
"Jeff, pastikan setiap pengunjung mendapatkan pelayanan yang terbaik." Ucap Anders yang berdiri di bawah tangga sambil memperhatikan para pengunjung di sana.
"Baik Tuan." Jeff mengangguk.
Anders mengedarkan pandangannya melihat para pengunjung restorannya, tapi mendadak pandangannya berhenti di salah satu meja yang berada di sudut ruangan.
Di sana terlihat seorang perempuan muda berkacamata, seorang pria dan juga seorang anak perempuan.
Anders menajamkan penglihatannya, untuk memastikan dirinya tak salah lihat.
"Ellia?" Gumamnya pelan. Tidak salah, perempuan itu adalah Ellia!
"Ada apa Tuan?" Tanya Jeff. Namun Anders tak menjawab, pandangannya masih terpaku pada Ellia.
"Tuan ada apa? Apa Tuan sakit?" Tanya Jeff lagi yang melihat Tuannya mendadak terdiam dengan wajah yang berubah pucat.
"Tuan Anders, anda baik-baik saja?" Jeff terlihat khawatir karena Anders masih saja berdiri mematung. Anders seketika tersadar.
"Aku baik-baik saja." Jawab Anders tapi pandangannya tak beralih dari meja Ellia.
"Ellia berada di kota ini? Dia sudah menikah dan juga memiliki anak?" Anders bertanya-tanya dalam hati.
"Tuan?" Panggil Jeff lagi.
"Ehm, Jeff aku kesana sebentar." Anders pergi begitu saja meninggalkan Jeff. sekretaris itu hanya bisa menatap Tuannya penuh tanya.
Dengan langkah lebar Anders berjalan menuju meja Ellia. Dilihatnya Ellia yang sedang menikmati makanannya sambil sesekali menyeka bibir anak perempuan yang duduk di sebelahnya. Langkah Anders terhenti saat jarak keduanya hanya terpaut dua meter saja.
Pandangan Anders beralih pada gadis kecil yang duduk di samping Ellia, seorang anak perempuan yang sangat cantik. Berambut cokelat mirip dengan Alice, adik perempuannya yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. Sangat kontras jika di bandingkan dengan Ellia yang memiliki rambut hitam legam.
Anders menatap gadis kecil itu lebih dalam, jika di perhatikan ia memang benar mirip dengan Alice. Jantung Anders berdetak lebih kencang saat sadar ternyata gadis kecil itu memiliki mata berwarna hazel seperti dirinya. Prasangka itu tiba-tiba melesak ke dalam fikirannya. Apa jangan-jangan perbuatannya malam itu...
"Ini tidak mungkin." Anders menggeleng pelan, tatapan masih tak beralih dari gadis kecil itu.
_
_
_
Ellia, Emily dan juga Fredy sudah selesai dengan makan siangnya.
"Makanannya sangat lezat, Mama. Bisa kita kemari lagi lain hari?" Tanya Emily begitu keluar restoran, manik hazelnya mengedip penuh harap.
"Tentu baby, kita akan kemari lagi." Jawab Ellia dengan senyumnya. Ellia juga merasa senang, akhirnya ia bisa makan makanan mewah dengan harga terjangkau.
"Nanti giliran Paman yang akan mentraktir kalian." Sambung Fredy.
"Oke Paman, nanti aku akan memesan makanan yang banyak..." Emily mengangkat tangannya membentuk lingkaran di udara.
"No Emily, kau tidak boleh serakah. Makan seperlunya saja, okey?" Timpal Ellia. Emily mengerucutkan bibirnya mendengar nasihat sang ibu.
"Okey Mama." Jawabnya.
Tanpa mereka sadari, dari jauh Anders terus memperhatikan mereka. Lelaki itu nampak ragu untuk menyapa Ellia lebih dulu.
"Apa pria tadi suami Ellia? Dan gadis kecil itu adalah anak mereka? Tapi kenapa gadis kecil itu mirip dengan Alice dan matanya, matanya berwarna hazel seperti mataku?"
Batin Anders bertanya-tanya, ia ragu dan juga takut untuk menemui Ellia. Padahal selama ini dirinya selalu berniat untuk mencari keberadaan Ellia, tapi begitu wanita itu ada di depan matanya Anders malah merasa takut.
Bagaimana kalau Ellia mengetahui perbuatannya tujuh tahun yang lalu?
_
_
_
Anders berjalan bolak-balik di kamarnya. Fikirannya tak dapat tenang setelah melihat Ellia siang tadi. Batinnya berkecamuk, hatinya gelisah memikirkan gadis kecil yang bersama Ellia.
"Siapa gadis kecil itu? Kenapa begitu mirip dengan Alice?" Pertanyaan itu terus menerus menghantui benaknya.
Pria itu kemudian menyambar kunci mobil di atas meja, sepertinya keluar mencari udara segar dapat menenangkan fikirannya.
"Tuan mau kemana?" Tanya Jeff yang masih berkutat dengan laptopnya.
"Aku ingin keluar mencari udara segar, Jeff." Jawab Anders yang sudah bersiap untuk pergi.
"Mau aku antar?" Tawar Jeff.
"Tidak perlu Jeff, kau selesaikan saja pekerjaanmu." Tolak Anders.
"Apa Tuan tahu jalan di sini? Tuan kan baru tiba di sini?" Tanya Jeff yang terlihat ragu.
"Ck, Jeff aku ini bukan anak kecil. Aku tidak akan tersesat. Kau tenang saja." Ucap Anders yang langsung berjalan keluar.
_
_
_
Jalan terlihat sedikit gelap, walau ada beberapa lampu penerangan jalan. Anders memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, jalanan di kota itu tidak terlalu ramai.
Fikiran Anders kembali melayang, mengingat Ellia. Perbuatannya tujuh tahun yang lalu pada gadis itu membuatnya selalu di hantui rasa bersalah, sebenarnya ia ingin menemui Ellia dari dulu. Tapi keadaan selalu seakan tak mengizinkannya untuk menemui gadis itu.
Anders yang sedang menyetir sambil melamun mendadak terkejut saat hendak berbelok ada sepeda motor yang melaju kencang dari arah berlawanan. Pria itu refleks membanting stir dan menginjak rem, membuat mobilnya berhenti mendadak di pinggir jalan.
"Akh!" Pria itu berdesis saat keningnya membentur stir mobilnya dengan cukup keras karena dirinya tadi tidak memakai sabuk pengaman. Dan tak lama terlihat darah segar mengalir di pelipisnya.
"Sakit sekali." Desis Anders, ia mengusap darah yang mengalir di pelipisnya
Pria itu duduk bersandar di jok mobilnya. Memejamkan mata, mencoba meredakan rasa pusing yang mulai melanda.
Tok. Tok. Tok.
Anders kembali terkejut saat ada seseorang yang mengetuk kaca jendela mobilnya. Refleks ia membuka mata dan menoleh, namun Anders semakin terkejut saat melihat siapa orang itu.
_
_
_
Seorang pria nampak berbaring di brankar salah satu klinik. Ia tak sadarkan diri setelah mengalami kecelakaan kecil tadi. Seorang wanita dan pria berdiri di sampingnya.
"Apa kau mengenalnya?" Tanya Fredy pada Ellia.
"Sepertinya wajahnya tidak asing. Tapi aku lupa pernah melihatnya di mana." Wanita muda itu terlihat sedang berusaha mengingat pria yang terbaring di depannya. Rasanya ia pernah melihat wajah itu, tapi entah di mana.
"Kenapa dia bisa sampai pingsan di dekat ruko?" Tanya Fredy lagi, Ellia mengangkat bahunya.
"Tadi aku hanya melihat mobilnya yang tiba-tiba oleng dan berhenti di tepi jalan. Saat aku ketuk kaca mobilnya, dia masih sadar namun kemudian dia pingsan." Terang Ellia.
Tadi ketika hendak menutup ruko Ellia tak sengaja melihat sebuah mobil yang mendadak oleng dan berhenti tak jauh dari tempatnya. Bermaksud menolong dan memastikan pengemudi itu baik-baik saja, Ellia menghampirinya.
Namun tiba-tiba saja pengemudi mobil itu pingsan saat melihat dirinya, membuat Ellia panik dan langsung menghubungi Fredy. Meminta bantuan Fredy untuk menolongnya dan membawa pria itu ke klinik terdekat.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊