Dragon Soar To The Sky (Rewrite)

Dragon Soar To The Sky (Rewrite)
Sang Ratu Laut Yang...



Beberapa jam waktu berlalu. Disaat itu hari sudah menjelang petang.


"Vallen, kita kedatangan tamu kali ini. Empat kapal dengan bendera Kerajaan Tuore."


"Ah, mereka sudah datang. Baiklah aku segera keluar."


Setelah Vallen keluar dari kabin, terlihat empat kapal yang sangat besar mengapit kapal yang dinaiki Vallen.


Beberapa orang di kapal besar berteriak.


"Berhenti...!"


Akhirnya kapal mereka berhenti.


(Pantas saja Kerajaan Tuore menguasai lautan, Armada mereka sangat kuat.)


Vallen kemudian meihat sosok Wanita yang sangat cantik, dengan baju yang sangat anggun. Wanita itu menuju kapal Vallen.


"Oh ya... Bukankah ini Jendral Creuz? Berani sekali anda melewati wilayah kelautan yang sudah kami kuasai?"


Vallen menyela.


"Dengan segala hormat, izinkan saya berbicara. Yang mulia Ratu Roxaline Pulgra."


"Hmm, siapa kamu?"


"Saya adalah Vallen Deovare, seorang Aristokrat dari keluarga Guardian Deovare."


(Orang ini adalah Ratu dari Kerajaan Tuore, berbeda dengan Ratu dari Kerajaan manapun, dia berada di garis depan dalam pertahanan laut. Bukan hanya karena dia seorang Ratu, melainkan kekuatan yang dimiliknya sangat kuat.)


"Apa sekarang Ivaria membuat langkah kerja sama dengan Estora? Atau mungkin kalian sudah menjual Ivaria ke Estora, Creuz Fadim?"


"Anda mungkin seorang Ratu, tetapi aku tidak akan bersegan-segan jika anda merendahkan Ivaria."


"Hehm, padahal kalian hanya harus memberikan seluruh Tambang kalian ke Tuore. Dan Kerajaan kalian akan hidup enak."


"Dan yang kami dapat hanya belenggu yang mengikat leher kami. Jangan seenaknya bicara Pulgra."


"Jendral Creuz, Ratu Roxaline. Saya mohon kalian untuk tenang."


Mereka berdua terdiam.


"Jadi kenapa ada anggota Aristokrat dari Estora yang berada di satu kapal dengan Beastmen?"


"Sebenarnya Raja kami berencana untuk membeli beberapa Tambang dari Kerajaan Ivaria, dan Saya disini sebagai orang yang akan mengatur penjualan tersebut."


"Jadi begitu... Tampaknya bukan hanya wujud kalian yang seperti binatang, tetapi otak kalian juga sama dengan binatang."


"Roxaline, aku ingatkan kau..!"


Jendral Creuz terbawa emosi, dan hampir menyerang Ratu Roxaline.


"Kau pikir dalam posisi yang bagus dalam menyerangku? Orang-orangku akan menenggelamkan kapalmu dengan segera."


"Tsk... Apa maumu?"


"Entahlah... Enaknya gimana ya?"


Pulgra berjalan menuju Vallen, dan menyentuh wajahnya.


"Serahkan pemuda ini, dan kamu bisa pergi."


"Jangan bercanda...!"


Roxaline memberi aba-aba agar Creuz tidak macam-macam.


"Jadi bagaimana Pemuda tampan, Apakah kamu mau ikut denganku? Kakak ini akan memperlakukanmu dengan sangat baik."


"Sungguh tawaran yang sangat menarik Yang Mulia..."


"Benar, kan? Aku akan me...."


Sebelum Roxaline selesai berbicara, Vallen memotong pembicaraan.


"Maaf aku tidak bisa menerima permintaan anda. Aku bukanlah seorang pengkhianat."


(Jadi rumor itu benar kalau Ratu dari Kerajaan Tuore suka membawa Pemuda untuk jadi bagian dari Harem-nya. Raja Tuore merupakan orang yang sudah Tua, aku yakin dia tidak bisa memuaskan Roxaline.)


"Kau mengecewakanku Vallen. Kalau begitu tidak ada negosiasi lagi."


Roxaline melompat ke kapalnya.


"Semua..! Arahkan meriam kalian ke kapal itu."


"Yang Mulia Roxaline, apakah anda yakin dengan tindakan anda? Jika anda melukai seorang Aristokrat dari keluarga Guardian, Kerajaan Estora tidak akan tinggal diam lho..."


"Oh tenang saja, aku akan memperlakukanmu dengan sangat hati-hati..."


(Sial..! Seharusnya tidak seperti ini.)


"Vallen, tampaknya negosiasi telah gagal. Kita harus berperang."


(Apakah aku akan melakukannya?)


"Bersiap...!"


Meriam itu mengarah dengan tajam ke kapal Vallen. Tetapi....


"Hentikan.. Aku akan ikut denganmu Ratu Laut Roxaline."


"Vallen... Apa yang kau lakukan?"


"Tenang saja Jendral Creuz, aku tahu apa yang harus dilakukan."


Roxaline kemudian melompat ke dalam laut, dia membentuk suatu ombak, dan kemudian menunggangi ombak itu.


(Jadi ini yang namanya Ratu Laut... Sungguh mengesankan.)


Kemudian Roxaline berada di kapal Vallen.


"Apakah kamu sudah membuat keputusan, Vallen? Ikutlah denganku dan rombongan binatang ini bisa melanjutkan perjalanan mereka."


"Hehh, tentu saja saya akan ikut dengan anda. Tetapi, ada satu syarat."


Roxaline kemudian memegang kerah Vallen.


"Jangan terlalu banyak mengatur, kau tidak dalam posisi yang bagus untuk mengajukan syarat."


"Maka dari itu aku akan memberikan anda kemudahan. Kita adakan suatu permainan."


"Hmm... Permainan?"


"Itu benar. Permainan yang mudah."


Vallen mengeluarkan sebuah koin emas.


"Aturan bermainnya sangat mudah, koin ini akan dilempar ke atas dan kemudian di tutup. Kita hanya harus menebak dengan benar, sisi mana yang mengarah ke atas."


"Memang ini sangat mudah, tetapi..."


"Saya belum selesai bicara. Saya akan melawan semua kru yang berada di dalam Kapal anda. Dan jika aku kalah satu kali saja, maka aku akan ikut dengan anda."


"Apa kau yakin? Kru kapalku semua berjumlah 50 orang lho."


"Aku tidak keberatan..."


"Hmm, baiklah jika itu syarat yang kamu ajukan. Aku akan bermain denganmu."


"Terima kasih Yang Mulia..."


"Jadi, jika kamu menang. Apa ada sesuatu yang kau minta?"


"Sungguh hebat, anda sangat mengerti. Kalau begitu, jika aku menang izinkan aku untuk mengajak anda berdansa."


"Berdansa? Hanya itu?"


"Tentu saja hanya itu. Tidak mudah bagiku untuk bisa berdansa dengan orang yang sangat cantik seperti anda."


"Hoohh... Bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga pandai merayu ya.. Baiklah aku terima kesepakatan ini."


"Baiklah kita akan mulai."


Kemudian Roxaline memberi perintah kepada kru-nya untuk mendekat dan bermain tebak koin melawan Vallen.


Mereka memutuskan salah satu kru untuk menjadi wasit, dan pelempar koin.


Permainan dimulai.


"Ekor."


"Aku memilih Kepala."


Juri melihat.


"Kepala."


"Heehh, lumayan... Tetapi jangan senang dulu, kau masih akan melawan 49 kru lagi."


"Tenang saja Ratu... Masih terlalu awal untuk bersenang-senang."


Game kedua.


"Kepala."


"Ekor."


"Koin yang menghadap keatas adalah, Ekor."


Permainan demi permainan berlalu.


Game ke-29


"Luar biasa Vallen, kamu bisa menebak semua itu dengan benar."


"Masih belum Jendral, jalan kita masih jauh."


Game ke-37


"Akhh... Sial, aku kalah."


"Selanjutnya, silahkan."


Vallen terus memenangkan pertandingan.


"Vallen, apa maksudnya ini?"


"Saya tidak mengerti dengan apa yang anda ucapkan, Ratu Roxaline."


"Jangan pura-pura bodoh, ini sudah ronde ke-38 dan kamu masih belum kalah satu skor pun."


"Ini dinamakan keberuntungan, Ratu. Hanya keberuntungan."


Game terakhir.


"Baiklah Ratu, satu kali lagi dan anda akan berdansa denganku."


"Jangan senang dulu Vallen, kali ini lawanmu adalah aku."


"Baiklah kita mulai."


Koin itu terlempar ke atas, dan mendarat di tangan seseorang.


"Aku memilih Ekor."


"Tidak Vallen, aku duluan yang memilih Ekor."


"Ehem*... Menurut aturan, saya yang lebih dulu memilih Ekor. Benar kan, Ratu?"


"Tidak. Disini, akulah peraturan itu."


Vallen menatap Ratu dengan tajam.


"Hahaha... Baiklah jika itu yang Ratu inginkan. Maka saya akan memilih Kepala."


"Anak baik, sebaiknya kau mulai mengemas barang-barangmu."


"Ottoo... Aku rasa tidak begitu.."


Wasit membuka koin itu, dan yang muncul di gambar itu adalah....


"Ini adalah... Kepala."


"APA...!"


Roxaline berdiri dan memukul meja.


"Apakah anda tidak sadar? Jika anda memilih Kepala, mungkin aku sudah berada di kapal anda sekarang."


Suasana menjadi mencekam.


"Hahaha... Baiklah Vallen, kau pemenangnya. Aku mengaku kalah."


Vallen bernafas lega.


"Terima kasih atas permainannya Ratu."


"Jadi, apakah kita bisa berdansa sekarang?"


"Tentu saja Ratu..."


Vallen mengulurkan tangan dengan pesona.


Roxaline meraih tangan itu, dan menarik Vallen ke dalam kabin.


"T-Tunggu Ratu... Apa maksudnya ini?"


"Aku tidak mau berdansa sambil dilihat sama binatang jantan itu. Apakah kita bisa lebih privasi?"


(Apakah ini pesona Ratu? Dia sangat dewasa.)


Di dalam kabin dengan suara musik yang merdu. Vallen, dengan Roxaline kemudian berdansa dengan anggun.


Beberapa kali terdengar suara rintihan kecil.


Namun, rombongan Jendral Creuz bersikap seakan tidak tahu apa-apa.


Beberapa jam telah berlalu, dan hari sudah petang.


Vallen dan Roxaline keluar dari kabin. Keadaan Vallen acak-acakan.


Kemudian semua awak kapal bersiul dan bersikap tidak tahu apa-apa.


"Jendral Creuz..."


"Aku tidak tahu apapun, tidak lihat apapun. Jadi jangan khawatir."


"Oh begitu kah? Yah, setidaknya belajarlah untuk bersiul. Suaramu mirip dengan unta yang sedang tenggelam."


"Maafkan aku. Wahai Temanku."


"Berisik kau Pak Tua."


Setelah itu Creuz duduk di depan Roxaline.


"Ehem*... Aku harap anda menyukai apa yang sudah kami suguhkan, Yang Mulia Ratu."


"Oh tenang saja, aku sudah sangat puas kali ini."


"Pak Tua Creuz, kau benar-benar menjualku kali ini."


Roxaline tertawa.


"Fuhu*... Dia sangat luar biasa. Tetapi, sayangnya dia tidak mau ikut denganku."


"Tidak, terima kasih atas tawarannya."


"Kaku sekali ya... Padahal kamu ganas sekali waktu di atas."


"UHUK*..."


Vallen kalah telak.


"Baiklah aku akan kembali ke Tuore, kali ini aku akan melepaskanmu Creuz."


"Hanya kali ini saja? Bagaimana jika aku membawa Vallen sebagai paket, ketika setiap kali bertemu dengan anda?"


"Hmmm... Jika seperti itu, kalian bisa melewati jalur manapun yang kalian suka tanpa ada yang mengganggu."


"Baiklah... SEPAKAT..!"


"Woy, kubunuh kau Pak Tua Creuz."


Dengan ini akhirnya Vallen, dan rombongan Creuz bisa melewati lautan dengan aman, dan tenang.