
Sepasang netra itu memandang nanar pada pesawat yang baru tinggal landas. Fredy masih berdiri di samping mobilnya hingga pesawat itu menjauh dari pandangannya.
"Aku bisa melihat penyesalan di wajah Anders. Aku berharap Ellia bisa memberinya kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya. Dan aku juga berharap Emily bisa kembali bersama ayah kandungnya. Walau selama ini aku yang berada di sisi Emily, nyatanya Emily tidak pernah menganggapku sebagai ayahnya." Gumam Fredy pada dirinya sendiri.
Tidak bisa di pungkiri kalau dirinya merasa sedih karena harus membatalkan pernikahannya dengan Ellia, padahal itu adalah saat yang paling di nantikannya selama hidupnya. Tapi dirinya juga tidak bisa egois, Emily lebih membutuhkan Anders di banding dirinya, apalagi dengan kondisi Emily sekarang.
Fredy menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan kendaraan itu menuju kembali ke rumahnya. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit akhirnya Fredy sampai.
Dekorasi pesta masih terpajang di taman depan, namun sudah tidak ada siapapun di sana. Hanya kursi kosong yang masih berbaris rapi, Fredy hanya bisa membuang nafas kasarnya ke udara. Hari yang seharusnya menjadi berkesan untuknya kini hanya tinggal angan-angan saja. Pria itu kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah.
"Fredy!" Panggil Frida begitu melihat putranya itu sudah kembali.
"Ada apa, Ma?" Tanya Fredy sambil melangkah menghampiri ibunya yang sedari tadi menunggu kedatangannya.
"Kenapa kau membiarkan Ellia dan Emily pergi begitu saja?" Tanya Frida yang terlihat kesal.
"Maksud Mama?" Fredy balik bertanya.
"Seharusnya tadi kau menikahi Ellia dulu sebelum mereka pergi bersama lelaki itu." Tukas Frida. Fredy tercengang mendengarnya.
"Ma, Emily sedang sakit parah. Dan Mama malah lebih mementingkan pernikahanku dengan Ellia?" Tanya Fredy tak percaya. Bisa-bisa ibunya berkata seperti itu.
"Fredy, bukannya dari dulu kau sangat ingin menikah dengan Ellia? Dan saat sebentar lagi Ellia akan menjadi milikmu kau malah melepaskannya?" Frida balik bertanya.
"Ma, aku memang ingin menikah dengan Ellia. Tapi keadaanya sekarang tidak memungkinkan. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Emily tadi?"
Terlihat Frida membuang nafas berat ke udara sambil mengusap wajahnya.
"Entahlah Fredy. Mama hanya takut kalau Ellia dan Emily tidak kembali lagi kemari dan lebih memilih hidup bersama Anders Calvert. Kau lihat lelaki itu, ia lebih segalanya di banding dirimu. Dia punya segalanya, bahkan jet pribadi dan rumah sakit. Mama takut kau akan sakit hati lagi nantinya. Sudah lama kau menunggu Ellia, dan Mama tidak ingin semua ini sia-sia. Kau anak Mama satu-satunya. Mama hanya ingin melihat kau bahagia." Tutur Frida menatap lekat pada putranya. Fredy tersenyum lembut, ia tahu kalau ibunya sangat menyayangi dirinya. Fredy menarik Frida ke dalam pelukannya.
"Tidak ada yang perlu Mama takutkan. Jika Ellia adalah jodohku, Ellia pasti akan kembali padaku." Ucapnya.
"Dan jika ia tidak kembali, itu adalah takdir yang ku harus ku terima. Tuhan pasti sudah menyiapkan rencana yang terbaik, dan kita hanya menunggu apa yang Tuhan rencanakan untuk kita." Lanjutnya sambil mengusap lembut punggung sang mama.
"Semuanya akan baik-baik saja, Ma." Ucap Fredy walaupun ia tak bisa menampik ada kekecewaan di sorot matanya.
_
_
_
Sosok mungil itu terlihat begitu tenang dalam tidurnya. Dengan sentuhan seringan bulu Ellia membelai wajah yang tengah terlelap itu. Seseorang yang selama ini membuatnya memilih bertahan untuk hidup, daripada mengakhiri hidupnya sendiri. Walaupun berkali-kali niat itu terlintas di fikirannya.
"Emily, semoga kau baik-baik saja. Mama tidak bisa membayangkan hidup tanpa dirimu, kau lah harta Mama yang paling berharga." Satu kecupan lembut mendarat di kening Emily tapi tidak membuatnya terbangun.
Tok. Tok.Tok.
Suara ketukan pintu membuat Ellia beranjak dari tempat tidur, dibukanya pintu itu. Ada Anders di sana dengan membawa satu nampan yang penuh makanan.
"Ada apa?" Tanya Ellia masih dengan mode datarnya.
"Ini sudah siang, sebaiknya kau makan dulu." Anders masuk ke dalam kamar itu dan meletakan makanan yang dibawanya di atas meja.
"Aku tidak lapar!" Sahut Ellia ketus.
"Mau kau lapar atau tidak, kau harus tetap makan. Satu jam lagi kita akan sampai, dan ku harap kau sudah selesai makan sebelum kita sampai nanti." Ucap Anders yang kemudian pergi dari kamar itu. Ellia kembali menutup pintu dan duduk di sisi tempat tidur.
"Kenapa aku harus terlibat kembali dengannya? Dan kenapa harus dia yang melakukan hal itu padaku dulu?" Ellia memijat keningnya. Sebenarnya ia sudah bisa melupakan masa lalunya yang pahit, tapi kemudian Anders kembali hadir di hidupnya.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊