
Ultimatum dari keluarga Polac yang menolak penangkapan dirinya, menjadi suatu ancaman bagi kerajaan. Polac dengan gamblang menyatakan perang melawan bala tentara Knight.
Tentu saja hal ini membuat kepala keluarga Guardian Deovare menjadi murka, dan mengirim salah satu anggota keluarganya untuk memimpin perang melawan Polac.
Noir Deovare, merupakan putera dari ahli strategi yang berada keluarga Deovare. Reputasinya tidak kalah dengan anggota Guardian lainnya. Bakat berpedangnya muncul ketika dia masih berumur 3 tahun, membuat dirinya menjadi salah satu dari generasi luar biasa di kerajaan Estora.
Sedangkan itu, di tengah perjalanan menuju kediaman Polac. Noir Deovare, Panglima Kerajaan, dan Vallen, serta tiga orang Knight tier 3 menaiki kuda, sedangkan 500 lebih pasukan Knight tier 1 berjalan di belakang mereka.
"Noir-sama, dengan membawa 500 pasukan Knight tier 1. Apakah kita bisa mengalahkan bala tentara bayaran dari Polac?"
"Jangan khawatir Panglima. Kita akan bermain dengan hati-hati, lagipula Polac itu orang yang licik. Aku yakin dia sudah menyiapkan beberapa trik untuk mengalahkan kita."
"Ya, anda benar. Hanya dengan strategi khusus, kita bisa melawan mereka."
"Oh, Vallen. Menurut laporanmu, Polac mempunyai sebuah parasit yang sangat berbahaya, benar?"
"Itu benar Noir-sama. Polac mempunyai seorang Shaman yang dapat mengendalikan berbagai macam parasit, salah satu diantara parasit itu bernama Brainworm."
"Hehm, Brainworm adalah parasit yang sangat misterius. Setelah perang dingin 5 tahun yang lalu, secara tiba-tiba parasit ini menghilang entah kemana. Dan sekarang dia muncul lagi dihadapan kita."
"Tuanku, Brainworm adalah parasit yang sangat berbahaya. Kita harus lebih berhati-hati ketika melewati area rawa nanti."
"Kau benar. Karena Vallen sudah mengerti medan disini, kuharap kamu dapat memberikan kontribusi yang bagus disini."
"Siap, Noir-sama."
Dikarenakan hari sudah menjelang malam, pasukan itu memutuskan untuk beristirahat. Mereka membangun tenda, memasak, dan mengatur strategi.
Vallen ikut berkumpul bersama Noir, Panglima, Knight 3 dalam suatu tenda untuk berdiskusi.
"Jadi begitulah medan yang akan kita lalui, Noir-sama."
"Hehm, ini medan yang sangat bagus untuk keadaan pasukan kita. Dan kamu menjelaskan bahwa ada suatu tempat yang sangat berbahaya, yaitu di rawa?"
"Itu benar. Tempat yang lembab, menjadi rumah dari para parasit, dan beberapa hewan yang buas. Yang saya khawatirkan adalah, parasit-parasit ini sudah dikendalikan oleh Shaman yang ada disana, jadi kita harus berhati-hati ketika melewati area rawa itu."
"Hehm, kau benar. Meskipun laporan mengenai pasukan musuh sudah diketahui, namun akan lebih baik jika kita mengambil fase secara pelan-pelan."
Di malam itu terasa sangat sunyi, tidak ada suara hewan, ataupun angin.
"Malam ini terasa sangat tenang, sangking tenangnya membuat suasana makin mencengkam."
Perasaan tidak mengenakkan mulai menghampiri semua pasukan.
"Noir-sama, saya merasakan ada sesuatu yang mendekat."
"Apa kau yakin, Vallen?"
"Tidak salah lagi. Ini adalah kumpulan parasit."
"ARRRGG....!!!!"
Tiba-tiba terdengar jeritan dari penjaga.
"Mereka sudah datang kah? Noir-sama, sebaiknya anda tetap di dalam tenda. Biarkan kami para Knight yang akan mengatasi penyusup itu."
"Baiklah, aku serahkan kepadamu Vallen."
"Baik tuanku."
Vallen bergegas keluar, dan mengamati keadaan.
"Semua Knight berkumpul, lindungi yang mulia Noir."
"BAIK...!"
Para Knight segera berkumpul, dan membentuk suatu lingkaran untuk melindungi tenda Noir bersama dengan Panglima di dalamnya.
Vallen menyentuh tanah kemudian mengaktifkan sihir untuk mengetahui berbagai pergerakan di atas tanah dalam radius 1 KM.
(Ada 3 orang pengendali parasit, dan ratusan cacing menghampiri tenda. Beberapa cacing sudah membunuh sebagian Knight yang bertugas sebagai penjaga di luar area.)
"Sangat merepotkan."
(Wahai Roh api, bentuklah dinding sebagai pelindung malamku.)
"Flamewall."
Sihir api berskala luas selesai dirafal oleh Vallen. Api itu membentuk suatu Barrier yang mengilingi seluruh tenda, dan melindungi Knight di dalamnya. Parasit tidak akan bisa memasuki kawasan tenda.
"Sudah saatnya menyapa mereka."
Vallen melompati tembok api, dan melesat keluar menuju 3 pengendali itu.
Vallen memejamkan mata, dan menaikkan sensitifitas seluruh panca indra.
Beberapa parasit mencoba menyerang Vallen, namun semua bisa dimusnahkan dalam seketika.
Para pengendali itu merasakan bahwa ada seseorang yang langsung menerjang formasi mereka.
"Hei. Ada seseorang yang berhasil melewati kawanan cacing kita."
"Tidak masalah, mungkin dia memakai semacam trik. Jangan lepaskan formasi kita."
Sedangkan itu Vallen berlari menghampiri mereka.
(Posisi mereka berbentuk segitiga, satu di depan, dua orang lainnya berada di kiri dan kanan.)
Vallen mengamati area sekitar, dan merasakan sesuatu.
"Oh, aku baru tahu kalau mereka juga bisa mengendalikan hewan ini."
(Giant Worm, kah? Mereka terlalu merendah.)
Vallen dihadang oleh 2 cacing raksasa, mulutnya terbuka dengan gigi yang tajam.
"Kalian sangat mengganggu."
Cacing itu mengeluarkan suara mengeking, kemudian langsung menyerang Vallen.
Vallen melompat, dan merafal sihir angin.
(Roh angin, angkat musuhku.)
"Windhowl."
Gelombang angin yang besar mengangkat cacing itu ke udara. Vallen menghunuskan Kusanagi dan menebas kedua cacing itu.
"Mikazuchi..."
Tebasan itu sangat cepat sehingga mengelurkan aura listrik biru di jalur tebasannya, dan seketika membelah tubuh cacing itu.
"Bluueeggh..."
"Hoi, apakah kamu tidak apa-apa?"
"Sial, orang itu membunuh Giant Worm dengan mudah."
"APA...!! Hei, kita harus pergi."
Sebelum mereka pergi.
"Aku menemukan kalian..."
"Hah? Siapa itu disana."
"Dimana kau? Keluar sekarang...!"
"Aku disini..."
"Hoah, apa itu?" Menunjuk sesuatu.
Dari balik kegelapan yang sunyi itu, tidak ada angin, tidak ada cahaya bulan, hanya suara langkah kaki, dan pancaran dua bola mata berwarna biru yang berkilau.
"Hiii....!!"
Vallen muncul dari kegelapan dengan wajah tertawa lebar.
"I-Iblis.... Dia adalah Iblis."
"Seenaknya memanggil Iblis kepada seseorang. Bukankah kalian adalah Iblis yang sesungguhnya?"
"Hiii....!! Aku mohon biarkan kami pergi, kami akan memberikan apapun yang anda mau, uang, harta, artefak. Apapun itu akan saya lakukan."
"Hoo-... Kalian sangat baik ya. Kalau begitu serahkan apapun yang kamu miliki."
"B-Baiklah, ini semua yang kami miliki."
Ketiga orang itu melemparkan kantong yang berisi emas, perhiasan, dan artefak cincin.
"Baiklah kami akan pergi."
"Siapa yang menyuruh kalian untuk pergi?"
"Hah? Tuan, kami sudah memenuhi permintaan anda, apalagi yang anda inginkan?"
"Memang benar kalian memenuhi permintaanku. Tetapi, aku tidak pernah bilang setuju akan melepaskan kalian."
"K-Kurang ajar...!! Rasakan ini...!!"
"Terlalu banyak bacot."
SRRIING....!!! Bunyi nyaring dari sebuah tebasan pedang.
Dalam satu gerakan, ketiga kepala seketika terputus dari badan mereka.
(Aku yakin ketiga orang ini hanyalah sebagai tikus percobaan, mereka dikorbankan untuk mengetahui kekuatan musuh.)
"Dasar pemberontak. Sifat mereka selalu sama, yaitu sifat pengecut."
(Mereka pasti menaruh mata-mata disekitar sini.)
Tiba-tiba, ada seekor burung yang terbang.
"Ketemu kau."
Vallen segera menangkap burung itu, dan mencongkel mata hewan itu.
Di tempat lain.
"Sial, orang itu masih hidup.."
"Joan, apakah kamu tahu tentang orang itu."
"Ayah, orang itu yang sudah kuceritakan kemarin. Tetapi, aku yakin kalau aku sudah memenggal kepala orang itu. Bagaimana bisa?"
PLAKK...!! Orev menampar Joan
"Jadi semua ini gara-gara kamu membiarkan tikus itu berkeliaran di daerah kita. Gara-gara kamu, para Knight itu tahu tentang gerak-gerik kita. KURANG AJAR KAU, JOAN..!"
"M-Maafkan aku ayah."
"Yah, lagipula kita sudah tidak bisa kembali ke titik awal lagi. Kita lanjutkan sesuai rencana."
"Oh, Shaman. Apakah kamu sudah menemukan orang yang kuat itu?"
"Ya, tentu saja tuan. Dia adalah sekutu yang sangat kuat."
Orev melihat sekutu itu.
"Hahahaha... Aku tidak tahu lagi bagaimana kau bisa mendapatkan sekutu yang sangat kuat ini, Shaman."
"D-Dia adalah..." Joan ketakutan melihat orang itu.
Vallen kembali ke tenda, dan melepaskan sihir apinya.
"Tuan Noir."
"Oh, Vallen. Bagaimana keadaan disana?"
Vallen melaporkan semua yang telah dihadapinya.
"Jadi seperti itu. Seperti yang kurasakan, beberapa Artefak ini cukup mempunyai kekuatan yang bagus. Dengan ini membuktikan bahwa perlengkapan dari pasukan bayaran Polac sudah sangat baik."
"Namun Noir-sama, ini...?"
"Kau menyadarinya kan, Panglima? Keluarga Polac berada di sebuah perbatasan jauh dari Ibukota Kerajaan. Namun, bagaimana caranya dia bisa mengumpulkan banyak pasukan yang mempunyai perlengkapan yang diatas standar? Jawaban dari semua ini cukup mudah. Yaitu, dia mendapat bantuan dari seseorang yang berada di Negara lain."
"Dengan keberadaan Shaman ini, entah berapa orang yang sudah terpengaruh, dan ikut serta dalam membiayai prajurit."
"Apakah Negara ini akan memulai perang terhadap Kerajaan kita?"
"Jika memang ini sebuah Invasi, maka skala ini masih terlalu kecil. Karena kita bisa menguak kebusukan Polac, akhirnya rencana mereka untuk menyerang dengan kekuatan besar menjadi terganggu."
"Itu artinya Vallen adalah orang yang paling berjasa dikarenakan bisa mendapatkan informasi terpenting dari penyelidikan kemarin."
"Itu benar. Setelah kita selesai dan sukses menjalankan misi ini, aku secara pribadi akan menemui Paduka Raja, untuk mengangkat Vallen menjadi seorang Noble."
"Noir-sama... Terima kasih banyak."
"Tetapi sebelum itu terjadi, lebih baik kita berfokus untuk memenangkan perang ini."
"Siap Tuan..."
Pasukan Knight segera melanjutkan perjalanan.
Mereka juga kehilangan 10 orang dari peristiwa tadi malam, dan menguburkan mereka dengan sangat layak.
Tidak lama, mereka sampai di area Rawa.
"Berhenti..." Noir memerintahkan pasukan untuk berhenti.
"Rawa ini dipenuhi oleh makhluk yang menggeliat. Mereka tidak menyerah untuk mengganggu perjalanan kita. Dasar licik."
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Memutari Rawa membutuhkan waktu sampai 2 hari, aku khawatir persediaan kita tidak akan cukup."
"Jangan khawatir Noir-sama. Aku akan melakukan sesuatu mengenai cacing-cacing itu. Namun, aku ingin kalian bersiap-bersiap untuk sesuatu yang mungkin akan muncul di bagian dalam Rawa ini."
"Baiklah Vallen. Semua pasang formasi bertempur."
"BAIK...!!!"
Vallen turun dari kudanya, dan berjalan mendekati Rawa.
"Apa sebenarnya yang kau lakukan, Vallen?"
"Noir-sama. Rawa itu mengandung air, bahkan tanah-tanah disekitarnya juga basah. Jadi apakah ada suatu Elemen yang bisa memperkuat serangan kita melewati air?"
"Hmm? Dengan Elemen yang kau miliki saat ini, apakah itu api? Tidak, api akan segera padam apabila terkena air. Apakah itu angin, tetapi untuk apa? Apa mungkin...?"
"Aku memang memiliki Affinitas tinggi dengan semua tipe Elemen. Namun, ada satu Elemen terkuat yang dari awal menjadi pondasi dari semua sihirku. Elemen itu adalah... Petir."
Vallen menunjukan dengan aliran listrik merayap melalui tubuhnya, percikan itu membesar saat berada di tangannya.
"APA...!!"
"God Palm Thunder Hand."
Dari permukaan Rawa itu, petir dan listrik merambat melalui genangan air. Menghanguskan cacing-cacing parasit yang bergeliat di sepanjang permukaan Rawa.
"Aku tidak menyangka anak ini memiliki Elemen alam paling langka di dunia. Vallen, kau ini penuh dengan kejutan."
Semua orang yang ada disana merasa takjub akan keindahan petir biru yang menyambar itu.
"Bersiap-siaplah. Penghuni Rawa yang sebenarnya akan segera keluar."
Tiba-tiba tanah berguncang.
"Woah... Apa ini gempa bumi?"
Dari dalam Rawa muncul sesosok ular raksasa bertanduk.
"Ssssshhhaaa....!!!" Desisan ular.
"Ini adalah Giant Snake Horn yang beracun. Knight, posisi Shild."
Para Knight mengambil posisi bertahan. Mereka menaruh tameng berjajar, dan tersusun hingga keatas.
"Bersiap untuk benturan."
Ular itu melesat dengan cepat, menyeruduk tameng-tameng itu.
DING.....!!! Suara benturan tanduk dengan baja.
"Vallen, serahkan ini padaku."
"Tentu saja Noir-sama. Ini adalah giliran anda. Aku tidak bisa mendapatkan semua ketenaran ini."
"Hah... Dasar kau bocah licik."
Noir menghunuskan pedang Claymore(Pedang besar). Kemudian dia melompat dan menebas kepala ular itu.
"Hyaatt..."
Kepala yang sangat keras itu memantulkan pedang Noir.
(Kepala itu sangat keras.)
"BERJUANGLAH, Noir-sama...!!!"
"Diam kau bocah, jangan menggangguku dengan berteriak seperti itu."
(Jika kepala tidak bisa. Aku akan menyerang tubuhnya.)
Noir menebas kulit ular itu, namun sisik itu sulit untuk di tembus.
"Sial, tubuhnya juga sangat keras. Kalau begitu..."
(Namaku Noir Deovare, jika pedang adalah tubuh maka jiwa adalah darah. Guardian yang perkasa, berikan aku berkahmu, dan jadikan tubuhku sebagai pilar permata.)
"The Exclarion."
Pedang Noir mulai mengeluarkan aura api, tubuh Noir secara perlahan membesar dan mengkilap seperti permata. Ukuran Claymore mulai menjadi besar dan lebar.
Noir melesat, dan menabrak ular itu sampai terpental.
"Hoah..."
Memukul ular itu berkali-kali, membuat sisik yang ada di badan ular itu rontok.
Noir mulai mencengkram ekor ular itu dan memutar dengan cepat, kemudian dia melemparnya ke atas, Noir melompat dan dengan Claymore dia memotong tubuh ular itu menjadi dua bagian. Ayunan pedang itu mengakibatkan angin menghempas air di Rawa itu menjadi kering.
"Luar biasa. Kekuatan ini, sangat luar biasa."
Sebagai seorang Maniac petarung, Vallen merasakan panas di seluruh badan. Dia tertawa dan berharap suatu saat bisa bertarung dengan orang di depannya itu.
"Bagaimana dengan ini, Vallen?"
"Hahaha. Sangat mengesankan Noir-sama. Ihihihi..."
"Ya-Ya-Ya... Tapi, bisakah kau tidak membuat wajah yang menyeramkan itu? Dasar Maniac petarung."
Mereka melewati Rawa dengan aman dan segera sampai di medan perang.
Ketika malam tiba, mereka sudah sampai di daerah perbatasan, tempat yang nanti akan menjadi medan perang diantara dua kubu.
Noir memerintahkan pasukan pengintai untuk mengetahui jumlah musuh.
Setelah tim pengintai kembali.
"Noir-sama. Mereka berjumlah kurang lebih 700 pasukan."
"Baiklah, kerja yang bagus, segera kembali ke tempatmu. Besok adalah hari yang panjang."
"Siap."
Panglima beserta Vallen memasuki tenda Noir.
"Pasukan mereka tidak terlalu banyak. Aku yakin kita bisa menang besok."
"Noir-sama, aku merasakan ada seorang dengan kekuatan yang sangat besar di sana."
"Aku juga merasakannya. Tetapi, kita tidak boleh gentar apapun yang terjadi."
Akhirnya esok hari tiba.
Para pasukan dari kedua kubu akhirnya saling berhadapan.
Di sebuah padang gurun, jarak diantara mereka hanya sekitar 2 KM.
"Seperti yang sudah diperkirakan, di sana ada sebuah regu pengendali parasit. Posisi mereka dibelakang kah."
"Noir-sama, seseorang yang memegang tombak di sebelah Orev itu. Dia adalah Iblis."
"Tanduk itu... Ternyata bantuan yang dimiliki oleh Polac adalah kaum Iblis."
"Sepertinya hanya ada satu Iblis disana, Noir-sama."
"Hehm... Sepertinya Iblis itu melakukan sesuatu."
Iblis itu bersiap untuk melesatkan tombak yang diselimuti aura, tombak itu mengarah di pusat komando pasukan Knight.
"Sial... Noir-sama, serahkan kepadaku."
Vallen melompat dan mencengkeram badan tombak itu. Sangking kuatnya lesatan tombak, Vallen sampai terseret sampai beberapa meter.
"Lumayan... Aku akan kembalikan tombak ini kepadamu."
Vallen mulai mengambil kuda-kuda, dia mengaliri tombak itu dengan Aura petir, angin, dan api. Tubuh Vallen juga mulai memercikan listrik merah, kemudian dia melemparkan tombak itu dan mengarah langsung ke Iblis itu.
Tombak yang dilesatkan Vallen sangat cepat, perpaduan tiga Elemen membuat tombak itu diselimuti Aura yang saling bersinergi. Lesatan tombak ini membuat Iblis itu terkejut, karena langsung mengarah ke kepala Iblis itu. Namun, dia berhasil menghindari tombak itu dan menyebabkan luka sayatan di pipi Iblis.
Serangan tombak balasan dari Vallen, meratakan pasukan yang berada di belakang Iblis itu.
Dengan ini pertempuran dimulai....