
Vallen akhirnya tiba di suatu penginapan yang mewah lengkap dengan Resepsionis, beberapa koki, tempat makan, dan juga Bar.
"Hoi Dolas, tidak kusangka kamu mempunyai penginapan yang sangat mewah."
"Haha, maaf jika aku berkata jujur kau mungkin tak mau ikut. Kamu tahu penginapan kita bernama Shione dan merupakan salah satu penginapan terbaik di desa ini."
Tiba tiba ada seseorang wanita yang sangat cantik dan imut memotong pembicaraan mereka.
"Oh Dolas, siapa dia?" Ucap seorang Wanita.
"Ah, namanya Vallen dia seorang Petualang."
"Selamat datang di Shione, apakah anda ingin bermalam di tempat kami?"
"Kak, dia sebenarnya tidak membawa uang sepeserpun."
"Hoi Dolas, bagian itu tidak perlu kamu katakan."
"Hahaha maaf maaf... Vallen perkenalkan ini adalah Kakakku namanya Sistine dan dia mungkin seumuran denganmu. Dia sangat cantik dan dia masih jomblo lho."
"Duh Dolas ... Apa yang kamu katakan. Oh iya, Vallen salam kenal ya." Ucap Sistine sambil tersenyum.
"Ah iya, salam kenal juga dan maaf sudah mengganggu, saya mohon bantuannya."
Vallen dan Sistine saling bertatap muka dan tersenyum.
Disaat mereka berdua saling menatap satu sama lain. Dolas merasakan ada sesuatu diantara mereka, Dolas secara tiba-tiba pergi tanpa suara.
Vallen dan Sistine saling terpana satu sama lain hingga mereka sadar dan saling memalingkan wajah dengan raut wajah tersipu malu.
"Ka...kamu sebaiknya ikut denganku." Ucap Sistine dengan pipi yang merona.
Vallen yang kaget mendengarnya.
"Ah, Se...secepat itu kamu mengajakku Kencan."
"Buk...bukan itu. Hu... Apa yang kamu katakan, aku akan mengantarmu ke Resepsionis untuk menginap di sini kamu tahu." Sistine mengatakan itu dengan menutupi wajahnya.
"Ah... itu benar. Maafkan aku tadi..."
Setelah Vallen selesai mengurus izin dari pemilik penginapan, dia disambut dengan baik dan diberikan pelayanan tanpa harus membayar apapun.
Dia masuk ke kamarnya dan berbaring di kasur yang empuk dan memikirkan apa yang sudah terjadi selama ini.
"Besok aku akan memasuki Lembah, apakah aku memang bisa memasuki tempat itu dan mendapatkan kekuatan atau malah mendapatkan petaka. Sial ini adalah suatu pertaruhan."
Vallen teringat perjuangan kedua Orangtuanya.
"Ibu dan Ayah, maaf mungkin aku akan terlambat untuk pulang ke rumah. Aku juga tidak akan pernah melupakan janji kita Ren." Vallen sambil memegang kalung yang pernah diberikan oleh Ren disaat mereka membuat sebuah janji.
Perlahan Vallen menutup matanya dan beristirahat dengan nyenyak.
Mentari bersinar dan Vallen bersiap untuk berangkat, dan berpamitan dengan Dolas dan Sistine.
"Sampai berjumpa lagi teman."
"Selamat jalan Vallen, aku berharap kamu akan bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan."
"Terima kasih banyak."
Vallen akhirnya berangkat.
Setelah 85 menit berjalan. Vallen akhirnya sampai di Lembah Misterius itu. Sebelum dia memasuki Lembah, dia melihat sesuatu di sekitar hutan.
"Hmm apa itu, bentuknya menyerupai daging tapi, apa ya?"
Ternyata gumpalan daging itu merupakan bagian dari lidah ular yang sangat besar berukuran sekitar 12 meter. Ular ini menarik mangsa dengan lidah yang berbentuk seperti daging.
"Sshhhhhhh...." Ular itu mendesis.
Vallen tersentak dan langsung berlari.
"Sial, tidak ada yang bilang kalau akan ada Ular sebesar ini!"
Ular itu terus mengejar Vallen dan memaksa dia untuk terus masuk ke dalam lembah.
"Ada apa dengan Ular ini, sangat cepat dan gesit. Padahal tubuhnya sebesar itu."
Tiba tiba Vallen merasa pusing dan merasa ada yang salah tentang hawa disekitarnya.
"Ahh kepalaku tiba tiba pusing, kabut ini ... Sial, kalau tidak salah ini adalah kabut dari racun tanaman yang ada di Lembah, bagaimana aku bisa melupakannya."
Pandangan Vallen memudar dan jatuh pingsan.
"Arg... apakah aku akan mati? Maafkan aku semuanya karena tak bisa memenuhi janji kalian." Ucap Vallen sambil memegang kalung pemberian Ren.
Vallen berhalusinasi tentang Ren sedang memangku dirinya.
"Ren tidur di pangkuanmu terasa sangat nyaman. Aku bisa mati dengan tenang jika ada kamu di dekatku."
Ren membalas. "Vallen bangun, sudah waktunya kamu membuka mata. Kalau tidak bangun nanti kamu akan mati."
Pada saat itu Vallen bangun dan tiba-tiba berada di sebuah kuil.
"Sial, aku masih merasa pusing. Dimana ini? Apakah aku berada di dalam kuil. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Disaat Vallen kebingungan, tiba-tiba ada gemuruh dan petir menyambar dengan ganas, dan setelah itu Naga berwarna emas itu muncul dan Mengaum sangat kencang.
"Roar... Wahai anak Manusia. Akhirnya setelah 17 Tahun kita berjumpa lagi, aku sudah menunggumu."
"Hah menungguku, apa maksudmu?"
Vallen ketakutan melihat wujud Naga besar itu.