
Vallen mengejar Puteri Chloe.
"Puteri, apa yang terjadi?"
"Aku mendapat Vision. Istana diserang, Pusaka Kerajaan hilang, dan Kakakku akan... Mati."
Vallen dan Chloe segera bergegas menuju ruangan Arleana.
"Kakak... Buka pintunya."
Tidak ada jawaban.
"Vallen, dobrak pintunya."
"Baik, Puteri. Anda mundurlah."
Vallen menendang pintu ruangan Arleana. Namun, kondisi ruangan itu berantakan.
"Oh tidak... Kakak... Kamu dimana?"
Vallen melihat bercak darah di lantai.
"Puteri, lihat ini."
"I-Ini... Darah. Mustahil, apakah sudah terlambat?"
"Tidak, sepertinya Puteri tengah dibawa oleh mereka."
Chloe menyentuh darah itu, dan melacak keberadaan Kakaknya.
"Kumohon Eye Of God, cari keberadaan Kakakku."
Dalam pikiranya, dia melihat bagaimana kejadian ketika para penculik itu masuk dan membawa Arleana.
Pada saat itu, diruangan Arleana.
"Sigh... Dokumen ini terlalu banyak. Oh iya, kan ada Vallen sekarang, aku akan meminta bantuannya nanti."
Tiba-tiba jendela terbuka.
"Hmm, angin kah? Uhhmm.... Dingin sekali."
Arleana menutup jendela.
"Yosh... Kembali bekerja."
Dari belakang Arleana ada seseorang berdiri, kemudian langsung mendekap mulut Puteri, dan membiusnya.
(Sial, aku lengah... Setidaknya aku bisa menyerangnya.)
Arleana yang tengah membawa jepit rambut, kemudian menancapkan ujung yang tajam itu ke kaki penculik itu.
"Akkhh... Sialan kau."
Arleana terlepas.
"Mundur... Si..apa...kal.."
Arleana yang terkena efek bius, kemudian secara perlahan kehilangan kesadaran, dan tumbang.
"Hoi cepat bawa dia...."
Itulah kejadian yang muncul di pikiran Chloe.
"Vallen, mereka ke arah Barat. Cepatlah."
"Baik, Puteri."
Dengan sigap Vallen melompat dari jendela dan mengejar Arleana, dengan sisa bercak darah yang berceceran, Vallen melacak arah para penculik itu.
Masa depan berubah.
"Auch... Oh tidak, dia akan bertemu dengan orang Itu. Aku harus segera mengejarnya."
Chloe kemudian mengejar Vallen, tapi karena tubuh fisik yang lemah, dia berlari dengan pelan.
Di sisi lain, terlihat tiga orang dengan pakaian serba hitam tengah berlari dengan membawa seseorang Wanita.
"Bagaimana, apakah darahmu sudah berhenti keluar?"
"Tenang saja aku juga sudah membuat tiga bayangan untuk berpencar, dan masing-masing membuat darah mereka tercecer. Jejak kita aman."
"Baiklah kalau begitu."
Kambali ke Vallen.
"Para penculik ini pintar, dari sini kemudian muncul bercak darah yang mengarah ke 4 arah."
(Sekarang... Aku harus kemana ya...? Dragon Eye.)
Penglihatan Vallen berubah, dia bisa melihat hawa panas dari Makhluk hidup. Penglihatan yang mirip dengan seekor Naga.
(Ke arah Utara kah?)
Vallen kemudian melesat dengan cepat ke Utara.
Sementara itu.
"Baiklah berhenti, buat lingkaran Teleport disini. Aku yakin kita sudah cukup jauh."
"Baik, Ketua."
Dua orang mulai membuat suatu lingkaran Teleportasi. Namun...
"Hmm, hoi siapa kamu?"
Seseorang berpakaian hitam, dengan memakai topeng.
Pria bertopeng melihat Arleana. Dengan belatinya, dia mengambil kuda-kuda.
"Ketua, serahkan ini kepadaku."
Pria bertopeng kemudian menghilang dengan asap berwarna hitam.
"Hmm, dimana dia?"
Secara tiba-tiba perut tertusuk.
"Ap...a."
Satu penculik tumbang.
"Hhehh lumayan. Ayo maju..."
Pria bertopeng mulai maju, dengan sihir kegelapan. Dia kembali masuk ke dalam asap hitam.
"Menghilang lagi ya. Hati-hati... Dia lumayan kuat."
Belati mengarah ke kepala, tertangkis...
"Disana kah... Fireball..."
Sebuah peluru api melesat mengenai jubah daripada Pria bertopeng.
"Ketua, lingkaran Teleportasi sudah siap. Kita bisa langsung membawa Wanita itu dan langsung pergi."
"Baiklah... Hoi lawanmu adalah aku."
Penculik kedua mulai mengangkat Arleana. Namun, Pria bertopeng dengan sigap melesat dan mengincar.
"Kena kau... Ice Break...."
Sebuah sihir Es yang membuat targetnya membeku.
"Mati kau..."
Penculik itu menebas kepala Pria bertopeng, dan bergelinding, kemudian berubah menjadi asap hitam.
"Sial ini jebakan. Hoi hati-hati..."
Ketika penculik itu menoleh, Pria bertopeng sudah membunuh rekannya.
Namun dengan topeng yang sudah lepas, dia melihat wajah asli Pria misterius itu.
"Heh, ternyata kamu hah? Sudah kuduga ada pengkhianat."
"Kau terlalu banyak bicara. Matilah."
Dengan gerakan yang halus, dia menebas leher penculik.
"Ternyata prediksinya tepat."
Pria itu kemudian membawa Arleana...
Disaat yang sama.
"Ada bau darah di depan."
Vallen segera menuju tempat itu.
Disana dia melihat seseorang sedang membawa Arleana.
"SIALAN KAU CYLAZ.... Kembalikan Puteri Arleana."
Cylaz menoleh.
"Huh? T-Tunggu sebentar... Ak.."
"Persiapkan dirimu."
Vallen menghunus Kusanagi... Pedang yang sangat tajam itu menjawab keinginan penggunanya.
"Pedang itu... Mustahil.."
Cylaz melihat bayangan Naga yang memutari tubuh Vallen. Naga itu seakan mengikuti ayunan pedang Vallen.
"Dragon Eye."
"T-Tunggu sebentar Vallen...."
Vallem tak menghiraukan dan melesat secepat kilat... Pohon yang dilewati oleh jalur Vallen terpotong dengan rapi.
Cylaz yang segera akan menghilang terkena sihir ilusi dari Vallen, menganggu gerakannya, dan mengincar leher Cylaz.
"Dengan ini... Kau akan mati. Lightning Step."
Gerakan Vallen disertai percikkan listrik mulai mengalir ke seluruh area.
Tak lama pedang itu hanya berjarak 1cm sebelum mengenai leher Cylaz. Tiba-tiba dari belakang terdengar teriakkan.
"BERHENTI..!"
Vallen tersentak, dan berhenti.
"Puteri Chloe, kenapa anda bisa kesini?"
Cylaz yang terlepas dari ilusi kemudian menusuk leher Vallen dengan jarum pelumpuh.
"Arrg...."
Vallen mencabut jarum itu.
"Trik...ini.. Lagi...huh?"
Seketika Vallen pingsan dan tumbang.