
"Vallen, Hoi... Cepat bangun, pelajaran sudah selesai."
Ucap seorang Gadis yang mencoba membangunkan seseorang.
"Hooamm(Menguap)... Berisik sekali kamu Ren."
"Kamu tidak boleh seperti ini, kamu sendiri yang bilang kalau ingin menjadi murid Akademi. Setidaknya kamu harus tahu pengetahuan dasar dari Kerajaan kita..!"
"Tentu saja, aku pasti akan mengikuti Incerenation, dan pasti aku akan meraih bakat terkuat. Hahaha..." Ucapnya dengan nada angkuh.
"Hmm... Ya, aku yakin kamu pasti bisa." Ren tersenyum.
(Sial, senyuman Ren terlihat sangat imut.)
Dengan semangat Vallen berkata.
"Tentu saja, percayalah padaku Ren."
"Tapi ingat, kamu harus belajar. Besok, kamu akan berangkat ke Ibukota."
(12 tahun sudah berlalu, dan sekarang umurku sudah mencapai 17 tahun. Waktu terasa sangat cepat.)
"Semoga kamu lulus dan menjadi siswa Akademi."
Ren berbicara sembari tersipu malu.
(Ren terlihat sangat imut kalau sedang malu. Aku menyadari bahwa dia adalah seorang yang sangat spesial bagiku, dan mungkin aku memiliki perasaan kepadanya.)
"Serahkan saja padaku Ren, aku pasti akan lulus tes dan menjadi siswa Akademi. Ketika masa itu tiba, maukah kamu pergi berjalan-jalan denganku?"
(Apa benar seperti ini caranya untuk mengajak kencan seorang gadis? Aku sudah bertanya kepada Ayah kemarin, semoga berhasil.)
"Hmm... Apakah kamu mengajakku kencan?"
"Ah, tidak.... Maksudku itu..."
Vallen mulai gugup.
"Hahaha... Kamu terlihat lucu Vallen. Baiklah ketika kamu nanti pulang kita akan pergi... Kencan."
(Wohooo... Aku tidak menyangka akan berhasil. Ayah, aku berhutang kepadamu.)
"Ehem... Baiklah Ren ayo berjanji."
"Iya Vallen." Ren tersenyum.
Mereka berdua telah menjadi sahabat mulai dari kecil. Ketika Ren disakiti oleh teman-temannya, saat itu juga Vallen melindunginya, hingga sampai sekarang pun mereka tumbuh dan menyadari perasaan satu sama lain.
Vallen akhirnya memiliki perasaan kepada Ren begitu juga sebaliknya. Benih bunga cinta yang sudah mereka tanam dari kecil akhirnya mulai mekar.
"Vallen, aku punya sesuatu untukmu. Ini adalah sebuah kalung yang aku buat sendiri, bahannya aku minta dari Ayahku. Mungkin ini bukan benda mahal dan juga kelihatan jelek, jika kamu tidak menyukainya kamu bisa mengembalikannya kok." Ucap Ren sambil tersipu malu.
"Aku suka hadiahmu kok Ren. Lagi pula, apapun hadiah darimu, aku pasti akan menerimanya."
Mengambil kalung dari tangan Ren.
"Wah... Ini adalah gigi dari Serigala lembah. Ayahmu seorang petualang yang hebat Ren."
"Tentu saja dia adalah Ayah yang terhebat."
Pada sore itu mereka berdua membuat janji, dan kemudian mereka berdua akhirnya pulang ke rumahnya masing-masing.
Vallen bersiap untuk berangkat ke Ibukota besok, sedangkan Ren bersiap untuk membantu Ibunya bekerja di sebuah penginapan khusus bagi petualang.
Di malam hari.
Ren dan Vallen sedang sibuk menyiapkan berbagai hal untuk keperluanya besok.
Keesokan hari.
Matahari pun bersinar menyinari Kerajaan Estora.
"Vallen, Kamu sudah siap kan? Ayah dan Ibu serta Nenek akan menunggu kabar baik darimu Nak."
Ucap Ayah kepada Vallen.
"Jangan lupa untuk makan tepat waktu ya Vallen. Ibu pasti akan selalu mendukungmu Nak."
"Aku pasti akan lolos ujian dan menjadi siswa Akademi. Ayah, Ibu, dan Nenek. Aku berangkat."
Vallen memeluk mereka.
Akhirnya Vallen memulai perjalanannya.
Dia berjalan dan terus berjalan.
Hingga akhirnya malam pun tiba.
"Desa selanjutnya aku rasa masih jauh, apa boleh buat aku harus bermalam di tanah lapang ini."
Di malam itu dia mulai menata tenda, membuat api unggun, memanggang sepotong daging kelinci, hingga akhirnya dia berbaring di dalam tenda kecilnya.
"Hoam... Dingin sekali, tenda dan selimut ini tak bisa melindungiku dari sengatan hawa dingin."
Tetapi tidak butuh waktu lama, Vallen terlelap dalam tidurnya.
Keesokan harinya.
"Selamat pagi dunia... dan juga Akademi Alvarez, aku datang."