
Bulir bening membanjiri mata hazel Anders. Kejadian itu benar-benar menyakitkan untuknya. Setelah Daddynya pergi, kemudian disusul dengan Mommynya. Dan Alice, adiknya harus meninggal secara tragis. Belum lagi setelah itu, perusahaan besar keluarganya di terpa masalah hingga hampir saja mengalami kebangkrutan. Namun akhirnya Anders berhasil menyelamatkannya.
Anders beranjak berdiri, ia memandang langit yang mulai menggelap. Cukup lama juga ia melamun di sana. Anders memutuskan untuk pulang, ia juga tak menghidupkan ponselnya sedari tadi karena pasti sekretarisnya itu akan meneleponnya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya Anders tiba di mansion. Mansion itu nampak sepi, entah di mana istri dan anaknya. Pria itu langsung menuju kamarnya.
Anders mendaratkan tubuhnya di lantai yang di alasi karpet bulu, duduk sambil menekuk kedua lututnya.
Klek, pintu kamar terbuka. Ellia masuk ke dalam sana. Ia sedikit terkejut melihat Anders yang sudah berada di dalam kamar.
"Anders, kau sudah pulang?" Tanyanya sambil melangkah menghampiri suaminya.
"Kau ke mana seharian ini? Sekretaris Jeff bilang kau tidak ke kantor?"
Anders mengadahkan wajahnya, menatap Ellia sejenak. Namun menunduk lagi.
"Anders, ada apa?" Ellia menekuk kakinya dan duduk berhadapan dengan Anders.
"Tidak apa-apa." Jawab Anders begitu pelan. Ia hendak beranjak, namun Ellia menahannya lengannya.
"Anders, sebenarnya ada apa dengan dirimu? Seharian ini kau tidak ada kabar sama sekali. Kau bilang mau ke kantor, tapi nyatanya kau tidak datang ke sana?" Cecar Ellia.
"Lepas..." Anders menepis tangan Ellia dan bangun dari duduknya.
"Anders!" Ellia kembali menarik tangannya, sepasang mata hazel itu menatap tajam pada Ellia.
"Apa pedulimu?! Aku mau pergi ke mana, itu bukan urusanmu!" Seru Anders membuat Ellia terjingkat kaget, ini pertama kalinya Anders bicara dengan nada tinggi padanya.
"Anders, kau..." Perkataan Ellia terhenti dan hanya bisa menatap Anders penuh tanya.
Anders tersadar. Ia mengusap kasar wajahnya, tanpa sadar dirinya sudah membentak Ellia.
"Aku lelah, Ellia... Aku lelah..." Tubuh Anders kembali luruh di atas lantai, Ellia menatapnya tak mengerti. Ada ada dengan suaminya? Bukannya pergi, tapi Ellia masih tetap di sana.
Ellia kembali duduk, sedangkan Anders sudah terisak. Ellia menangkup wajah suaminya, dan menghapus air matanya.
"Maafkan aku, aku tak sengaja membentakmu..." Lirih Anders.
"Tidak apa." Ellia mengusap-usap punggung suaminya. Anders pasti mengalami sesuatu yang berat hari ini, sampai keadaan kacau begitu. Cukup lama keduanya berada dalam posisi seperti itu. Setelah cukup tenang, Ellia melepas pelukannya.
Anders kembali memandang Ellia dengan pandangan sendunya.
"Kau ingin tahu apa yang terjadi selama tujuh tahun ini hingga aku tak mencarimu?" Tanyanya kemudian. Ellia mengangguk pelan.
"Aku akan menceritakannya semuanya..." Pandangan Anders terlihat menerawang.
"Pagi setelah kejadian itu, aku mendapat kabar dari Mommyku kalau Daddyku masuk rumah sakit. Dan aku begitu terkejut saat sadar aku satu ranjang denganmu, padahal niatku hanya untuk menolongmu tapi aku malah terlena olehmu. Fikiranku langsung kalut, aku menunggumu bangun dan mengatakan semuanya atau segera pergi menemui Daddyku. Hingga akhirnya aku memilih untuk pergi meninggalkanmu, yang nyatanya itu adalah kesalahan terbesar ku lakukan.
Ternyata sakit Daddyku parah, sampai harus mengalami koma.
Keluargaku kacau. Mommyku selalu sedih setiap harinya, begitupun dengan Alice, adik perempuanku. Mommy selalu menangis setiap hari, dan aku selalu berusaha untuk menguatkannya walau akupun sama sedihnya. Aku juga harus mengurus perusahan keluargaku, sambil melanjutkan kuliahku.
Aku selalu di pandang sebelah mata saat itu oleh para pemegang saham dan juga rekan bisnis Daddyku. Setelah satu tahun koma, Daddyku akhirnya menyerah dan meninggalkan kami. Itu menyebabkan luka yang mendalam untuk Mommyku, Mommyku begitu terpukul. Mommy jadi sering sakit-sakitan, dan enam bulan kemudian Mommyku pergi menyusul Daddy.
Alice, adikku yang ceria berubah menjadi gadis yang pendiam dan selalu mengurung diri di kamarnya. Aku selalu berusaha untuk menghiburnya, bukan berarti aku tak sedih kehilangan kedua orang tuaku. Tapi aku harus tetap terlihat tegar di depan Alice. Selama satu tahun di rundung kesedihan, Alice akhirnya menjadi adikku yang ceria lagi. Alice mau bersekolah lagi dan melanjutkan kuliahnya.
Saat semuanya terlihat membaik, aku berusaha untuk mencarimu. Aku mendatangi sekolah dan meminta alamatmu. Tapi begitu aku sampai di rumah lamamu, para tetanggamu bilang kalau kau sudah pergi dan tidak tinggal di sana lagi. Aku bertanya pada mereka di mana alamat barumu, tapi mereka semua menutup mulut. Aku kehilangan jejakmu.
Aku hendak mencarimu lebih jauh lagi, tapi aku mendapat kabar tentang perusahaanku yang mengalami masalah. Akhirnya aku menunda niatku untuk mencarimu.
Setelah kondisi perusahaanku membaik, aku berniat kembali untuk mencarimu kembali. Namun sayang, bencana itu datang lagi. Saat baru mulai kuliah kejadian naas itu menimpa Alice. Alice menjadi korban pemer*kosaan oleh teman kuliahnya sendiri. Alice mengalami trauma yang parah sampai enam bulan lamanya. Alice juga sering mencoba untuk bunuh diri.
Hingga suatu hari, aku menemukannya pingsan di dalam bathup. Alice sengaja menenggelamkan dirinya. Aku membawanya ke rumah sakit, keadaan Alice kritis. Setelah menjalani perawatan beberapa hari, Alice akhirnya sadar. Alice berjanji padaku tidak akan menyakiti dirinya lagi. Tapi... hari itu aku meninggalkannya sebentar, dan saat aku kembali ke rumah sakit, Alice tidak ada di kamarnya. Ternyata Alice... Alice memilih untuk mengakhiri hidupnya. Alice terjun dari lantai 10 tempatnya di rawat. Aku dapat melihatnya dengan jelas, tubuh Alice yang tergeletak di bawah sana dengan bersimbah darah..."
Ellia menarik Anders ke dalam pelukannya. Bisa di rasakan tubuh pria itu bergetar dengan isak tangis yang pilu.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊