Dragon Soar To The Sky (Rewrite)

Dragon Soar To The Sky (Rewrite)
Permulaan Keajadian



Baiklah waktunya berangkat...


"Ehemm... Kapal mana yang akan aku naiki?"


"Sebelah sana Tuan."


"Hoi-hoi... Bukankah kapal ini terlalu mewah?"


"Apa yang anda katakan, anda adalah seorang yang mendapat gelar Dominator. Wajar jika kami menyiapkan kapal semewah ini hanya untuk perjalanan anda."


"Tapi, ini membuatku tidak nyaman..."


Aku melihat keadaan sekitar, banyak nelayan yang membawa hasil tangkapan, beberapa penjual, dan sebuah kapal yang kecil.


"Maaf, aku akan mengambil kapal itu." Menunjuk. "Aku merasa lebih cocok dengan kapal itu."


"Eh... Tetapi Tuan..."


"Tolonglah... Laporkan ke bagian ekspedisi."


"Ehhmm... Tapi kapal itu pasti milik seseorang."


"Serahkan padaku."


Siapa yang punya kapal ini?


Dia kah? Ehmm... Sepertinya bukan.


"Oh Tuan... Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Oh Pak nelayan... Saya mau meminjam kapal kecil ini, aku penasaran ini milik siapa?"


"Oh ini kapal milik saya Tuan, kebetulan aku akan segera mencari ikan."


"Begitukah? Aku akan meminjam kapal ini, bagaimana menurut anda?"


"Eh, tentu saja jika Tuan berminat. Silahkan..."


"Baiklah, berapa biayanya?"


"Sebenarnya, ikan-ikan yang saya tangkap akan segera dijual untuk memenuhi kebutuhan harian saja, saya hanya butuh untuk uang belanja makanan pokok."


"Berapa biaya yang anda butuhkan untuk hari ini?"


"1000J Tuan."


Aku menoleh, dan berbicara ke anggota ekspedisi.


Berbisik. "Hoi, berikan dia 100.000 Jewel."


"Baiklah Tuan Arthur."


Utusan itu membawa kantong uang yang besar dan menyerahkan kepada nelayan.


"Eh, Tuan kenapa sebanyak ini?"


"Jangan dipikirkan, itu hanyalah uang saku yang kecil buatku..."


"Astaga... Terima kasih banyak Tuan yang baik hati."


Nelayan itu menghampiri keluarganya, terlihat sang Istri bersama dengan keempat Anaknya. Mereka semua menangis, bersyukur, dan terharu.


Sedangkan itu Arthur sudah mulai berlayar dengan kapal yang kecil, menuju ke pelabuhan Ivaria.


Kembali ke Vallen.


Kemarin malam.


"Strategi yang harus kita lakukan adalah penyergapan, jika kita berperang di dalam area Kerajaan, maka nyawa Rakyat juga akan terancam. Maka satu-satunya cara adalah kita harus mencegat tempat dimana jalur yang akan mereka lalui."


"Aku setuju Jendral Creuz."


"Tapi Ayah, kita belum tahu berapa jumlah pasukan yang akan mereka kirimkan."


"Untuk hal ini, aku akan serahkan pengintaian padamu Nak. Kamu bisa kan?"


"Jika Ayah berkata demikian, maka aku tidak akan menolaknya."


"Bagus Cylaz. Jadi Vallen, apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku bisa melakukan apapun. Membuat suasana yang meriah adalah keahlianku."


Aku hanya bisa tersenyum, mengapa demikian? Tentu saja karena aku akan bertemu musuh yang kuat. Sudah lama aku tidak mengeluarkan kekuatan maksimal.


"Puteri Arleana, dan Puteri Chloe. Aku harap anda segera mengungsi, kita tidak bisa meninggalkan anda di dalam Istana ketika para Prajurit akan menuju medan pertempuran."


"TIDAK...!!" Kedua Puteri serentak menolak.


"Aku akan ikut berperang."


"Jangan Puteri... Itu sangat berbahaya..."


"Kenapa tidak...?"


"Vallen, apa maksudmu?"


"Aku akan melindungi mereka. Izinkan aku untuk bersama dengan Puteri di barisan yang aman."


"Hmmm... Jujur saja aku merasa bahwa ini terlalu beresiko."


"Creuz, jika kami menetap di Istana atau ke tempat pengungsian. Aku yakin ada kemungkinan bahwa pihak musuh sudah mengintai beberapa lokasi itu, dan itu tidak aman bagi kita."


"Aku setuju dengan Kakakku. Jendral Creuz, izinkan kami untuk bertarung."


"B-Baiklah kalau begitu... Vallen aku serahkan mereka berdua kepadamu, jika ada sesuatu yang terjadi, nyawamu tidak akan cukup untuk menebusnya."


"Aku akan menerima tugas ini dengan sungguh-sungguh, dan akan menjalani tugas ini dengan baik."


"Baiklah... Aku akan memimpin pasukan, Vallen lindungi kedua Tuan Puteri, dan Majin bertugas untuk mengintai jumlah unit pasukan musuh. Cylaz, aku menerintahkan kepadamu untuk segera mundur ketika sudah mengetahui jumlah unit pasukan mereka, kita akan segera mengatur strategi."


"Baik Ayah..."


"Baiklah, operasi akan dimulai besok."


Aku yakin operasi ini akan sangat menyenangkan.


Pagi ini masih gelap, mungkin aku akan berlatih sebentar.


"Uugghh..."


Apa yang terjadi, kenapa dadaku terasa sakit?


"Aaaggghh...!"


Saat itu, aku tidak tahu apa yang terjadi. Namun, aku mendengar suara didalam kepalaku.


Suara itu menyuruhku untuk....


Bunuh Semuanya....