
Di pagi hari, Creuz mengunjungi kamp pelatihan.
"Hoo... Sangat bagus, masih pagi tetapi sudah bersemangat."
"Oh, Jendral Creuz. Selamat pagi."
"Selamat pagi, Vallen."
Vallen tengah berlatih.
"Ada apa? Apakah kamu merasa kesal karena dikalahkan oleh pemuda itu?"
"Siapa?"
"Pemuda itu lho... Ettoo, siapa namanya yah."
"Cylaz?"
"Benar-benar... Jadi, bagaimana?"
"Yah bisa dibilang aku kesal dengannya. Bukan karena aku kalah, aku kesal karena dia tidak melanjutkan pertarungan denganku, jika saja aku tidak lengah dengan racun itu, mungkin saja..."
"Mungkin dia ada alasan khusus, bukan?"
"Alasan khusus? Apa maksud mu Pak Tua?"
"Horaa, coba pikirkan lagi. Mengapa dia tidak melanjutkan pertempuran pada saat itu?"
"Karena aku terkena racun."
"Itu benar, dan jika memang dia berniat membunuh. Maka dengan racun pelumpuh itu dia bahkan bisa membunuh kita dengan mudah. Tetapi, dia tidak melakukan hal itu."
"I-Itu..."
"Coba pikirkan lagi. Aku tahu kau adalah orang yang cerdas."
Creuz kemudian pergi.
(Itu benar, jika memang pertarungan yang dia inginkan, maka tidak akan repot-repot untuk memberikan racun, jika tujuan mereka membunuh kami berdua, maka dia akan langsung membunuh setelah aku terkena racun, dan Creuz yang sedang lemah karena benturan keras. Tetapi, dia tidak melakukan semua itu. Apakah ada sesuatu yang membuatnya menghindari pertempuran, dan pembunuhan? Hmm, aku semakin tertarik.)
Vallen melanjutkan latihan. Namun, kemudian rombongan pemuda dengan baju yang mewah melewati kamp, dan melihat Vallen.
"Hoi lihat, bukankah itu Manusia dari Estora?"
"Hmm orang itu? Kelihatannya dia lemah."
"Hoi, ayo kita beri pelajaran kepada orang yang sok itu."
"Ya, melihatnya membuatku merasa jijik. Mengapa Beastmen seperti kita meminta bantuan kepada Manusia."
Rombongan itu menghampiri Vallen.
"Hoi, kau."
Vallen tidak menghiraukan, dan tetap berlatih mengayunkan pedang.
"Tsk, apakah kau tidak punya telinga, Manusia?"
Vallen tidak menghiraukan.
"Pergilah kau dari sini, Manusia lemah sepertimu mau membantu kami? Sungguh lucu."
Vallen berhenti sejenak, dan kembali mengayunkan pedang.
"Hoi Manusia, lihat kesini dan dengarkan aku ketika berbicara."
Salah satu dari mereka mencoba memukul Vallen.
(Shadow Step).
Vallen bergeser secara halus, menghindari pukulan itu dan tetap mengayunkan pedang.
"Sial... Hoi, kalian ayo pukul dia."
"HIYAAT..!!"
Para rombongan itu mengeroyok Vallen. Namun, dengan Shadow Step, Vallen menghindari semua serangan itu dengan mudah.
"Apa-apaan Manusia ini? Semua pukulanku tidak dapat mengenainya."
"Manusia ini... Hoi, serang dengan sihir."
Karena pukulan mereka tidak berguna. Akhirnya mereka mencoba dengan memakai sihir.
"RASAKAN INI...!"
Semua sihir itu mengarah tepat ke tubuh Vallen, dan sihir itu meledak.
"Hah, rasakan itu kau Manusia. Hahaha."
Setelah asap semakin menghilang, mereka melihat sesuatu.
"Hoi, apakah itu...?"
Vallen tetap berdiri dengan kokoh, dan tetap mengayunkan pedang.
"M-Mustahil... Ini tidak mungkin. Sihir itu bahkan cukup untuk membunuh orang."
"Serang dia lagi."
"Baik..."
Sebelum mereka selesai merafal mantra, terdapat tekanan yang sangat kuat dari dalam dada mereka.
Waktu seakan terhenti.
"A-Apa...(Manusia ini, sangat berbahaya. Aku tidak dapat bergerak. Tidak... waktu telah berhenti)."
Vallen mengentikan waktu.
Mengentikan semua yang ada di area jangkauannya.
Kemudian Vallen berbalik kepada rombongan itu.
"Kalian sangat ramai. Berkicau tentang betapa lemahnya Manusia."
Para rombongan itu hanya bisa berbicara di dalam hati, mereka tidak dapat bergerak.
Vallen kemudian mencekik leher salah satu dari rombongan itu.
"Kau..."
"Hyyekk." Mulai panik.
"Ayo, katakan lagi kalau Manusia itu orang yang lemah."
"Hhhmmm." Mengerang.
"Aku tidak mendengarnya lho..."
Vallen menutup mata.
Kemudian membukannya, mata yang berwarna biru itu menjadi warna merah darah. Vallen menatap mata orang itu dengan tajam, mata ke mata.
"Hmph... Hmmph." Nafas mulai tidak beraturan.
Apa yang dilihat oleh Beastmen itu adalah sebuah kegelapan, dia mencoba lari di dalam kegelapan itu dan menemukan suatu jurang, dia melihat dasar dari jurang itu. Namun yang berada di dasar jurang itu adalah sebuah kepala Naga terlihat. Naga itu kemudian naik dari dasar jurang, mendekati Beastmen itu. Dia terkejut dengan ukuran Naga. Naga itu mulai membuka mulutnya, dan melahap Beastmen.
"Oh, kau melihatnya? Itu adalah ilusi sebenarnya. Yah, karena matamu mengeluarkan darah, maka akan aku sudahi."
Vallen menjentikkan jarinya, dan aliran waktu kembali seperti semula.
Para rombongan itu terkejut melihat rekannya yang tergeletak, dan menangis mengeluarkan darah dari matanya.
"Ingat ini, Manusia tidak selemah yang kalian kira."
"L-Lari... Selamatkan diri kalian."
"Yare-Yare...."
Rombongan itu membawa rekannya yang tumbang, dan lari terbirit-birit.
Tiba-tiba seorang gadis berbicara di belakang Vallen.
"Aku melihatnya..."
Vallen terkejut, dan langsung menoleh ke belakang.
Terlihat seorang dari ras Beastmen, gadis dengan telinga rubah, dengan wajah yang cantik nan rupawan.
"A-Anda... Siapa?"