Dragon Soar To The Sky (Rewrite)

Dragon Soar To The Sky (Rewrite)
Chapter 98



"Hahaha... Luar biasa. Tak kusangka kau bisa melukai lenganku."


"Tertawalah selagi masih bisa, sebelum aku memenggal kepalamu."


"Hoo... Bukankah kau sudah terlalu membesar-besarkan kemampuanmu?"


"Apapun yang kau katakan, aku tidak peduli."


"Inilah kenapa aku sangat membenci kalian para Anak muda. Akan kuajarkan bagaimana caranya untuk sopan kepada orang yang lebih tua."


"Datanglah..."


"Sesuai keinginanmu."


Belivor mulai mengeluarkan Aura hitam, menyelimuti seluruh tubuhnya.


"Aura ini mempunyai esensi yang sangat kotor, baunya juga sangat menyengat."


"Ketika kau menjual jiwamu kepada Dewa, maka mereka akan memberikan kekuatannya. Perhatikan ini..."


Lengan yang terpotong mulai beregenerasi. Apakah ini juga kekuatan dari Phalanx?


"Tampaknya kau sedikit terkejut. Kemampuan Phalanx tidak hanya ini lho."


"Heh, apa hebatnya dari alat buatan itu."


"Akan kuperlihatkan..."


Aura hitam itu membentuk suatu baju zirah yang melapisi tubuh Belivor, membuatnya semakin kuat dan ganas.


"Majulah, perlihatkan kekuatan yang kau banggakan itu."


"Strain Hand..."


Aku tidak bisa bergerak...


"Percuma saja, kau tidak akan bisa bergerak. Cursed Blast..."


Belivor mengumpulkan Mana di bagian tangan kanannya...


"Kuh... Barrier. Apa yang terjadi?"


"Selama kau dalam pengaruh Strain, kau tidak akan bisa bergerak ataupun mengeluarkan sihir. Pertama terima ini..."


Pukulan yang sangat keras dari Belivor mengarah ke kepala Vallen, suaranya menggelegar bagaikan auman singa.


Vallen terhempas dan menghantam bukit.


"Aargg..." Muntah darah.


Seakan tidak memberikan waktu, Belivor secara instan berada di depan Vallen dan mencengkram kepalanya.


"Selanjutnya..."


Belivor melempar Vallen ke udara...


"Aerial Wind..."


Sebuah sihir yang mengeluarkan elemen angin, melesat dan menusuk badan Vallen.


"Sialan... Apakah sudah selesai, Kusanagi?"


"Tuanku, Energi sudah terkumpul. Panggil aku."


Setelah Kusanagi mengumpulkan Energi, Vallen memanggilnya kembali.


"Purify Status..."


"Hoo... pedang itu bisa menghilangkan efek negatif, dan pengaruh sihir ya."


"Kusanagi, kita akan selesaikan ini dengan satu serangan."


"Baik, jika itu keinginan anda."


Belivor mengambil ancang-ancang.


"Ho, mau menyelesaikan semua dalam satu serangan ya? Baiklah, aku juga mulai bosan. Dark Matter..."


Belivor menyilangkan kakinya, melayang dan mengumpulkan Mana di sekitar tangannya.


"Kusanagi, kita akan menggunakan itu..."


"Tuanku, dengan kondisi anda saat ini. Sihir itu akan sangat berbahaya..."


"Tidak masalah, aku akan keluarkan semuanya. Jadi, lahaplah jiwaku."


"Tuan..."


"Percayalah padaku, Kusanagi."


"Baiklah Tuanku..."


Kusanagi mengeluarkan rantai api yang menyelimuti tangan kanan Vallen sepenuhnya.


"Uhg... memang pantas disebut sebagai pedang Legenda..."


"Tuanku... Apa anda baik-baik saja."


"Iya, lanjutkan... seraplah sebanyak yang kau mau."


Belivor sudah menyelesaikan sihirnya.


"Aku datang, Bocah."


Belivor membuat bola hitam raksasa dari Mana yang telah terkumpul, seketika dia melemparkan bola itu ke arah Vallen.


"Kusanagi..."


"Sudah siap, Tuanku."


"Kerja yang bagus... Shinmeryu Ougi: Seiryu Senga."


Aura api berwarna biru kehitaman menyelimuti Kusanagi.


Vallen melompat ke arah bola raksasa yang dilempar Belivor, dia menebas bola raksasa itu dalam satu serangan, tebasan bagaikan bentuk bulan sabit memotong bola raksasa dan mengenai Belivor. Namun, ledakan besar terjadi. Ledakan yang sangat besar bahkan sampai terdengar hingga jarak puluhan kilo meter.


Kamp Puteri Arleana...


"Ledakan yang sangat besar, ini pertarungan Vallen. Apakah dia akan baik-baik saja?"


"Tenanglah Kakak, kita hanya bisa berdoa."


"Iya, kau benar." Vallen, semoga kau baik-baik saja.


Tempat Pertempuran.


Vallen tergeletak di tanah, sedangkan Belivor...


"Hahaha... Luar biasa, aku belum pernah merasakan sensasi seperti ini. Jika bukan karena Phalanx, aku sudah terpotong oleh pedang itu."


Belivor berjalan mendekati Vallen.


"Akhirnya aku bisa membawa pedang ini kepada Maestro."


Di suatu tempat, Vallen berdiri.


"Apakah aku sudah mati? Jadi seperti ini rasanya..."


"Lihatlah ke sini wahai anak Manusia."


Vallen menoleh kebelakang, dia melihat seorang Pria duduk di sebuah singgahsana. Pria itu berambut hitam pekat, mata biru bagaikan batu Safir, dan dia memakai baju semacam anggota Kerajaan.


"Oh, apakah kamu yang menjaga tempat ini?"


"Bukan, tepatnya aku berada di dalam tubuhmu."


"Di dalam tubuhku? Apa maksudmu?"


"Tidak kusangka kau begitu bodoh ya? Sudah beberapa kali aku memanggilmu..."


"Memanggilku? Apakah kamu adalah?"


"Jadi apakah kau bermaksud mengucapkan salam perpisahan sebelum aku mati?"


"Jangan bicara omong kosong, kau tidak akan mati untuk saat ini."


"Apa yang kau rencanakan?"


"Saat ini, kehidupanmu ditompang oleh Fragment ini, artinya aku sedang memegang nyawamu kali ini."


"Kau memegang nyawaku? Jangan membuatku tertawa..."


"Jika aku mau, kau akan mati. Jika kau mati, tubuhmu akan kehilangan rohmu, dan pada saat itu aku akan mengambil alih tubuhmu."


"Kau..."


"Bukankah ini menyenangkan, aku akan membunuh orang-orang yang kau sayangi."


"Hentikan...!"


"Mereka tidak akan menyangka kalau mereka akan dibunuh olehmu, orang yang mereka sayangi. Hahaha."


"Hentikan itu, aku akan membunuhmu...!"


"Mata yang sangat bagus... Pilihlah Vallen, kau mati dan aku mengambil alih tubuhmu, atau kau memilih untuk hidup tetapi dengan satu syarat."


"Apa yang kau mau?"


"Kau harus berbagi kesadaran denganku."


"Apa untungnya buatmu?"


"Seperti yang kau lihat, tempat ini terasa sangat suram. Aku sudah muak berada di tempat ini. Jika kau berbagi kesadaran denganku, aku akan melihat semua yang kau lihat, aku juga akan merasakan apapun yang kau rasakan, dan aku juga akan memberikan sebagian dari kekuatanku ketika kamu sedang kesusahan. Sebagai gantinya, aku akan menompang kehidupanmu saat ini hingga kau bisa hidup dan pulih kembali... Bagaimana menurutmu?"


"Aku setuju..."


"Oh aku punya satu syarat lagi, ketika kau sedang dalam keadaan terpojok seperti tadi, aku akan mengambil alih paksa tubuh dan pikiranmu. Jika kau mati, maka aku juga akan mati."


"Berjanjilah kau hanya akan mengambil alih tubuhku ketika aku sedang dalam keadaan hidup dan mati."


"Baiklah, kontrak terjalin. Dengan kehendakku sebagai Kaisar Naga, aku menjalin kontrak kehidupan denganmu."


"Aku, Vallen. Menerima kontrak ini."


Belivor bersiap mengambil Kusanagi. Namun...


"Eh, kau masih hidup ya."


Vallen memegang lengan Belivor, menghentikan gerakannya.


"Sialan kau... Ugh."


Vallen memukul muka Belivor.


"Mustahil, bagaimana kau masih bisa tetap hidup... Argh.."


Rambut Vallen mulai berubah menjadi hitam, kulitnya putih pucat.


"Vallen, kau hampir mati hanya karena melawan kecoak sepertinya? Dasar lemah."


"Siapa orang ini? Kenapa dia berubah? Tidak, bukan hanya penampilannya saja yang berubah, tetapi sifatnya juga berubah."


"Hoi kamu... Aku merasakan suatu Energi yang sangat kotor dari baju zirahmu, dan itu rasanya sangat... Menyebalkan."


Vallen mengetuk zirah Belivor, seketika Phalanx itu hancur bagaikan debu.


"M-Mustahil..." Belivor mengambil jarak. "Apa yang kau lakukan?"


"Hoi ayolah jangan terlalu kaku seperti itu..."


"Kau... Siapa kau?"


"Siapapun aku, kau tidak ada hak untuk tahu. Makhluk hidup sepertimu yang seperti hama, itulah kenapa dulu aku sangat membenci Manusia..."


"Apa yang orang ini bicarakan..."


Vallen mengambil Kusanagi.


"Hohh, jadi ini pedang Kusanagi?"


Belivor bersiap.


"Sial, masih belum berakhir kah? God Hand..."


Belivor melancarkan serangan ke arah Vallen. Namun...


"A-Apa... Mustahil, kau menahan pukulanku hanya menggunakan satu jari?"


"Jadi seperti itu ya, beraninya kau menyebut kata Dewa ketika berhadapan denganku."


"Ugghhh, tanganku... Aarrgg."


Vallen melintir tangan Belivor, dan menariknya hingga putus.


"Aarrgg... Sakit....! Sakit sekali...!"


"Dewa adalah suatu keberadaan yang sangat kubenci... Hahaha aku akan membunuh semua Dewa, suatu saat nanti."


"Ka-Kau... Siapa kau sebenarnya?"


"Aku adalah keberadaan yang dapat membunuh Dewa."


Aura tekanan yang sangat kuat muncul, hal ini membuat hewan-hewan disekitar menjadi ketakutan.


"Sekarang karena kau sudah tahu siapa aku, inilah waktunya kau untuk, mati..."


"Arrgg tidak-tidak.... Ampuni aku..."


Belivor merangkak kesakitan, mencoba menjauh dari Vallen.


"Dengan ini, usai sudah."


Vallen mengangkat pedang, bersiap untuk menebas Belivor. Namun, karena Vallen merasakan keberadaan sihir mendekat, dia mencoba menghindar.


"Hmm siapa kalian?"


"Sudah cukup sampai disini."


"Kau... Lucas, selamatkan aku..." Belivor memohon.


"Kau memilih lawan yang salah ya, Belivor. Jangan khawatir, aku akan membawamu."


"Wah, kalian mau kabur? Cobalah kalau kalian bisa!"


"Kalian, buat penghalang." Lucas memerintahkan anggotanya, dan kemudian pergi.


"Siap."


"Hoi-Hoi... Pemimpin seperti apa yang meninggalkan anak buahnya seperti ini?"


"Penghalang diaktifkan..."


Sebuah Barrier melingkari area sekitar Vallen.


"Hanya mainan seperti ini..."


Vallen menjentikkan jarinya yang kemudian mengeluarkan gelombang suara, mengancurkan Barrier itu seketika.


"Ulur waktu, agar Pemimpin bisa kabur."


"Tsk... Berisik."


Tebasan pedang yang tidak berbunyi, tidak berbentuk, tidak terlihat. Seketika membuat tubuh orang-orang itu terpotong dengan sangat rapi.


"Hahh... Sihir teleportasi kah? Yah, apa boleh buat. Hanya dua tikus yang kabur. Saatnya pergi."


Vallen tergeletak, rambut yang hitam itu kemudian secara perlahan kembali menjadi warna perak.


"Oh, akhirnya aku kembali yah. Dia sangat kuat."