Dragon Soar To The Sky (Rewrite)

Dragon Soar To The Sky (Rewrite)
Membawa Kemenangan



Setelah perang antara pasukan tentara bayaran Polac melawan pasukan Knight kerajaan, pertempuran dimenangkan oleh pasukan kerajaan.


Di waktu malam, mereka berpesta dengan bangga. Namun, ada salah satu kejadian yang menarik.


Vallen Deovare. Keputusan Vallen bergabung dengan anggota keluarga Guardian Deovare, disambut dengan baik oleh semua Knight.


"Wahai Knight kerajaan, lihatlah bahwa orang ini(Vallen) telah menjadi bagian dari keluargaku hari ini."


Noir dengan bangga mengumumkan anggota baru keluarganya.


"Selamat kepada Noir-sama, dan Vallen-sama"


"Anda luar biasa."


"Pahlawan Kerajaan Estora."


Para Knight yang selamat dari pertempuran, mereka semua bersenang-senang, berpesta, namun semua itu hanya karena untuk menutupi rasa berduka atas gugurnya saudara-saudara mereka.


"Bersulang atas kemenangan pasukan kita, bersulang untuk saudara-saudara kita yang telah gugur." Panglima berseru.


"Bersulang untuk Kerajaan Estora."


Keesokan harinya.


Para Knight sudah bersiap-siap untuk kembali ke Kerajaan.


"Vallen, jika Kepala keluarga tahu kalau aku bisa merekrut Knight berbakat sepertimu, mungkin dia akan mengunjungi makam leluhur, dan menetap disana selama beberapa hari untuk berdoa. Hahaha."


"Anda terlalu berlebihan Noir-sama. Mungkin kedua orang tuaku yang akan heboh nanti. Hahaha."


"Yah, bagaimanapun juga merekrutmu ketika baru selesai berperang mungkin kurang baik, namun aku tidak akan melepaskan kesempatan apapun. Jujur saja, semua keluarga Guardian di Kerajaan sangat ingin merekrut dirimu di dalam keluarga mereka masing-masing."


"Padahal lebih banyak orang-orang dengan bakat yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan diri saya."


"Lebih percayalah kepada kemampuanmu. Jangan lupa, kamu adalah satu-satunya orang yang diangkat menjadi murid oleh Master Fafnir."


"Apakah karena hal itu yang membuat aku menjadi incaran banyak pihak?"


"Yah, itu juga salah satu alasanya. Tetapi, aku telah melihat sendiri dengan mata kepalaku bahwa kamu adalah orang yang berbakat, dan karena itulah keluarga Deovare ingin merekrutmu."


"......"


Vallen terdiam.


(Dunia ini hanya berpihak kepada yang kuat. Jika kau lemah, maka dunia tidak akan mengakuimu. Hukum yang kejam.)


Setelah beberapa hari berlalu, akhirnya mereka tiba di Kerajaan.


Ketika gerbang dibuka, mereka disambut dengan meriah oleh para penduduk disana.


Beberapa keluarga mencari anak, dan suami mereka. Air mata kebahagiaan mewarnai acara penyambutan mereka, beberapa juga menjatuhkan air mata kesedihan. Knight hanya membawa pulang jasad yang memang bisa dibawa, sedangkan sisanya sudah dimakamkan dengan layak.


Orev Polac digiring, dan dirantai tanganya, sedangkan istri, dan anak-anaknya berada di dalam kereta kuda. Para penduduk yang marah melempari Orev dengan batu.


"Dasar penghianat."


"Kau... Kembalikan nyawa anakku."


"Noble tidak tahu aturan. Semoga Langit akan menghukum kelakuanmu."


Ini adalah pertama kalinya Vallen melihat keadaan pasca peperangan. Dia merasa kesal, karena tidak bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa.


Noir yang melihat Vallen, kemudian menepuk pundaknya.


"Angkat kepalamu Vallen, mereka adalah orang-orang yang sudah kita selamatkan. Nyawa yang berakhir di peperangan, mereka saat ini juga melihat kita. Hormati mereka, busungkan dadamu dengan bangga."


"Siap, Noir-sama."


Setelah para Knight menyerahkan para pemberontak ke Kathredal Ares, mereka kemudian menuju Istana.


Vallen menuju ke aula utama Istana bersama dengan Noir, dan Panglima.


"Selamat datang Panglima, Noir Deovare, dan Vallen."


"Paduka Raja, kami pulang dengan membawa kemenangan."


"Terima kasih banyak atas kemurahan hati Paduka Raja."


"Wahai Knight, istirahatkan badan kalian, karena nanti malam. Istana akan mengadakan pesta keberhasilan untuk kalian."


Akhirnya semua sudah selesai.


Vallen pulang ke kediamannya, seperti biasa dia disambut oleh Maid pribadinya.


"Tiffa, aku pulang."


Vallen terkejut, karena di dalam rumahnya tidak hanya ada Tiffa, melainkan disana juga ada Ren, Sistine, dan Illeria yang sudah menunggu kedatangan Vallen.


"Vallen, selamat datang."


Mereka semua memeluk Vallen, Tiffa hanya berdiri melihat.


(Tsk, dasar wanita budak cinta. Padahal aku juga ingin memeluk Tuanku.)


"Tiffa, apakah kamu mau bergabung?"


"Tidak Tuan Puteri."


"Ayolah, kamu tidak asyik."


"B-Baiklah jika kalian memaksa."


TIffa berlari, dan memeluk Vallen.


"Owh, kalian semua terlalu berat."


"Hei, tidak sopan mengatakan hal itu kepada Wanita." Ren menarik hidung Vallen.


"Ouch... Ren, itu sakit."


Sistine mengecup hidung Vallen.


"Sudah tidak sakit kan?"


"Woah Sistine, kamu curang. Aku juga mau."


Illeria mencium pipi kiri Vallen.


"Ah... Minggir kalian semua."


Ren mencium pipi kanan Vallen.


"Woah, tenang dulu kalian, aku masih baru pulang lho. Aku capek."


TIba-tiba... Tiffa mencium Vallen, dari mulut ke mulut.


"A-APA.....!!!"


Ren, Sistine, dan Illeria sangat terkejut.


"Hehm, ada apa dengan kalian? Aku juga ingin mencium Tuanku."


"K-Kau padahal bisa mencium keningnya kan, Tiffa?"


Ren mulai salah tingkah.


"Aku tidak bisa... Tuan terlalu tinggi."


"Akh... Vallen, kau juga katakan sesuatu, jangan diam saja."


"Oahh... Haha.. Hehe.. A-Aku, pandanganku menjadi gelap."


Vallen kemudian terjatuh, dan tertidur karena sudah terlalu capek.


"VALLEN.... BANGUN KAU...!!"


Teriakan dari ketiga wanita itu mengakhiri Chapter kali ini.