
"Aku juga baik. Kebetulan aku ada pekerjaan di kota ini, jadi aku meminta untuk bertemu pada Ellia. Aku sangat merindukan Emily. Tidak apa kan?" Tanyanya sedikit sungkan.
"Tentu saja, mana mungkin aku keberatan." Sahut Anders yang masih memasang senyum.
Terdengar ponsel Anders berdering.
"Sebentar, aku angkat telepon dulu." Anders langsung mengangkat panggilannya.
"Ada apa Jeff?" Tanyanya. Sekretarisnya itu selalu saja menghubunginya setiap pagi.
"Tuan, satu jam lagi kita ada rapat." Ucap Jeff di balik ponsel.
"Iya aku tahu, Jeff." Jawab Anders.
"Lalu Tuan di mana? Kenapa belum sampai?" Tanya Jeff.
"Aku sedang di taman kota." Jawab Anders.
"Tuan, rapat kita bukan di taman kota. Tapi di kantor." Ucap Jeff membuat Anders kesal seketika.
"Astaga, Jeff. Aku ke taman untuk mengantar istri dan putriku, bukan untuk rapat!" Serunya.
"Oh, ku kira Tuan lupa lokasi rapat kita. Cepatlah kemari Tuan. Semua materi untuk rapat sudah ku siapkan." Titah Jeff seenaknya.
Anders memijat keningnya, Jeff selalu saja membuatnya kesal.
"Iya, iya. Aku ke sana." Anders menutup panggilannya.
"Fredy, aku harus pergi. Aku titip Ellia dan Emily."
"Kenapa cepat sekali? Apa kau tidak mau minum dulu?" Tawar Fredy.
"Maaf aku tidak bisa, aku ada rapat penting. Tadi saja Jeff sudah mengingatkanku." Tolak Anders.
"Baiklah kalau begitu. Kau tenang saja, aku akan menjaga istri dan putrimu."
"Terima kasih." Anders beralih pada Emily yang masih berada di gendongan Fredy.
"Emily, Daddy berangkat kerja dulu ya." Ucapnya. Gadis kecil itu mengangguk.
"Okey, Daddy."
"Give me kiss." Anders menunjuk sebelah pipinya pada Emily.
"Muah." Emily mengecup pipi kanan Anders.
"Mama, tidak mencium Daddy?" Tanya Emily pada Ellia yang langsung salah tingkah.
"Tidak." Jawab Ellia tanpa melihat ke arah Fredy.
"Tapi biasanya Mama dan Daddy berciuman begitu lama di depan pintu sebelum Daddy berangkat kerja." Celoteh Emily membuat Ellia dan Anders saling menatap. Ternyata Emily tahu jika mereka melakukan hal itu. Sedangkan Fredy pura-pura tidak mendengarnya.
"Ehm, aku pergi dulu." Anders langsung berlalu dari sana daripada Emily mengatakan hal yang lebih aneh lagi.
Pandangan Fredy dan Ellia bertemu, Ellia hanya bisa tersenyum kaku. Suasana mendadak menjadi canggung.
"Paman, ayo kita ke sana." Suara Emily memecah kesunyian yang tercipta beberapa saat.
"Kau mau ke mana, Emily?" Tanya Fredy.
"Emily ingin minum, Paman. Emily haus." Jawabnya.
"Baiklah. Ayo Ellia." Ajaknya.
"Iya." Ellia berjalanan di samping Fredy.
_
_
_
"Ellia, kau tidak memesan makanan?" Tanya Fredy sambil melihat menu makanan yang ada di sana.
"Aku tadi sudah sarapan, Fred."
"Apa Emily mau pesan makanan?" Tawar Fredy pada Emily. Gadis kecil itu menggeleng. Ia tengah meminum susu coklat yang tadi Fredy pesankan untuknya.
"Emily masih kenyang, Paman." Jawabnya.
"Kalau kau mau pesan makanan, pesan saja Fredy. Tidak perlu sungkan." Ujar Ellia.
"Tapi aku merasa tidak enak jika makan sendiri saja." Sahut Fredy.
"Kau ini, pakai acara tidak enak segala." Timpal Ellia.
"Ya, ya. Baiklah, aku pesan makanan."
Tak lama makanan yang di pesan Fredy pun datang.
"Nyonya Ellia!" Sapa seseorang yang baru saja datang, menghentikan gerakan tangan Fredy yang hendak menyuapkan pasta ke dalam mulutnya.
"Dokter Meitha?" Ellia bangkit dari duduknya.
"Sedang apa Dokter di sini?" Tanya Ellia.
"Aku mau sarapan." Jawab Dokter Meitha sambil menunjukan nampan yang dibawanya.
"Ku kira seorang Dokter tidak menyukai makanan cepat saji?" Ellia mengangkat satu alisnya.
"Aku sedang ingin, lagipula tempat ini dekat dengan tempat kerjaku." Jawab Dokter Meitha diiringi tawanya.
Benar juga, taman ini dengan dekat Willians Hospital.
"Kalau begitu bergabung saja bersama kami. Tidak apa kan, Fred?" Ellia beralih pada Fredy yang sedari tadi menyimak percakapan dua wanita berkacamata itu.
"Tentu saja, silakan." Ucap Fredy.
"Oh ya Dokter Meitha, kenalkan ini Fredy. Dan Ferdy, ini Dokter Meitha." Ellia saling mengenalkan kedua orang itu. Fredy pun bangkit dan mengulurkan tangannya.
"Fredy Luxer."
"Meitha Annelize."
Keduanya bersalam singkat dan kembali duduk. Dokter Meitha duduk di samping Ellia dan bersebrangan dengan Fredy.
"Cantik." Pujian itu lolos begitu saja dalam hati Fredy. Dokter itu mengenakan kemeja merah muda dan juga rok span hitam selutut. Dan itu terlihat memesona di mata Fredy.
"Oh ya, Nyonya Ellia. Apa Tuan Anders tidak ikut kemari?" Tanya Meitha. Karena ia merasa sedikit aneh, Ellia pergi dengan lelaki lain bukan dengan Anders. Fredy dan Ellia juga seperti memiliki hubungan. Fikirnya.
"Anders? Dia mengantar kami tadi. Tapi langsung ke kantor karena ada rapat." Ellia menerangkan. Dokter Meitha mengangguk-anggukkan kepalanya. Di kiranya Anders tak tahu jika Ellia pergi keluar.
Mereka terlibat percakapan ringan, sambil menikmati makanan dan minuman masing-masing.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊