
Mansion Willians
Pukul tujuh tepat, Anders baru tiba di mansionya. Dua orang pelayan menyambut kedatangannya.
"Di mana istri dan putriku?" Tanya Anders, karena baik Ellia maupun Emily tidak terlihat di sana.
"Nyonya Ellia dan Nona Emily sedang berada di kamar Nona Emily, Tuan." Jawab salah seorang dari mereka. Anders hanya mengangguk lalu pergi ke kamarnya.
Beberapa saat kemudian.
Tok. Tok. Tok.
"Mama, siapa itu?" Tanya Emily yang mendengar suara ketukan di pintu kamarnya.
"Entahlah, Emily. Mungkin salah seorang pelayan." Jawab Ellia sambil beranjak bangun. Seharian ini Ellia dan Emily hanya menghabiskan waktu di kamar saja.
"Emily saja yang buka pintunya." Cegah Emily yang langsung berlari kecil ke arah pintu.
"Daddy!" Soraknya begitu melihat Anders berdiri di ambang pintu, Andres terlihat sudah rapi dan berganti pakaian.
"Hai, sayang." Anders membawa Emily ke dalam gendongannya. Pria itu masuk ke dalam kamar Emily. Ada Ellia yang duduk di sisi tempat tidur, wanita hanya diam saja tak mengatakan apapun. Anders meliriknya sejenak.
"Bagaimana kamarnya? Apa Emily suka?" Tanya Anders yang mendaratkan tubuhnya di sofa yang terdapat di kamar itu, sedangkan Emily duduk di pangkuannya.
"Sangat suka, Daddy. Kamarnya cantik sekali dan juga banyak boneka di sini." Jawab Emily antusias.
"Terima kasih, Daddy." Gadis kecil itu mendaratkan kecupan singkat di pipi Anders.
"Di sini juga." Anders menunjuk pipi sebelahnya, namun Emily malah menggeleng.
"Tidak mau." Jawabnya.
"Kenapa?" Tanya Anders heran.
"Biar Mama saja yang cium di sini." Jawab Emily sambil menunujuk pipi Anders, Ellia langsung menoleh. Dan Anders nampak salah tingkah.
"Mama, ayo cium Daddy." Emily melambaikan tangannya pada Ellia.
"Em, Emily. Apa kau sudah lapar?" Anders mengalihkan pembicaraan, apalagi melihat tatapan Ellia yang sangat tidak bersahabat padanya. Yang ada bukan mencium, tapi Ellia malah menggigitnya nanti.
"Lapar?" Gadis kecil itu terlihat berfikir.
"Iya, sayang. Ini sudah waktunya makan malam. Sebaiknya kita makan dulu." Ajak Anders yang kembali menggendong Emily.
"Iya, Emily mau makan. Mama, ayo kita makan malam."
"Iya, sayang." Ellia mengikuti Anders berjalan di belakangnya.
_
_
_
Suara dering ponsel mengalihkan perhatiannya. Diambilnya ponsel yang terletak di atas nakas. Ada nama Fredy di sana. Ellia segera mengangkat panggilannya.
"Halo Fredy."
"Halo Ellia. Bagaimana kabarmu?" Tanya Fredy.
"Aku baik-baik saja." Jawab Ellia.
"Bagaimana dengan Emily? Apa kata dokter di sana?"
Ellia terdiam sejenak, kemudian ia ingat belum memberi tahu Fredy tentang Emily.
"Emily menderita kanker leukimia stadium dua."
"Ya Tuhan, tapi ada cara untuk menyembuhkan Emily kan?" Suara Fredy terdengar khawatir.
"Ya. Dokter bilang donor sumsum tulang belakang bisa menyembuhkan Emily."
"Apa Emily sudah mendapat pendonor? Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Dokter bilang, pendonor harus keluarga Emily. Tapi ternyata aku dan Anders tidak bisa menjadi pendonor untuknya, hasil tes kami tidak cocok dengan Emily..."
Ellia menjeda ucapannya, begitu dengan Fredy yang ikut terdiam di sebrang sana. Sepertinya pria itu terkejut dengan apa yang baru saja Ellia katakan.
"Tapi Emily baik-baik saja kan?" Tanya Fredy.
"Untuk saat ini Emily kondisi Emily masih stabil. Em... Fredy sebenarnya ada yang ingin ku katakan padamu." Ucap Ellia ragu-ragu.
"Ada apa Ellia?"
"Dokter bilang pendonor yang cocok untuk Emily adalah saudara kandungnya."
"Saudara kandung? Maksudmu kakak atau adik? Tapi bukannya Emily tidak mempunyai saudara?"
"Iya, maka dari itu aku memutuskan..." Ucapan Ellia terhenti, sebenarnya ia ragu untuk mengatakan kalau dirinya sudah menikah dengan Anders karena itu sama saja menyakiti Fredy.
"Apa Ellia?" Tanya Fredy penasaran. Ellia menarik nafasnya dalam sebelum akhirnya berucap,
"Fredy, maaf kan aku... Aku terpaksa menikah dengan Anders untuk mendapatkan seorang adik yang akan menjadi pendonor untuk Emily nantinya. Karena ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa Emily..."
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊