Ellia Im Sorry

Ellia Im Sorry
CHAPTER 52. SANGAT ENAK



"Ehm." Anders hanya berdehem sambil melangkah melewati Ellia tanpa berani menegurnya.


Netra di balik kacamata itu memperhatikan suaminya yang sudah menaiki tangga.


"Emily, kau tunggu di ruang makan dulu ya. Mama mau siapkan pakaian ganti untuk Daddy." Ucapnya ada Emily yang sudah duduk di sampingnya. Gadis kecil itu mengangguk.


"Okey, Mama." Sahutnya.


Ellia melangkah menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Dilihatnya tidak ada Anders di sana, tapi terdengar suara percikan air dari kamar mandi.


Kemudian Ellia menuju lemari, dan menyiapkan satu stel pakaian ganti untuk suaminya.


"Setidaknya aku melakukan salah satu tugas seorang istri." Gumam Ellia, kemudian kembali keluar dari kamar tersebut.


Setelah hampir lima belas menit, Anders sudah selesai mandi. Dirinya hendak menuju lemari, tapi pandangannya teralihkan oleh pakaiannya yang berada di atas tempat tidur.


"Siapa yang meletakan pakaianku di sini? Apa mungkin Ellia?"


_


_


_


"Ini untuk Daddy, ini untuk Mama, dan ini untukku." Gadis kecil itu membagi-bagi puding yang sudah di potong-potong oleh Ellia di atas meja makan.


"Mama, apa Daddy masih lama?" Tanyanya pada Ellia.


"Mungkin sebentar lagi, sayang." Sahut Ellia.


"Kalau kau sudah tidak sabar, makan duluan saja." Sambungnya.


"No, Emily ingin makan bersama Daddy." Emily menggeleng.


Tak lama kemudian Anders tiba di sana.


"Daddy, kemari!" Panggil Emily sambil melambaikan tangannya pada Anders.


"Ya, sayang." Anders mendudukkan tubuhnya di kursi samping Emily.


"Daddy, lihat! Emily punya puding coklat, ini untuk Daddy." Emily menyerahkan satu piring yang berisi potongan puding pada Anders.


"Puding coklat?" Anders mengerutkan keningnya menatap piring di hadapannya.


"Ya, Daddy. Tadi siang Emily dan Mama yang membuatnya. Daddy suka puding kan?" Tanyanya. Anders mengangguk.


"Jadi sesuatu yang di maksud Emily tadi adalah puding coklat? Ku kira tadi apa. Tapi bukankah ini menyenangkan? Tidak pernah ada yang pernah membuatkanku puding coklat selama ini." Batin Anders bersorak.


"Kalau begitu ayo di makan, Daddy. Emily sengaja tak memakannya tadi siang, karena ingin makan bersama Daddy." Celoteh Emily. Anders tersenyum simpul mendengarnya. Ia menyuapkan satu sendok puding ke dalam mulutnya.


"Bagaimana rasanya, Daddy? Apa enak?" Tanya Emily penasaran. Sedangkan Ellia hanya melirik anak dan ayah itu bergantian.


"Awas saja jika Anders bilang pudingnya tidak enak, dia akan ku mutilasi saat ini juga." Batin Ellia.


"Sangat enak, sayang." Jawab Anders sambil mengangkat kedua ibu jarinya.


"Benarkah? Apa besok Daddy ingin Emily buatkan puding lagi?" Tanya Emily antusias.


"Tentu, kalau Emily tidak keberatan." Jawab Anders, namun manik matanya melirik ke arah Ellia.


"Sama sekali tidak. Iya kan, Ma?" Emily mengalihkan pandangannya pada Ellia yang sedari tadi diam menyimak percakapan mereka berdua.


"Iya, sayang." Jawab Ellia dengan senyum terpaksa di bibirnya.


_


_


_


Malam harinya.


Anders sudah berada di kamarnya. Pria itu tengah duduk bersandar di atas tempat tidur dengan sebuah laptop di pangkuannya. Membaca satu persatu email yang dikirimkan oleh Jeff.


"Ck, kenapa Jeff banyak sekali mengirim email padaku?" Anders menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Seharian ini dirinya sudah pusing dengan pekerjaan dan sekarang mendadak Jeff memintanya memeriksa laporan cabang perusahaan yang lainnya.


Klek.


Pintu kamar terbuka. Ellia baru kembali ke kamarnya setelah tadi menidurkan Emily dulu. Diliriknya sang suami yang nampak begitu fokus dengan laptopnya, sepertinya Anders juga tak menyadari kedatangannya. Ellia berlalu ke kamar mandi.


Ellia melepas kacamatanya, dan membasuh wajahnya.


"Apa aku dan Anders akan melakukannya lagi?" Ellia membuang nafasnya berat. Rasanya harga dirinya sudah benar-benar hancur di hadapan seorang Anders Calvert.


......................


JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊