
Setelah mengantar Emily ke sekolah, Ellia kembali ke rukonya. Di sana nampak Anders yang sedang berdiri di samping mobilnya.
"Anders?"
Kebetulan sekali pria itu datang ke tempatnya, dia jadi bisa menanyakan langsung tentang kecurigaannya.
"Hai Ellia, kau dari mana?" Tanya Anders sambil menghampiri Ellia.
"Mengantar Emily." Jawab Ellia singkat.
"Oh, kau habis mengantar Emily ke sekolah?" Tanya Anders, Ellia mengangguk.
"Anders, ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu." Ucap Ellia sambil menatap pria di hadapannya.
"Tentang apa? Apa tentang permintaanku semalam?'' Tanya Anders. Ellia menggeleng cepat.
"Sebaiknya kita masuk dulu." Ucap Ellia, ia membuka rolling door rukonya. Keduanya melangkah masuk.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" Tanya Anders begitu mendaratkan tubuhnya di kursi sudut ruko di sana sedangkan Ellia duduk di hadapannya.
"Tentang..." Ucapan Ellia terhenti, ia menggigit bibir bawahnya. Rasa ragu dan takut menyeruak ke dalam batinnya.
"Ada apa Ellia?" Sepasang mata hazel itu menatapnya, mata yang sama seperti putri kecilnya. Dan Ellia baru menyadari hal itu.
"Ellia, kau baik-baik saja?" Anders mulai khawatir karena Ellia hanya diam sambil menatapnya.
"Anders, apa kau dulu datang ke pesta perpisahan sekolah kita?" Tanya Ellia setelah beberapa saat terdiam.
Pesta perpisahan sekolah?" Anders menautkan kedua alisnya.
"Ya, pesta perpisahan sekolah kita. Tujuh tahun yang lalu." Ucap Ellia. Anders berfikir sejenak, kemudian mengangguk walaupun ragu. Ia merasa aneh dengan pertanyaan Ellia yang tiba-tiba membahas tentang pesta itu.
"Ya, aku datang. Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" Tanya Anders heran.
"Apa kau bertemu dengan Karen?" Tanya Ellia dengan tatapan dan nada bicara yang mengintimidasi.
"Karen? Karen mana maksudmu?" Tanya Anders, ia sedikit lupa tentang Karen sang mantan kekasih. Ia juga tak mengerti apa yang sebenarnya hendak Ellia tanyakan padanya.
"Kau masih ingat dengan Karen mantan kekasihmu kan?" Cecar Ellia. Anders terdiam, sambil mencoba mengingat tentang Karen.
"Oh iya, aku ingat." Jawabnya kemudian.
"Apa kau bertemu dengannya di pesta itu?" Suara Ellia terdengar menajam pun dengan tatapannya.
"Kenapa memangnya?" Anders malah balik bertanya.
"Jawab saja Anders." Desak Ellia. Anders kembali mengangguk.
"Iya, aku bertemu dengan Ka... Ren..."
Ucapan Anders terhenti. Lelaki itu terdiam, dan mulai menyadari sesuatu.
Apa jangan-jangan Ellia sudah curiga padanya? Ditatapnya mata cokelat yang terhalang kacamata itu.
"Ellia..." Panggilnya tanpa suara.
"Apa kau laki-laki itu?" Tanya Ellia dengan suara tercekat.
"Ma... Maksudmu...?" Anders tergagap.
"Kau, laki-laki yang sudah merenggut kesucianku malam itu?'' Tanya Ellia, matanya sudah memerah dan suaranya bergetar menahan tangis. Anders begitu terkesiap mendengarnya. Akhirnya Ellia mengetahui siapa dirinya.
"Jawab aku, Anders!" Bentak Ellia, Anders terkejut di buatnya. Wanita itu bangkit dari duduknya.
"Ellia... Aku..." Wajah Anders berubah pucat. Lidahnya kelu, seakan semua suaranya hilang tertelan.
Melihat reaksi Anders, Ellia merasa yakin kalau semua itu benar. Wanita muda itu menggeleng sambil tersenyum getir. Ternyata lelaki yang telah menghancurkan hidupnya adalah orang yang dikenalnya.
"Kau, jadi kau laki-laki itu? Laki-laki yang sudah menghancurkan hidupku?" Tanya Ellia dengan nada tak percaya, dadanya seketika terasa sesak setelah mengetahui fakta itu.
"Ellia, dengarkan aku dulu..." Anders mencoba meraih tangan Ellia, namun dengan cepat Ellia menepisnya.
"Ellia, ku mohon dengarkan aku..." Anders memelas. Ellia menggeleng pelan, sambil mengusap air mata yang terus mengalir.
"Kenapa Anders? Kenapa kau lakukan itu padaku? Apa salahku padamu? Kau tahu kan? Akibat perbuatanmu, aku harus kehilangan ibuku! Aku di usir dari rumahku sendiri! Dan aku juga harus hidup menderita di jalanan!"
Ellia menumpahkan semua emosi yang selama ini di pendamnya. Rasa marah, benci, sedih dan kecewa semua bercampur jadi satu.
Sementara sepasang mata hazel itu hanya menatap nanar pada Ellia.
"Gara-gara kau ibuku meninggal! Gara-gara kau masa depanku hancur!" Bentak Ellia.
Anders terdiam melihat ledakan amarah Ellia.
"Aku tak menyangka kalau kau lah lelaki itu. Kau mencampakkan aku setelah mendapatkan kesucianku. Aku memang miskin, dan aku juga selalu menjadi bahan bullyan. Tapi bukan berarti kau bisa berbuat serendah itu padaku, Anders! Aku membencimu... Demi Tuhan aku membencimu, Anders..." Isak tangis Ellia seakan memenuhi ruangan itu.
"Ellia, aku..." Rasanya Anders tak sanggup bicara, apalagi melihat Ellia menangis seperti itu. Hatinya jadi ikut merasa sakit. Ingin sekali rasanya meraih Ellia ke dalam pelukannya dan mengucapkan ribuan bahkan jutaan kali kata maaf. Dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi selama ini.
"Pergi dari sini dan jangan pernah hadir lagi di hidupku dan juga Emily..." Lirihnya.
"Ellia, ku mohon..."
"Pergi dari sini. Pergi seperti saat tujuh tahun lalu kau tinggalkan aku begitu saja setelah mendapat apa yang kau inginkan." Selanya.
"Pergi dari sini!" Teriak Ellia. Mata Anders memanas, ia tahu hal ini pasti akan terjadi, tapi ia tak mengira kalau akan secepat ini Ellia mengetahui tentang dirinya. Padahal baru semalam ia melamarnya.
"Maafkan aku..." Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Anders, ia menatap Ellia sejenak sebelum akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.
Ellia terduduk lemas di lantai, mendapati kenyataan yang harus di terimanya.
"Kenapa Anders? Kenapa kau lakukan ini padaku? Dan kenapa sekarang kau harus datang lagi untuk membuat rasa sakit itu kembali?" Lirihnya.
Sepasang kaki itu melangkah seakan tanpa tenaga. Anders masuk kembali ke dalam mobilnya, matanya memerah menahan rasa sesak di hatinya. Anders mengusap kasar wajahnya.
"Maafkan aku Ellia... Maafkan aku..." Gumamnya penuh penyesalan.
_
_
_
Fredy menatap heran pada bangunan di depannya, ini sudah hampir siang kenapa ruko Ellia tak kunjung buka? Fredy melangkah memasuki ruko yang pintunya tak terkunci itu.
"Ellia?" Panggilnya. Namun tak ada sahutan dari dalam. Sedetik kemudian Fredy terkesiap, sepasang netranya melebar.
"Ellia kau kenapa?" Tanya Fredy panik, begitu melihat Ellia yang terduduk di lantai sambil menutup wajah dengan kedua lututnya. Masih terdengar isak tangis di sana. Fredy berjongkok di hadapan Ellia.
"Ellia, kau baik-baik saja?" Fredy mencoba mengangkat wajah itu. Mata Ellia terlihat memerah dan membengkak karena menangis terlalu lama.
"Ada apa sebenarnya? Kau kenapa?" Tanya Fredy khawatir.
"Anders..." Lirih Ellia.
"Anders? Kenapa dia? Apa yang sudah dia lakukan padamu sampai kau menangis seperti ini?" Tanya Fredy beruntun, ia tak akan memafkan lelaki itu jika berani menyakiti Ellia.
"Dia... Ternyata dia laki-laki itu..." Lirih Ellia lagi.
"Maksudmu?" Fredy mengerutkan keningnya.
"Dia laki-laki yang sudah melakukan hal itu padaku, dia yang menghancurkan hidupku..." Ellia menatap kosong ke depan. Fredy kembali terkesiap.
"Kau sudah tahu?" Tanyanya, lelaki itu kemudian mendudukkan tubuhnya di lantai. Sama seperti Ellia.
"Apa maksudmu? Jangan bilang kalau kau sudah tahu tentang ini sebelumnya." Ellia menatap tajam pada Fredy.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊