya.


"Kapan kau menikah? Kenapa tidak mengundangku?" Tanya Anders membuat wajah Ellia mendadak berubah suram. Sedangkan Jeff dan Emily hanya memandang mereka berdua.


"Paman, Mama belum menikah." Suara gadis kecil itu menjawab. Karena Ellia hanya diam saja.


"Paman Fredy selalu mengajak Mama untuk menikah, tapi Mama tidak mau." Celotehnya.


"Emily..." Ellia memberi isyarat agar putrinya diam.


"Tapi Paman Anders sedang bertanya, Ma. Dan kata Mama, kalau ada orang yang bertanya kita harus menjawab." Gadis kecil itu melayangkan protes.


"Tapi Paman Anders kan bertanya pada Mama, sayang..." Gemas Ellia.


"Tapi kan Mama diam saja. Jadinya Emily yang menjawab." Sahut Emily, gadis kecil itu tidak mau kalah ternyata.


"Kau belum menikah?" Tanya Anders menatap dalam mata cokelat milik Ellia yang terhalang kacamata. Ellia diam, dan hanya menjawab dengan senyum getir di wajahnya.


Anders mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak lebih cepat, dugaan awalnya tak mungkin salah.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Ellia, ia meletakan dua minuman ringan di atas meja. Mereka duduk di sudut ruko yang memang menyediakan tempat duduk untuk para pengunjung.


"Terima kasih." Jawab Anders dan Jeff bersamaan.


"Aku sedang membuka usaha di sini." Jawab Anders sebelum meneguk minuman yang di berikan Ellia.


"Usaha?" Ellia duduk bergabung dengan dua pria itu. Sementara Emily masih duduk menunggu kasir.


"Ya, aku baru saja membuka restoran di sini." Jawab Anders.


"Restoran? Apa maksudmu restoran AC yang baru buka itu?" Tanya Ellia.


"Ya, Anders Calvert Resto atau AC resto." Jawabnya. Ellia melebarkan matanya,


"Wah, aku tak menyangka kalau restoran mewah itu milikmu. Itu artinya hotel AC juga milikmu?" Tanya Ellia yang mengingat kalau AC bukan hanya membuka restoran, tapi juga hotel yang hampir rampung pembangunannya.


"Ya, bisa di bilang begitu. Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini?" Anders balik bertanya.


"Aku bekerja dan tinggal di ruko ini." Jawab Ellia.


"Tinggal di sini?" Tanya Anders. Sementara Jeff hanya menyimak dan menjadi pendengar yang baik sambil sesekali menyesap minumannya.


"Ya, setelah ibuku meninggal aku pindah ke kota ini. Sekitar tujuh tahun yang lalu." Wajah Ellia berubah sedih, tapi masih ada senyum di sana.


"Maaf, aku tak bermaksud..." Anders merasa tak enak.


"Tidak apa. Lagipula itu sudah lama." Ellia kembali menerbitkan senyumnya.


TING.


Bel ruko itu kembali berbunyi.


"Hai Paman Fredy." Sapa Emily riang.


"Hai princess." Sapa Fredy kembali.


"Di mana Mama mu?" Tanyanya.


"Itu di sana. Sedang duduk bersama Paman Anders dan Paman Jeff." Jawab Emily sambil menunjuk ke sudut ruangan.


"Anders?" Ulang Fredy.


"Ya, Paman Anders. Apa Paman Fredy mengenalnya juga? Mama bilang Paman Anders teman sekolahnya dulu." Tanya Emily. Sementara Fredy terlihat berfikir.


"Jadi Anders adalah teman sekolah Ellia? Pantas saja Ellia bilang semalam kalau ia seperti mengenalnya." Batin Fredy.


"Paman tidak mengenalnya, Emily. Paman ke sana dulu ya." Ucap Fredy.


"Ok, Paman." Sahut Emily.


Fredy melangkah menghampiri ketiga orang tersebut.


"Selamat siang." Sapa Fredy yang kemudian ikut duduk bergabung bersama mereka bertiga.


"Hai Fred." Balas Ellia.


"Tuan Fredy, selamat siang." Sapa Anders.


"Selamat siang Tuan Anders, Tuan Jeff."


"Bagaimana keadaan anda, Tuan?" Tanya Fredy.


"Panggil Anders saja. Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menolongku semalam." Ucap Anders tulus.


"Ya, sama-sama. Emily bilang, kalau ternyata kalian teman sekolah?" Tanya Fredy.


"Ya, dulu kami satu sekolah." Jawab Anders. Fredy memperhatikan Anders, rasanya wajahnya tidak asing, apalagi mata hazel pria itu.


"Kau tahu Fred, dulu Anders adalah playboy paling terkenal di sekolah." Ujar Ellia.


"Benarkah?"


"Hei itu sudah lama. Sekarang aku sudah berubah, aku bukan playboy lagi." Anders mengelak.


......................


JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊