
Setelah pelatihan selama 1 tahun akhirnya Vallen melakukan perjalanan kembali ke rumah. Dia melewati Desa Quile dan ingin bertemu dengan kawan lamanya.
"Wah... Hanya satu tahun berlalu namun perkembangan di desa Quile sangat luar biasa, daerah ini sudah lebih maju dari sebelumnya."
Vallen melihat sudah banyak yang berubah. Mulai dari pasar, perumahan, dan penginapan sudah tertata lebih rapi namun Vallen masih mencari letak penginapan Shione tempat dia dulu pernah bermalam.
Kalau tidak salah di sini tempatnya, tapi... kenapa sekarang jadi toko biasa?
Vallen memasuki toko itu dan melihat seseorang pemuda yang tidak asing. Kemudian pemuda itu berteriak kepadanya.
"Vallen apakah itu kamu?"
"Dolas, sudah lama tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu?"
"Woah... kamu beneran Vallen kan? Perasaanku saja atau memang kamu agak tinggi dan juga lebih keren."
"Yah... Banyak yang terjadi. Oh iya, bagaimana dengan penginapanmu. Aku tidak melihatnya?"
"Apa yang kamu katakan. Shione sekarang menjadi tempat penginapan terbaik di Quile. Kami pindah di bagian tengah desa."
"Apa bangunan megah itu adalah penginapan? Aku kira itu adalah kantor Baron di desa ini?"
"Apa yang kau katakan? Oh iya, bagaimana denganmu apakah kamu berhasil memasuki lembah itu?"
Sebaiknya aku menjaga rahasia.
"Aku berhasil memasuki lembah itu namun aku tidak menemukan apapun melainkan beberapa tanaman obat yang langka. Jadi aku berlatih di dalam lembah selama satu tahun."
"Ah... Jadi kamu tidak beruntung. Dengan ini kamu menjadi satu dari sekian banyak orang yang mencari keuntungan dan berakhir dengan tangan hampa. Tetapi kamu menemukan tanaman langka dan memutuskan untuk berlatih. Aku kira itu sepadan karna aku merasa kamu semakin kuat."
"Hmm, aku benar-benar beruntung kamu tahu."
Dolas adalah temanku. Dia adalah orang yang menawarkanku tempat bermalam pada saat aku pertama kali datang ke Quile satu tahun yang lalu.
"Ya ya... Kamu sangat beruntung. Oh ya, Vallen Aura yang kamu miliki semakin kuat. Aku bisa merasakannya."
"Ah... Tentu saja ini adalah hasil latihanku."
Untung saja aku memakai lencana ini, kalau aku tidak menekan Auraku sampai titik ini, aku yakin penduduk di sini menjadi gempar.
Menjadi murid dari seorang Naga kuno membuat aliran Mana bahkan Aura Vallen menjadi spesial. Seakan-akan mirip seperti Naga juga.
Apabila Vallen melepaskan Aura dengan maksimal, Aura ini dapat menutupi seluruh Desa.
Setelah Vallen berbincang sedikit lama.
"Ayo sini, aku antarkan ke Shione. Kakakku pasti akan senang melihatmu."
"Hem... Baiklah, aku juga ingin menyapa paman serta bibi dan tentu saja Sistine."
"Hehehe. Kamu pasti akan tercengang dengan penampilan Kakakku nanti. Dia semakin cantik loh."
"Ha, memangnya aku peduli?"
Tentu saja aku peduli, aku bahkan tidak sabar bertemu dengannya
Vallen memasang wajah mesum.
"Hahaha... kalau kamu ingin berbohong seharusnya tidak perlu memasang wajah seperti itu. Ketahuan sekali."
Sistine merupakan Kakak perempuan daripada Dolas.
Pertemuan pertamaku dengannya sangat intens. Ya bisa dikatakan aku terpaku dengan kecantikannya yang luar biasa.
Vallen dan Dolas berbincang di tengah perjalanan dan mereka tiba di Shione. Namun...
"Woah... Ramai sekali ya tempat ini..." Vallen terheran-heran melihat banyak orang berkumpul.
"Tidak... Seharusnya tidak seramai ini, pasti terjadi sesuatu."
Dolas langsung berlari dan ternyata ada seorang Anak dari Baron dengan beberapa pengawalnya membuat ulah.
"Hoi... Sistine kenapa kamu tidak menerima saja? Aku punya segalanya untuk membahagiakanmu." Ucap Anak Baron itu.
"Heh cinta tidak akan bisa membuatmu bahagia. Dengan uang kamu bisa membeli apapun bahkan kebahagiaan sekalipun."
"Sudah cukup aku sarankan Tuan segera pergi."
"Beraninya kau mengusirku dari sini, dasar wanita ******." Mengangkat telapak seakan ingin menampar.
Dollas berteriak...
"Hoi kurang ajar. Apa yang kamu lakukan pada Kakak..."
Seketika Vallen dengan kecepatan suara menghadang dan memegang tangan si Anak Baron. Sangking cepatnya, Vallen menyebabkan angin bertiup kencang.
"Hoi... Bukan begitu caranya berbicara dengan wanita cantik, Tuan yang terhormat." Vallen meremas telapak si Anak Baron.
"Arg... tanganku sakit sekali. Lepaskan...." Ucap Anak Baron dengan meronta.
"Oh, maaf aku tak sengaja."
Dari belakang Sistine penasaran dengan sosok seseorang yang melindunginya. dia merasa seakan tidak asing dengan suara itu.
"Maaf, anda siapa ya?"
Vallen menoleh.
"Halo Sistine sudah lama tidak berjumpa yah? Bagaimana kabarmu, baik-baik saja kan?"
Sistine kaget, senang, sekaligus terharu.
"Ah Vallen." Dengan mata berkaca kaca dan menutup mulutnya seakan tidak dapat menahan tangis. "Jangan khawatir aku baik baik saja."
Vallen yang melihat senyuman Sistine ternodai oleh tangisan membuatnya murka. Perlahan Vallen mengusap air mata itu dengan ekspresi datar.
Tidak lama Anak Baron itu berteriak.
"Woi kurang ajar siapa kamu? Dia itu calon istriku. Apa kamu tidak tahu aku siapa...?"
"Gak tahu dan tidak perduli."
Orang-orang disekitar menahan tawa...
"Namaku Elde dan Ayahku adalah seorang Baron di desa ini. Sebaiknya kau jangan macam-macam denganku."
"Hai. Namaku Vallen dan Ayahku adalah seorang petani di desa sebelah. Salam kenal ya... Anak Baron."
Orang orang disekitar tertawa terbahak-bahak. Mereka menertawakan Elde.
"Kurang ajar. Hoi pengawal bunuh orang itu." Menunjuk Vallen
6 pengawal itu mulai menyerang, tetapi serangan mereka tidak ada satu pun yang mengenai Vallen. Dengan kecepatannya dia bahkan tidak tersentuh.
Lemah sekali, bahkan serangan pengawal ini tidak ada yang dapat menyentuhku. Sangat mengecewakan aku berharap bisa lebih bermain-main disini.
"Untuk mengalahkan kalian semua aku hanya butuh satu jari... Majulah!"
"Sial... masih bocah sudah sombong. Terima ini..." Teriak pengawal.
"Mikazuchi." Vallen bergerak secepat cahaya, menyerang titik lemah mereka satu persatu dan menumbangkan keenam pengawal itu sekaligus.
"Ka...kamu siapa?" Ucap Elde dengan menunjuk dan bergetar ketakukan.
"Sudah aku bilang kan. Namaku Vallen, anak dari seorang petani."
"Ha sialan... Akan aku balas kau nanti...!" Kata Elde sambil kabur.
Sangat membosankan, aku kira pengawal ini setidaknya dapat membuatku terhibur.
"Terima kasih Val. Terima kasih banyak...." Ucap Sistine sembari memeluk Vallen dan menangis.
"Sudah2 tenang saja, sudah aman kok sekarang."