
Setelah beberapa waktu berlalu. Vallen pergi ke istana untuk mengadakan pesta kemenangan. Banyak pihak yang diundang secara khusus oleh pihak kerajaan, termasuk para anggota keluarga Knight C, Guildmaster, keluarga Guardian, serikat pedagang. Karena skala perang kali ini cukup kecil, maka pesta diadakan hanya di dalam istana, khusus untuk menghormati anggota keluarga yang telah ikut berperang.
Note: Agar mudah diucapkan, mulai saat ini penggolongan Knight akan dijadikan sebagai abjad/huruf. Misalkan Knight Tier 1 akan menjadi Knight C, Knight Tier 2 akan menjadi B, dan Knight Tier 3 akan menjadi A.
Vallen bersama dengan Ren, Sistine, dan Tiffa. Mereka menuju pesta menggunakan kereta kuda, bersama dengan anggota keluarga mereka masing-masing, kecuali Sistine, dan Tiffa.
Kusir kereta itu adalah Louise, dan Robert.
"Hahaha... Ternyata calon menantuku orang yang hebat, aku mengakui Vallen."
Orang yang memuji Vallen ini adalah Robert. Dia adalah Guildmaster, dan sekaligus Ayahnya Ren.
"Apa yang kau bilang Robert? Tentu saja anakku itu hebat, siapa dulu dong ayahnya. Hahaha." Ucap
"Hehm, Louise. Menurutmu, kapan kita akan menikahkan anak kita ini?"
"Kau terlalu terburu-buru Rob, biarkan alur berjalan dengan semestinya. Mereka butuh waktu untuk mencapai impian mereka."
"Yah, kau benar Lou."
Sedangkan di dalam kereta.
Vallen bersama dengan Ren, Tiffa, Sistine, Celia, Emma, dan Dianne.
Dianne adalah Ibunya Ren. Sedangkan Celia merupakan Ibunya Vallen, dan Emma adalah adiknya Vallen.
"Celia, bukankah kau sudah mendengar apa yang dibicarakan suami kita di depan?"
"Hah, mereka terlalu terburu-buru untuk memiliki Cucu."
"Mama, jangan dengarkan perkataan mereka. Humph..."
"Ren sayang... Mama ini sudah cukup tua lho, bukankah kamu ingin memberi Mama seorang Cucu?"
"Mama...!!"
"Hehehe... Ren, jangan terburu-buru. Aku yakin Vallen juga memiliki mimpi yang besar sama sepertimu. Jadi, gapailah mimpi kalian dulu."
"Hmm... Tante Celia lebih mengerti perasaanku daripada Mama."
"Ehh... Apa salah Mama?"
Vallen hanya bisa tersenyum mendengar perkataan mereka.
"Tuan, apakah anda ingin segera menikah?"
"Tiffa, menikah butuh persiapan mental, dan juga berbagai hal lainnya. Jujur saja, aku masih belum siap dengan semua itu."
"Heeemmm... Sangat membingungkan."
"Aku yakin Vallen pasti masih ingin mencari calon istri yang lebih banyak." Ucapnya Sistine menyindir Vallen.
"Woah... Jangan seperti itu dong Sistine. Kamu, dan juga Ren adalah yang paling utama di hatiku."
"Hoho... Kuharap kamu menepati perkataanmu."
Celia kemudian mendekat, dan berkata...
"Vallen, jika kamu ingin mempunyai istri lebih dari satu. Kamu harus memperlakukan mereka dengan sama, jangan pernah mempermainkan perasaan mereka. Jika suatu saat kamu bermain-main dengan ketulusan mereka, jangan harap Ibu akan mengakuimu sebagai anak lagi."
"Woah... Aku tahu Ibu, aku berjanji akan mengikuti perkataan Ibu."
"Seperti yang diharapkan dari Tante Celia, hanya beberapa perkataan saja sudah bisa membuat Vallen ketakutan."
(Mengerikan... Ibuku sangat mengerikan.)
Setelah banyak berbincang, akhirnya mereka telah sampai di Istana.
"Selamat datang... Tuan Robert, Tuan Louise, beserta seluruh anggota keluarganya. Silahkan menuju Aula utama."
"Baik, terima kasih."
Saat memasuki Istana, Celia melihat sekeliling.
"Hmm... Ibu, mencari siapa?"
"Ohh, Ibu mencari Kakakmu."
"Kakak Fiona sedang menjalankan misi bersama Kak Sharla. Mungkin mereka tidak akan hadir di pesta ini."
Dari belakang.
"Siapa bilang kita tidak hadir..."
Disana berdiri Fiona, dan juga Sharla. Mereka menggunakan gaun pesta yang sangat indah.
Para lelaki di Istana terpaku dengan kecantikan mereka.
"Hai Ibu... Sudah lama tidak berjumpa." Fiona memeluk Celia.
"Hmm. Puteri Ibu sangat cantik."
"Emma, sini ku gendong, sayang."
"Kakak Fio..."
"Awww... Emma sangat imut. Kakak bawa boneka khusus untuk Emma lho."
"Yeay... Emma sayang Kakak Fio."
"Hhmmmm... Kakak juga sayang Emma."
Vallen mendekat.
"Emma, apakah Emma juga sayang ke Kakak Vallen?"
"Hemm... Sayang sekali."
"Hoho... Nanti Kakak akan beri hadiah permen ke Emma."
"Yeay permen..."
"Ohhh Vallen, kau curang... Emma lebih suka boneka."
"Tidak, Emma lebih suka permen. Apalagi permen cokelat."
Kakak-beradik itu berdebat.
Setelah beberapa saat. Suara terompet berbunyi nyaring.
"Acara akan segera dimulai... Paduka Raja memasuki Aula."
Semua orang menunduk, dan berlutut dihadapan Raja.
"Bangunlah wahai Rakyatku. Karena pesta akan segera dimulai."