Ellia Im Sorry

Ellia Im Sorry
CHAPTER 51. LAGI-LAGI DADDY!



Seorang wanita paruh baya menatap sendu pada putra semata wayangnya.


"Jadi Ellia sudah menikah dengan Anders Calvert?" Tanyanya.


"Ya."


Frida yang awalnya duduk berhadapan dengan Fredy pindah ke sampingnya.


"Kau yang sabar ya. Kalau jodoh itu tak akan ke mana." Hiburnya sambil mengusap lembut bahu putranya.


"Ya, sama seperti Anders dan Ellia. Sejauh apapun Anders pergi, dirinya akan kembali pada Ellia. Bahkan di saat Ellia hampir menikah denganku, tapi Tuhan malah mengikat mereka dalam pernikahan." Lirih Fredy.


"Fredy, kalau Ellia jodohmu, dia pasti akan kembali padamu."


"Dan jika Ellia memang tidak berjodoh denganku, tidak apa-apa kan? Mama tidak akan membenci Ellia dan juga Emily kan?" Tanya Fredy sendu. Terdengar Frida menghela nafas panjang.


"Tentu, asal kau bisa menerima semua ini dengan ikhlas. Mama pun akan melakukan hal yang sama denganmu. Ellia sudah Mama anggap seperti anak Mama sendiri begitu juga dengan Emily. Jadi Mama tidak mungkin membenci mereka." Terang Frida, Fredy tersenyum simpul.


"Terima kasih, Mama."


"Kau anak yang baik. Mama yakin kau akan mendapatkan jodoh yang terbaik nantinya."


Ibu dan anak itu saling berpelukan. Baru saja Fredy menceritakan pada ibunya tentang penyakit Emily dan juga Ellia yang menikah dengan Anders. Walau merasa kecewa, Frida akan mendukung apapun keputusan Ellia dan juga Fredy yang sudah tidak berharap lagi pada Ellia.


_


_


_


Setelah hampir dua jam menungggu, akhirnya puding coklat tersebut jadi sudah.


"Emily, pudingnya sudah jadi." Ellia mengeluarkan puding itu dari lemari es, sedangkan Emily menunggunya di meja makan.


"Wah, sepertinya lezat."


Sebuah puding coklat dengan ukuran yang lumayan besar dan juga potongan buah di sisinya, terlihat begitu menggugah selera.


"Tentu saja, karena Mama dan Emily yang membuatnya."


"Boleh Emily makan?" Emily terlihat antusias.


"Tentu boleh, sayang." Ellia mendudukkan tubuhnya di kursi samping Emily.


Tapi gerakan Emily yang hendak memotong puding itu mendadak terhenti.


"Em, nanti saja Emily memakannya." Ujarnya sambil melipat tangannya di atas meja.


"Kenapa? Tadi Emily bilang mau makan pudingnya?" Tanya Ellia heran.


"Kita tunggu Daddy pulang saja. Emily mau makan pudingnya bersama Daddy." Jawab Emily, Ellia menipiskan bibirnya. Lagi-lagi Daddy!


"Tidak apa, Emily tetap akan menunggu Daddy." Jawab Emily dengan yakinnya.


"Baiklah kalau begitu, Mama simpan kembali puding ini di kulkas." Jawab Ellia pasrah, dan menyimpan puding itu kembali.


_


_


_


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.30


Mobil Anders baru saja tiba di halaman mansionnya.


"Mama, lihat! Itu mobil Daddy sudah datang!" Sorak Emily yang sedari tadi mengintip di jendela depan menunggu Anders pulang.


"Ya, sayang." Sahut Ellia.


Tak lama pintu pun terbuka.


"Daddy!" Emily langsung memeluk kaki Anders, lelaki itu sempat terkejut karena tiba-tiba Emily memeluknya.


"Astaga, sayang. Kau mengejutkan Daddy." Ucapnya sambil mengusap-usap dadanya. Gadis kecil itu hanya tertawa saja.


"Aku senang Daddy pulang cepat hari ini." Ujar Emily yang masih memeluk kaki Anders. Pria itu tersenyum kaku, padahal kemarin dirinya juga pulang di jam yang sama. Tapi untuk menghindari Ellia, dia jadi mampir dulu ke tempat lain.


"Daddy, aku punya sesuatu untuk Daddy." Kata Emily sambil melepaskan pelukannya di kaki Anders.


"Oh, ya? Apa itu?" Tanya Anders, sedikit penasaran.


"Tapi Daddy mandi dulu." Sahut Emily.


"Mandi? Kenapa Daddy harus mandi dulu?" Tanya Anders heran.


"Ya karena Daddy habis bekerja. Pasti bau keringat."


Anders hanya bisa tertawa mendengar celotehan anaknya. Selama bekerja dirinya ada di ruangan ber AC, jadi tidak mungkin berkeringat.


"Emily, kau fikir Daddymu bekerja di lapangan? Ruang kerja Daddymu di kantor pasti tidak jauh berbeda dengan yang berada di mansion ini." Batin Ellia.


"Okey, kalau begitu Daddy mandi dulu." Anders mengecup singkat kening Emily, dan berjalan menuju kamarnya. Diliriknya Ellia yang sedang duduk di sofa dengan wajah datarnya.


"Ehm." Anders hanya berdehem sambil melangkah melewati Ellia tanpa berani menegurnya.


......................


JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊