Dragon Soar To The Sky (Rewrite)

Dragon Soar To The Sky (Rewrite)
Pelabuhan Ivaria



Di hari yang sangat cerah itu, semua tampak terbias oleh cahaya laut. Suara burung camar yang berisik, banyak ikan terlihat. Namun, bau yang sangat menyengat mulai menghampiri.


"Aku sudah mendengar tentang kondisi pelabuhan, akan tetapi aku tidak pernah menyangka akan seburuk ini."


"Beginilah kondisi Ivaria sekarang."


Vallen terkejut karena melihat langsung bagaimana ikan-ikan itu mengambang, sebagian terdampar ke tepian, semua ikan itu membusuk, dan memenuhi area pelabuhan.


Tak lama kapal bersandar.


Terlihat banyak sekali Beastmen yang terlihat kurus, kelaparan.


"Tuan, makanan... Berikan kami makanan."


Creuz Fadim berdiri, dengan membawa banyak makanan.


"Wahai Rakyat Ivaria, kami telah membawa banyak sekali pasokan makanan dari Estora. Kami akan membagikan kepada kalian semua."


Orang-orang itu terlihat bahagia...


"Terima kasih Tuan.."


"Oh, akhirnya Anak-anakku bisa makan."


"Terima kasih Dewa..."


(Kelaparan menjalar ke semua wilayah, apakah ini dampak karena suatu Pandemi? Atau perbuatan yang diakibatkan oleh sihir?)


"Tuan Creuz, aku akan membantu."


"Oh, Vallen. Kami sangat terbantu kalau begitu."


Vallen ikut menggotong karung beras, dan membagikan makanan, serta air bersih untuk para penduduk.


Dengan senangnya Vallen memberikan sembako itu, dia melihat secuil harapan dari mata para Rakyat Ivaria.


Setelah beberapa jam.


"Masih kurang...."


"Persediaan sudah habis."


"Apa? Padahal masih banyak yang belum kebagian."


Seseorang Nenek, dengan cucunya berada dihadapan Vallen.


"Nak, makanan... Berikan kami makanan... Cucuku sudah kelaparan. Aku tidak apa-apa, berikan saja kepada Cucuku.."


"N-Nenek..."


(Sial... Apakah tidak ada hal yang bisa ku lakukan?)


Jendral Creuz menepuk pundak Vallen.


"Tenanglah, Vallen. Kamu beristirahatlah."


"T-Tapi Tuan..."


"Vallen..! Ini perintah."


Vallen tertegun, dan tertunduk hening.


"Saya mengerti Tuan Creuz."


Vallen kembali menoleh Nenek tadi.


"Ini Nek... Gunakan sebaik-baiknya makanan ini."


"Akhirnya... Terima kasih Nak.."


"Terima kasih Kakak..."


Gadis kecil yang lugu itu berterima kasih kepada Vallen.


Jendral Creuz hanya melihat... Dan tidak dapat bertindak.


Vallen kembali ke kabin.


"SIAL...! SIAL....! SIAL....!" Berteriak dan memukul dinding.


"Apa-apaan semua ini... Ini bahkan lebih parah daripada kejadian yang diakibatkan oleh Polac."


*Chapter 58: Desa Yang Terpenjara*


Tak lama Creuz masuk ke kabin.


"Vallen... Bagaimana keadaanmu?"


"Dadaku terasa sangat sesak... Apa-apaan semua ini?"


"Kau orang yang baik yah, Vallen. Setelah mengetahui hal ini, apakah kamu bersedia memberikan uluran tangan ke Kerajaan Ivaria?"


"Tidak perlu bertanya lagi. Tidak disuruh-pun, aku akan membantu kalian."


Dalam hati, Creuz berkata "Dasar, kalian memang orang yang sama. Apakah Anak ini juga akan mengikuti jalanmu, Pangeran Julius?".


Creuz teringat masa lalu dimana saat itu, ketika Ivaria terdesak dalam peperangan yang tidak mungkin bisa dimenangkan.


*Flashback


"M-Mundur... Garda depan tidak dapat bertahan."


"Tapi... kita adalah pertahanan terakhir. Jika kita kalah, maka mereka akan masuk ke Kerajaan."


"Jendral Creuz, perintah anda?"


"Tenanglah Wahai Pasukanku... Bertahanlah sekuat mungkin, tidak ada yang mustahil selagi hati kita tetap teguh. Pikirkanlah, apa yang kalian lindungi di balik benteng ini... Istri, dan anak-anak kita sedang berlindung di belakang punggung kita. Bertahanlah, demi mereka."


"WOOAHHH...! DEMI IVARIA..."


Para Prajurit itu berteriak dengan semangat.


"MUSUH TERLIHAT...."


Dari bukit, musuh menyerang dengan pasukan berkuda. Tombak-tombak mereka mengarah kedepan, bersiap untuk menusuk siapapun yang berada di depannya.


"Bertahanlah Prajurit... Para pemanah, bersiap-siap..."


"Kami menunggu perintah anda, Jendral."


"Tembak sekarang..."


Mereka bersiap melesatkan panah ke arah musuh, namun...


Di tengah-tengah mereka muncul suatu sambaran petir yang sangat dahsyat...


Sambaran ini membuat para pasukan dari kedua belah pihak terdiam.


Dari bekas sambaran petir itu terlihat seseorang pemuda, dengan pedangnya yang tajam, zirah yang sangat kuat. Pemuda itu menangkat pedang ke atas, langit tiba-tiba bergemuruh. Petir-petir itu menggila, seakan menari dengan elok.


Pemuda itu mengucapkan mantra Kuno.


"Bruenhylde Kaizan..."


Dengan kekuatan dahsyat, langit menurunkan hujan petir. Para musuh terpecah belah, mereka berlari, mencoba untuk menyelamatkan diri. Namun, tidak ada yang bisa lolos dari sambaran petir.


Para prajurit Ivaria masih belum tahu sosok yang sedang berada di medan perang itu. Namun satu hal yang berada di benak mereka adalah, seorang pemuda turun dari langit yang menari dengan petir di pedangnya.


Pemuda itu bernama...


"Maafkan atas keterlambatan saya. Bantuan dari Kerajaan Estora telah tiba, namaku Julius Alxandria."


"Tuan Creuz? Tuan..."


"Oh maaf Vallen, aku sedang memikirkan sesuatu tadi."


"Jadi bagaimana selanjutnya?"


Dari luar terdengar suara kepanikan.


"Serangan musuh..."


Lonceng kapal berbunyi..


"Apa yang terjadi?"


"Jendral, terlihat beberapa Armada kapal dari kejauhan."


"Kapal apa itu?"


"Saya tidak tahu... Penglihatan kita terbatas karena sudah malam."


Vallen mencoba merasakan Aura yang berada di kapal-kapal itu.


(Ah, gawat... Aku akan sembunyi.)


"Mau kemana kau?"


"Ah Jendral, aku mau pergi ke toilet sebentar..."


"Di dalam kapal kan ada, mengapa harus turun?"


"Ahh Itu..."


Salah satu awak kapal berkata.


"Jendral Creuz, itu kapal dari Yang Mulia Roxaline."


"APA...! Apa kau yakin?"


"Saya sangat yakin..."


"Hmmm, mengapa Armada Kerajaan Tuore berkunjung ke lautan Ivaria? Vallen, apakah kau tahu sesuatu?"


"Gikhuk*... Ehem, saya juga tidak tahu."


"Mencurigakan..."


"Baiklah, saya akan turun dulu..."


"Sudah-sudah, tenanglah. Diam disini..."


(Matilah aku...)


Beberapa saat kemudian...


"Roxaline, mengapa kau berkunjung ke Kerajaan kami?"


"Hmpf... Siapa yang bilang akan berkunjung, aku kesini hanya karena ingin bertemu dengan Ayang Vallen."


"A-Ayang Vallen..? Sebenarnya apa yang terjadi disini?"


*Kembali disaat Vallen dan Roxaline berada di dalam kabin.


"Vallen, 5 Ronde lagi yah..."


"Ehhh... Aku sudah capek lho Ratu..."


"Sstt*... Sudah kubilang bukan, panggil aku Roxaline ketika berdua."


"Ah, maaf aku lupa. Jadi Roxaline..."


"Aku tahu... Ambilah ini."


"Ini adalah?"


"Itu merupakan cangkang keong laut. Bagaimanapun juga, aku sudah tahu mengenai keadaan Kerajaan Ivaria. Rakyatnya kelaparan, dan penyakit dimana-mana... Aku yakin dengan muatan kalian di kapal ini tidak akan sanggup mencukupi semua kebutuhan mereka."


"Jadi apa yang harus aku lakukan dengan ini?"


"Jika saat itu tiba, kamu tiup cangkang ini. Cobalah.."


Vallen meniup.


"Hmm... Tidak ada suara yang keluar."


"Frekuensi yang dikeluarkan hanya bisa terdengar oleh telingaku sendiri. Jika kamu membutuhkan bantuanku, aku akan datang dengan membawa muatan berisi makanan yang sangat banyak untuk kalian."


"Terima kasih Roxaline..."


Vallen mencoba meniup kembali...


"Kyaaa*... Hmm, apa yang kau tiup kali ini Vallen?"


"Ehehehe... Biarkan para Jones yang berimajinasi."


"Dasar Vallen nakal.."


*Kembali ke kejadian.


Apa, masih kurang panjang katamu? Sabar dulu Nes, kalau diceritakan secara terang-terangan. Nanti bakal gagal Review, jadi maklumin. Hahaha.


"Hoohh Vallen, bisakah kau ceritakan kepadaku apa maksudnya semua ini.."


"Ahahaha... Baik Jendral Creuz."


Vallen, dan Roxaline menceritakan kejadian itu.


"Ehem... Kesampingkan cerita ketika kalian di dalam kabin. Jadi, apakah Ratu Roxaline akan memberikan sembako sebanyak ini kepada kami secara gratis?"


"Aku tidak memberikannya kepada kalian, aku hanya memberikan makanan itu kepada Ayang Vallen. Jadi, terserah dia mau diapakan semua sembako itu."


"Hooo begitu ya... Vallen."


Creuz menatap Vallen dengan tatapan binatang buas.


"Hiii*.... Aku mengerti kok, aku mengerti. Jadi sebaiknya jangan tatap aku seperti itu, Nah?"


"Keputusan yang bagus... Jadi, sebagai gantinya apa yang anda inginkan Ratu Roxaline?"


"Hmmm, apa ya...? Oh iya, Ayang Vallen harus masuk ke kabin di kapalku malam ini, sampai besok."


(Gulp*... Waktunya menyelinap pergi...)


Jendral Creuz meraih pundak Vallen.


"Mau kemana kau Anak Muda... Ada pelayanan yang harus kau lakukan. Ehehehe..."


"Jendral Creuz, kau menjualku lagi... Sialan..."


Beberapa saat kemudian.


Sembako yang dibawa oleh Roxaline akhirnya dibagikan secara rata ke seluruh penduduk yang berada di pelabuhan.


Kebahagiaan, keceriaan, menyelimuti malam yang dingin itu.


Semua orang akhirnya tidur nyenyak, mereka hanya mendengar suara secara samar-samar yang terbawa oleh angin lautan, suara seorang pemuda yang merintih dengan kenikmatan.


Sampai jumpa di Chapter selanjutnya....