
"Semoga putriku baik-baik saja." Batin Anders terus mengucap kata-kata itu. Tak bisa di pungkiri ia pun sama khawatirnya dengan Ellia.
Ellia sudah merasa lebih tenang sekarang, pandangannya beralih pada Anders yang masih berdiri di tempatnya. Kemudian ia beranjak dari duduknya menghampiri Anders.
"Kenapa kau masih di sini?" Tanyanya begitu sinis.
"Karena aku ingin tahu apa yang terjadi pada putriku." Jawab Anders.
"Kau tidak perlu berpura-pura peduli seperti itu." Sinis Ellia lagi. Sementara Jeff dan Fredy hanya memperhatikan keduanya.
"Ellia, kenapa kau selalu berfikiran buruk padaku? Bagaimanapun Emily adalah putriku, apa salah kalau aku mengkhawatirkannya?" Tanya Anders dengan tatapan sendunya.
"Kau boleh membenciku, tapi kau tidak bisa menyangkal kalau akulah ayah kandung dari putrimu." Lanjut Anders penuh penekanan yang langsung mendapat tatapan tajam dari Ellia. Berani sekali pria itu mengaku-aku walau itu memang faktanya.
"Kau..." Ellia menggeram, kedua tangannya mengepal. Ingin sekali rasanya mencakar-cakar wajah pria di hadapannya itu.
Klek. Pintu ruangan itu terbuka, menghentikan Ellia yang hendak memaki Anders. Wanita itu berbalik dan menghampiri dokter yang baru keluar dari sana di ikuti Anders dan Fredy.
"Dokter, bagaimana keadaan putriku?" Tanya Ellia yang sudah harap-harap cemas.
"Pasien di diagnosa menderita kanker sel darah putih atau leukimia."
DEG
Ketiga orang itu langsung membeku mendengar jawaban sang dokter.
"Leukimia?" Tanya Ellia dengan suara bergetar.
Bagaimana bisa tiba-tiba putrinya menderita penyakit mematikan itu? Bukannya selama ini Emily sehat-sehat saja? Dan putri kecilnya itu selalu ceria, tapi kenapa mendadak sakit seperti ini?
"Iya, Nyonya. Tapi sebaiknya pasien menjalani pemeriksaan lanjutan." Jawab dokter wanita paruh baya tersebut.
"Dokter, lakukan yang terbaik untuk putriku." Ucap Anders, dokter itu mengalihkan pandangannya pada Anders.
"Maaf Tuan. Rumah sakit ini hanya rumah sakit kecil, dan kami tidak memiliki peralatan yang lengkap. Kalau Tuan mau, Tuan bisa membawa pasien ke rumah sakit lain di luar kota untuk melakukan pemeriksaan lanjutan dan perawatan yang lebih baik." Terangnya.
"Apa? Bagaimana bisa rumah sakit ini tidak memiliki peralatan yang lengkap?" Tanya Anders yang mulai emosi.
"Maaf, Tuan. Ini hanyalah sebuah rumah sakit kecil di sebuah kota kecil. Jadi sangat wajar jika peralatan di rumah sakit ini tidak lengkap. Saya permisi." Dokter tersebut undur diri. Anders mengusap kasar wajahnya, sementara Ellia terduduk lemas di kursi.
"Ellia, Emily akan baik-baik saja. Kita akan melakukan yang terbaik untuk Emily." Fredy kembali mencoba menenangkan Ellia.
"Fredy, tolong lakukan sesuatu untuk putriku. Ayo kita bawa Emily berobat ke luar kota." Pinta Ellia memelas.
"Tenang Ellia, kita akan fikirkan caranya." Sahut Fredy.
"Bahkan Ellia lebih memilih memohon pada Fredy. Padahal Emily adalah putriku." Batin Anders memandang sendu keduanya.
Anders berfikir sejenak, kemudian ia ingat kalau dirinya memiliki sebuah rumah sakit besar di kotanya. Kenapa tidak membawa Emily ke sana saja?
Anders berjalan menghampiri Ellia dan berjongkok di hadapannya.
"Ellia, kita bisa membawa Emily ke Willians Hospital. Rumah sakit keluargaku yang berada di pusat kota, di sana peralatannya sangat lengkap." Ujar Anders memberi solusi.
"Aku tidak butuh bantuanmu!" Seru Ellia kemudian membuang pandangannya.
"Ellia, Emily sedang sakit parah seperti ini. Kenapa..."
"Sudah ku bilang, aku tidak butuh bantuanmu!" Ellia menyela lebih dulu sebelum Anders selesai bicara. Anders mencoba menahan dirinya untuk tidak ikut emosi.
"Ellia, kau boleh membenciku. Tapi untuk sekarang, aku mohon kesampingkan dulu rasa bencimu itu. Emily sedang membutuhkan perawatan untuk penyakitnya. Izinkan aku untuk membawa Emily ke Willians Hospital, agar Emily mendapat perawatan yang terbaik. Izinkan aku melakukan sesuatu untuk putriku." Ucapnya memohon.
"Apa rasa bencimu itu lebih penting daripada nyawa putrimu sendiri?" Sambungnya.
Ellia terdiam mendengar pertanyaan Anders. Tentu saja tidak ada yang lebih penting di dunia ini selain putrinya.
"Ellia, benar kata Anders. Sebaiknya Emily di bawa ke Willians Hospital." Fredy ikut bersuara. Terlihat kebingungan di mata wanita muda itu.
"Fredy, aku tidak ingin lagi berurusan dengannya." Ucap Ellia sambil berbisik, Fredy tersenyum tipis.
"Biarkan Anders melakukan tugasnya sebagai seorang Ayah." Ujarnya.
"Kau dan Fredy bisa ikut denganku kalau kalian tidak percaya padaku." Kata Anders yang kemudian beranjak berdiri. Ellia dan Fredy saling memandang. Terlihat Fredy mengangguk pelan. Ellia membuang nafas berat. Sepertinya tidak ada pilihan lain. Kalaupun ia dan Fredy membawa Emily ke luar kota belum tentu juga Emily akan mendapatkan perawatan yang terbaik.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊