Ellia Im Sorry

Ellia Im Sorry
CHAPTER 49. KENAPA MENYALAHKAN KU?



"Tuan tidak mungkin memecatku, karena Tuan tidak bisa bekerja kalau tidak ada diriku." Timpal Jeff dengan santainya. Anders menganga di buatnya.


"Cih, percaya diri sekali." Anders mengerutu, walaupun memang begitu kenyataannya.


"Bagaimana dengan Nonya Ellia, Tuan? Apa Nyonya Ellia sudah menjinak?" Tanya Jeff lagi.


"Jinak apanya? Apa kau tidak bisa melihat setiap Ellia melihatku, rasanya dia ingin memakanku hidup-hidup." Timpal Anders sambil bersungut. Jeff kembali tertawa, menyenangkan sekali rasanya menggoda bosnya itu.


"Tapi kan Tuan sudah berhasil menaklukan Nyonya Ellia di atas ranjang, seharusnya Nyonya Ellia sudah lebih jinak sekarang." Sahut Jeff dengan entengnya, tanpa mempedulikan ekpresi dari bos nya itu.


"Jeff, kau benar-benar..." Anders merasa gemas sekali pada sekretarisnya, ingin sekali rasanya mencakar-cakar wajah Jeff yang sangat menyebalkan baginya.


"Okey, maaf Tuan. Aku tidak menggodamu lagi." Jeff kembali fokus pada layar komputernya.


"Jeff, pesan kan aku makanan." Titah Anders. Jeff kembali menoleh ke meja Anders yang berada di sebelahnya.


"Untuk apa, Tuan?" Tanya Jeff heran.


"Tentu saja untuk aku makan. Masa iya untuk ku jual?! Gara-gara kau, aku tadi tidak sempat sarapan di rumahku." Sahut Anders.


"Apa Nyonya Ellia tidak memaksa Tuan untuk sarapan? Biasa pengantin baru itu sarapan bersama dan saling suap-suapan?"


"Jeff!" Anders bangkit duduknya, dan menatap tajam Jeff. Menyebalkan sekali sekretarisnya itu, tidak berhenti-henti menggodanya sedari tadi. Jeff menelan salivanya, sepertinya sudah cukup menggoda bos nya itu.


"Tuan ingin makan apa?" Tanyanya sambil meraih telepon di atas meja. Anders duduk kembali di kursinya.


"Jus buah dan sandwich." Jawabnya datar.


_


_


_


Sepotong sandwich dan segelas jus sudah terhidang di meja, Anders langsung menyantapnya. Dalam waktu sekejap sarapan itu sudah tandas tak bersisa.


"Tuan, sepertinya kau benar-benar lapar." Celetuk Jeff.


"Ya karena kau mengajakku berdebat tadi, aku jadi semakin lapar. Untung saja aku tidak memakanmu!" Timpal Anders. Pria itu kembali ke mejanya dan mulai melanjutkan pekerjaannya.


"Oh ya, Jeff. Kemarin aku bertemu dengan Ricko." Ujarnya sambil membaca beberapa berkas di sana.


"Ricko siapa Tuan?" Tanya Jeff yang masih fokus pada layar komputernya.


"Ricko mantan pegawai di sini."


"Tuan bertemu di mana dengannya?"


"Tuan ke pemakaman?" Jeff mengerutkan keningnya, kapan bos nya itu ke pemakaman?


"Ya, kemarin setelah pulang kerja." Jawabnya. Salah satu alis Jeff terangkat mendengar jawaban Tuannya.


"Sebegitunya kah Tuan ingin menghindari Nyonya Ellia sampai kabur ke pemakaman?" Tanya Jeff curiga.


"Astaga Jeff, aku ke pemakaman karena ingin memberi tahu kelurgaku kalau aku sudah menikah." Anders mengelak, meskipun yang di katakan Jeff itu benar adanya.


"Oh." Jeff hanya ber-oh-ria saja.


"Kau tahu, Ricko bilang kalau ayahnya meninggal dan itu adalah salahku." Anders memutar-mutar pena di tangannya, wajahnya berubah sendu.


"Kenapa Ricko menyalahkan Tuan?" Tanya Jeff heran.


"Dia bilang tidak bisa lagi membiayai pengobatan ayahnya karena aku memecatnya. Padahal kau yang memecatnya, kau juga yang menyeretnya keluar dari ruangan ini." Ucap Anders sambil memasang tampang polosnya.


"Aku melakukannya atas perintah Tuan." Sergah Jeff. Enak sekali bosnya itu bicara, padahal Anders yang memerintahkan dirinya untuk memecat Ricko. Walaupun semua itu berdasarkan laporannya.


"Jeff, kenapa orang-orang menyalahkan aku atas meninggalnya orang tua mereka? Tidak Ellia, Ricko... Mereka berdua menyalahkan aku." Anders membuang nafas berat.


"Untuk Nyonya Ellia mungkin benar, Tuan adalah penyebab ibunya meninggal. Tapi untuk Ricko, ku rasa itu bukan salah Tuan." Ujar Jeff membuat Anders menatap datar padanya. Sekertarisnya itu sama saja dengan Ellia.


"Kau tahu, Jeff. Sepertinya Ricko menaruh dendam padaku." Celetuknya.


"Mungkin juga dia akan melakukan sesuatu padaku." Lanjut Anders.


"Kenapa bicara seperti itu Tuan? Ricko tidak mungkin berani macam-macam pada Tuan." Timpal Jeff sambil menatap atasannya.


"Ya, karena ada kau yang menjagaku. Tapi walaupun Ricko melakukan sesuatu padaku, ku rasa itu bukan sebuah masalah. Hidupku juga sudah tidak artinya lagi." Ucap Anders yang terdengar putus asa.


"Tuan, jangan bicara begitu." Jeff menimpali.


"Aku benar kan? Setelah adik Emily lahir dan Emily sembuh nanti, semuanya sudah selesai bagiku. Karena ada Fredy yang menjaga mereka nanti."


"Lalu bagaimana dengan perusahaan ini? Bagaimana..."


"Ada kau." Sela Anders, Jeff langsung menatap datar padanya.


"Sudahlah Tuan. Jangan bicara yang tidak-tidak. Lebih baik Tuan selesaikan saja pekerjaan Tuan." Jeff kembali fokus pada layar komputer di hadapannya.


......................


JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊