
Ellia terdiam di tempatnya, ia menatap Anders. Tak ada kebohongan di sana. Hanya sorot mata ketulusan di mata hazel pria itu.
"Pulanglah Anders." Ucap Ellia pelan.
"Kau belum menjawab pertanyaanku." Tangan Anders kembali menggenggam erat jemari Ellia.
"Anders pulanglah, ini sudah malam." Ujar Ellia lagi.
"Ellia..." Anders menatap Ellia dengan sorot mata memohon.
"Aku akan menjawabnya nanti..."
"Kapan?" Desaknya.
"Entahlah..." Ellia melepaskan genggaman Anders.
Anders menghela nafas panjang. Sepertinya bukan hal yang mudah untuk mendapatkan Ellia. Tapi ia akan berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkan wanita di hadapannya itu.
"Jangan terlalu lama, aku harus kembali ke kota asalku minggu depan." Terang Anders.
"Pulanglah..." Hanya itu yang di katakan Ellia. Anders beranjak bangun dari duduknya.
"Ku harap, jawabanmu tidak mengecewakanku." Ucap Anders sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
Ellia menatap sendu pada punggung Anders yang menjauh. Perasaan campur aduk menyelimuti hatinya.
_
_
_
Di dalam sebuah kamar dengan cahaya temaram, sepasang manik cokelat itu memandang sosok kecil yang terbaring di sampingnya. Dibelainya pelan wajah mungil itu.
"Kau adalah alasan Mama bertahan sampai sejauh ini... Apa yang harus Mama lakukan? Daddy Anders mengajak Mama untuk menikah? Apa kau akan setuju Emily?" Tanya Ellia namun hanya dalam hati, karena takut akan membangunkan putri kecilnya.
"Dulu aku memang sempat menaruh hati pada Anders, tapi itu sudah lama sekali. Karena hanya dia satu-satunya murid yang tak pernah menghinaku di sekolah.
Tapi kini keadaannya sudah berbeda, aku bukan lagi Ellia yang dulu. Aku sudah memiliki seorang putri sekarang. Dan yang terpenting bagiku bukan lagi cinta, tapi kebahagiaan Emily.
Emily dan Anders memang dekat, tapi aku masih ragu kalau Anders bisa sepenuhnya menerima Emily. Karena bagaimanapun Emily bukan anak kandungnya. Aku bahkan tidak tahu siapa ayah kandung Emily.
Seandainya saja laki-laki itu tidak mengacaukan hidupku, aku pasti bisa hidup bahagia bersama keluargaku, bersama dengan laki-laki yang benar-benar mencintaiku. Dan aku tidak akan takut dalam mengambil keputusan.
Tapi kini hanya Emily yang menjadi alasanku, kebahagiaan Emily adalah kebahagiaanku..."
Kegalauan menyelimuti hati Ellia malam itu. Ingin ia mengikuti hatinya, tapi keraguan dan ketakutan selalu menghantuinya.
_
_
_
Mobil sport itu berhenti di pinggir jalan. Anders menyandarkan punggungnya, matanya menatap jalanan di depannya yang tampak tak begitu terang.
"Semoga Ellia menerima lamaranku agar secepatnya aku bisa menikahinya. Aku tak menginginkan apa-apa lagi. Hanya Ellia dan Emily yang ingin ku miliki. Mereka berdua adalah duniaku saat ini. Aku ingin menebus kesalahanku dulu pada mereka. Karena diriku Ellia hidup menderita, karena diriku Emily lahir tanpa seorang Ayah... Dan sekarang sudah waktunya untukku memperbaiki semuanya."
Terbayang kembali di benak Anders ketika ia tak bisa mengendalikan dirinya hanya karena terlena melihat wajah cantik Ellia yang selama ini tertutupi kacamatanya.
Terngiang kembali semua cerita masa lalu Ellia, tentang hidupnya yang hancur akibat perbuatannya.
Anders begitu larut dalam lamunannya, hingga suara dering ponsel mengejutkannya.
Nama sekretaris Jeff nampak di layar ponsel itu.
"Jeff? Ck, kenapa dia selalu saja mengganggu lamunanku." Gerutunya. Dengan malas ia mengangkat panggilan itu.
"Halo Tuan, Tuan di mana?" Tanya Jeff begitu panggilannya terhubung.
"Aku sudah dalam perjalanan pulang, Jeff." Jawab Anders.
"Tuan baik-baik saja kan? Tuan sedang tidak berada di klinik kan?" Tanya Jeff beruntun. Anders menautkan kedua alisnya mendengar pertanyaan sekretarisnya itu.
"Astaga, Jeff! Apa kau berharap aku mengalami kecelakaan lagi?" Serunya.
"Bukan seperti itu, Tuan. Aku hanya mengkhawatirkan Tuan saja." Jawab Jeff datar.
"Aku bukan anak kecil yang harus terus kau khawatirkan seperti itu." Timpal Anders.
"Tapi Tuan memang seperti anak kecil." Sahut Jeff.
"Dan sebaiknya Tuan pulang sekarang karena malam sudah larut." Lanjut Jeff kembali.
"Kau berani memerintahku, Jeff?" Tanya Anders kesal.
"Tidak Tuan. Aku hanya meminta Tuan untuk pulang saja, kalau tidak aku yang akan menjemput Tuan." Jawabnya kembali datar.
"Jeff.....! Aku pulang sekarang." Ucap Anders dengan penekanan di setiap katanya.
"Hati-hati di jalan, Tuan."
Anders tak menyahut, ia langsung menutup panggilan itu.
_
_
_
Pagi harinya.
Ellia dan Emily tengah sarapan bersama.
"Ma..." Suara kecil itu menyadarkan Ellia dalam lamunan.
"Iya, baby. Ada apa?" Tanya Ellia.
"Kenapa Mama tidak memakan sarapannya? Dan kenapa Mama hanya melamun?" Tanya Emily yang sedari tadi melihat ibunya melamun saja tanpa menyentuh makanannya.
"Tidak baby, Mama tidak melamun. Mama sedang berfikir." Jawab Ellia.
"Apa yang Mama fikirkan?" Tanya Emily lagi sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut mungilnya.
"Tidak sayang, bukan apa-apa." Ellia tersenyum tipis.
"Ayo makan sarapanmu, sebentar lagi kita berangkat sekolah." Lanjutnya.
"Okey, Ma." Sahut Emily. Keduanya mulai menyantap kembali sarapannya.
"Emily..." Panggil Ellia di sela makannya.
"Ada apa, Ma?" Tanya Emily.
"Bagaimana menurutmu Daddy Anders?" Tanya Ellia.
"Daddy Anders? Daddy Anders sangat baik, Ma." Jawab Emily dengan semangat. Setiap ada yang berhubungan dengan Anders, gadis kecil itu selalu bersemangat membicarakannya.
"Ya, Daddy Anders memang baik." Timpal Ellia.
"Ma, apa Mama tahu. Ternyata Daddy Anders sama sepertiku?" Tanya Emily.
"Sama? Maksudnya?" Tanya Ellia.
"Daddy Anders dan aku sama-sama menyukai es krim vanila dengan saus cokelat dan juga dengan topping kacang almond." Celoteh Emily yang kemudian menyuapkan kembali makanan ke mulutnya.
"Sayang, banyak orang di dunia ini yang menyukai es krim vanila dengan topping saus cokelat dan kacang almond." Kata Ellia.
"Iya, tapi kemarin ketika di kedai es krim, orang-orang mengatakan kalau wajah kami mirip." Ujar Emily lagi. Ellia menautkan kedua alisnya.
"Mirip?" Tanyanya.
"Iya Ma, mereka juga mengira kalau Daddy Anders adalah ayahku karena warna mata kami yang sama." Celoteh Emily lagi. Gerakan tangan Ellia yang sedang menyendok makanan mendadak terhenti. Ditatapnya mata Emily.
Jika di perhatikan, memang warna mata mereka berdua sama-sama berwarna hazel dan wajah Emily dan Anders memang hampir mirip. Tapi di dunia ini bukan hanya Anders dan Emily saja yang mempunyai mata berwarna hazel.
Tapi kalau wajah yang mirip? Kenapa Ellia baru menyadari hal ini? Dan juga mereka yang mudah sekali akrab padahal baru bertemu. Apa semua itu karena...
Wajah Ellia mendadak memucat. Seketika prasangka buruk melintas di kepalanya.
"Tidak mungkin..." Gumam Ellia sambil menggeleng pelan.
''Kenapa Ma? Apanya yang tidak mungkin?" Tanya Emily yang mendengar gumaman Ellia.
"Tidak sayang, bukan apa-apa. Ayo cepat habiskan sarapanmu." Ujar Ellia sambil mencoba menepis pikiran-pikiran itu.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊