
Sejak kapan aku merasakan perasaan ini, penuh ketenangan, dan kesunyian. Perasaan yang telah keluar dari kegelapan, apakah sedingin ini?
"Kau sudah sadar bocah?"
Lagi-lagi suara ini mengajakku bicara, suara yang serak, namun penuh wibawa.
"Untuk sekarang aku hanya bisa sejauh ini.."
Apa maksudnya?
Seketika seluruh wilayah terbakar api yang berwarna biru, semua yang terasa dingin mulai menjadi hangat.
Di sana, di depanku. Aku melihat seseorang duduk di sebuah singgahsana.
"Akhirnya kau melihatku ya, walaupun ini bukan pertama kalinya kita berbicara."
Aku mengingatnya, rambut hitam itu, mata yang mendominasi, kulit putih bagaikan langit, memakai baju bermotif bangsawan.
"Kaisar Naga Alatreon."
"Aku salah satu dari 7 pecahan fragments dari jiwa Kaisar Naga Kuroryu. Namaku Alatreon, penguasa api biru dan hitam, gelarku Superbia. "
Masing-masing dari ketujuh Fragments, mempunyai elemen, sifat karakteristik, dan gelar, serta kesadarannya sendiri.
"Enak ya, seorang manusia bisa meminjam kekuatanku. Jangan terlalu besar kepala bocah, lawanmu untuk selanjutnya akan lebih kuat."
"Aku sudah tahu. Mungkin kita sudah bersepakat dengan perjanjian itu. Bound Zecht, pakta dimana aku meminjam kekuatanmu dengan ganti kau juga berbagi kesadaran denganku."
"Pakta itu akan terus berlaku sampai kau mati, anehnya jiwa yang kita miliki saling beresonasi. Cukup mengejutkan seorang Manusia bisa meresonasikan jiwa dengan Fragments kaisar naga. Kamu, sebenarnya siapa?"
"Aku hanya Manusia biasa... "
Sambil tersenyum aku berbicara hal ini kepadanya, sesosok makhluk yang mulai dari sekarang akan berbagi kesadaran denganku.
"Aku peringatkan 1 hal, untuk saat ini keberadaan keenam Fragments lainnya masih misterius. Mungkin mereka juga berada dalam diri Manusia, atau Makhluk hidup lain, namun kita juga bisa memasuki benda seperti senjata kuno. Ketika kita bertemu pemengang Fragments lainnya, berhati-hatilah, mereka juga menyimpan kekuatan khusus masing-masing. "
"Aku mengerti, jika mereka juga sekuat seperti yang kamu katakan. Aku akan berhati-hati."
"Baiklah Vallen, saatnya bangun. Ada banyak orang yang menunggumu saat ini."
Seketika aku terbangun dari tidurku, dan ku berada di sebuah ruangan.
"Anda sudah terbangun Tuan."
"T-Tunggu, berapa lama aku tertidur..?"
"Sekitar 3 hari yang lalu, tubuh anda terluka cukup parah. Tuan Puteri melakukan yang terbaik agar anda dirawat secara khusus."
"Dimana sekarang Puteri?"
"Saya akan segera memanggilnya.."
"Vallen, akhirnya kau sudah siuman."
"Wajah yang tak asing ku lihat hari ini, bukankah wajahmu terlalu babak belur Pak tua."
"Hah, aku tak ingin mendengarnya dari seorang yang pingsan selama 3 hari. Sukurlah, kalau kau bisa bercanda artinya kau baik-baik saja."
"Yah berkat pertolongan kalian..."
Puteri Arleana mengatakan sesuatu.
"Vallen, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.."
"Eh? Siapa yang anda maksud...?
Disaat itu aku sangat tercengang, entah bagaimana wanita itu ada disini? Apa yang telah terjadi, bukannya kerajaan mereka saling bermusuhan..
"Bagaimana keadaanmu Vallen?"
"Ratu Roxaline.. "
"Senangnya.. ternyata kau masih ingat denganku."
Apa yang orang ini pikirkan, pergi ke ruangan orang sakit sambil membawa Wine..
"Tentu saja saya masih ingat, bagaimana saya bisa lupa."
"Vallen, berkat bantuan Ratu Roxaline kami bisa menyembuhkanmu. Kamu mengalami Anxiety sebuah gejala dimana Mana mu terkuras habis, kami sempat kesulitan bagaimana cara agar mana mu bisa pulih. Akhirnya kami meminta bantuan kepada Ratu Roxaline yang pada saat itu tengah berlayar di Samudra."
"Begitu kah?"
"Kami meminta bantuan, dan Ratu Roxaline membawa batu Oracle agar Mana mu bisa cepat terisi."
Batu Oracle, aku pernah mendengarnya dari Master Fafnir. Itu adalah sebuah batu yang menyimpan Mana dalam jumlah fantastis, aku tidak tahu lebih dalam tapi, batu ini bukanlah batu sembarangan yang bisa didapatkan secara mudah.
Bagaimana kerajaan Tuore bisa mendapatkan batu ini?
"Vallen, aku sudah menyelamatkanmu. Dan yah aku kurang hiburan selama 3 hari ini, jadi nanti malam mampirlah ke kabinku."
"Ah, apakah saya bisa menolakknya?"
"Terserah, itupun kalau kamu mau aku menyerang Kerajaan yang sedang lumpuh ini."
Seperti biasa... Dia selalu keras kepala, padahal kalau dia baik, wajah cantiknya itu akan menjadi makin sempurna.
"Baiklah Ratu Roxaline, saya akan memenuhi panggilan anda."
"Fufu-... Aku sangat menantikannya, Vallen."