
Ketika Vallen berada di dalam kereta, dia melihat keluar jendela, dan melihat banyak sekali orang yang melambaikan tangan, mereka semua bahagia.
"Suatu Kota yang sangat hidup, dimana Rakyat-nya merasakan kebahagiaan."
"Itu benar Tuan Vallen. Kota ini sangat makmur, anda bisa melihat semua senyuman yang terpancar ini."
"Ini adalah Kota yang indah."
(Sayang sekali aku tidak melihat pemandangan seperti ini saat di desa perbatasan, aku harap Noble yang baru bisa menjaga kesejahteraan desa-desa yang berada di dekat perbatasan.)
"Melihat dari ekspresi anda saat ini, apakah ada yang anda khawatirkan Tuan?"
"Itu... Ya, aku khawatir dengan mereka."
"Mereka?"
"Ah, lupakan. Ini adalah pembicaraanku sendiri."
"Aku yakin Noble yang baru akan sangat baik dalam menjaga kepercayaan, jika itu yang sedang anda khawatirkan."
"Anda sangat hebat dalam menebak ya."
"Ada satu orang yang menunjukkan ekspresi yang sama seperti anda. Sebelum dia menghilang, pada saat itu aku menjadi kusir pribadinya. Dan apakah anda tahu? Hal yang dia khawatirkan itu juga satu, yaitu kesejahteraan."
"Tepatnya siapa sebenarnya orang yang anda maksud ini?"
"Putera Mahkota dari Raja Estora ke-74, Julius Alxandria."
(Apakah itu Ayah? Astaga, orang ini adalah kusir pribadi Ayahku.)
"Aku penasaran dimana dia saat ini, orang tua ini sangat ingin sekali bertemu lagi dengannya."
"Anda tidak perlu khawatir Pak. Orang yang anda maksud itu adalah, Ayahku sendiri."
Pak Kusir itu terkejut ketika mendengar hal itu. Dia seakan tidak menyangka jika orang yang dia bawa saat ini, adalah merupakan anak kandung dari orang yang pernah dia layani dengan sepenuh hati.
"Aku sangat senang mendengar hal itu. Kali ini, jika nanti nyawaku akan dicabut. Aku sudah puas, karena bisa mendengar kabarnya lagi."
"Apa yang telah di lakukan Ayahku hingga membuat anda menjadi sangat setia kepadanya?"
"Dia adalah penyelamat hidupku. Pada saat itu, aku adalah orang yang berasal dari desa pinggiran, keluargaku sedang dalam keadaan yang sangat susah. Isteriku sedang sakit, anak-anakku kelaparan. Sebagai kepala keluarga, tentu saja sudah kewajibanku untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, kami terbelit hutang dimana-mana. Sampai pada saat itu, aku dalam titik terendah dalam hidupku. Akhirnya aku bergabung dalam lingkungan bandit. Pekerjaan itu membuahkan hasil, berkat itu aku bisa membeli obat untuk Isteriku, anak-anakku bisa makan dengan kenyang."
"Anda dulu seorang mantan bandit?"
"Itu benar. Pekerjaan kotor, seperti mencuri, merampas kereta orang dijalan. Semua itu pernah kulakukan hingga perasaan bersalah muncul, ketika aku ingin berhenti, para bandit itu menyandera keluargaku, aku tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan mereka. Sampai aku bertemu dengan beliau."
"Apa yang terjadi setelah itu?"
"Ayahku? Bagaimana dia..."
"Dia juga seumuran anda pada saat itu. Kurang lebih seperti ini ceritanya..."
...
..
"Berbahaya, pasukan Kerajaan sudah mendekat. Lari... Lari.."
"Whooaaa...."
Bunyi teriakan, suara libasan pedang, terdengar dimana-mana. Pada saat itu aku hanya bisa lari. Aku melihat seseorang anak muda, dengan gagahnya dia menaiki kuda yang berlari kencang, dan menebas semua musuhnya. Seketika dia kemudian berada di hadapanku. Aku pasrah, dan bersiap untuk mati. Dalam benakku aku berkata, apakah ini hukuman atas semua perbuatanku?
Namun dia tidak bergerak sedikitpun, kemudian dia turun dari kudanya, dan mengampiriku.
"K-Kenapa anda tidak membunuhku? Tolong hukumlah aku, Tuan. Namun, aku ada sebuah permintaan, sesudah aku mati. Tolong antarkan barang ini ke keluargaku..."
"Mengapa aku harus?"
"Itu benar, pasti anda tidak akan bersedia menerima permintaanku, lagipula aku adalah orang yang jahat, aku suka mencuri, aku membuat orang lain menderita. Bunuh aku Tuan, bebaskan aku dari belenggu ini."
"Orang yang jahat yah? Apakah orang jahat membawa boneka manis seperti itu? Apakah orang yang jahat akan mengakui kejahatannya semudah itu? Apakah orang jahat selalu memeluk sebuah obat, dan roti di dadanya?"
"Ini adalah.."
"Dimataku anda bukanlah orang yang jahat. Anda seperti orang yang meminta sebuah pertolongan."
"Aku adalah orang yang paling menyedihkan...."
Air mataku tidak terbendung.
"Ikutlah denganku..."
"Eh..? Kenapa...?"
...
..
"Setelah itu, dia memberikan aku sebuah pekerjaan. Dia memberikan aku rumah untuk keluargaku. Berkat beliau, anak-anakku bisa bersekolah. Kehidupan kami bahagia. Dan itu semua adalah berkat Ayah anda yang telah memberikan tempat berteduh yang sangat nyaman."
"Jadi seperti itu kah?"
(Ayah, seberapa banyak kisah yang telah kau jalani?)