
Hari ini Vallen akan melihat bagaimana kondisi dari Raja Ivaria. Bersama dengan Puteri Arleana, dan juga Jendral Creuz.
"Bagaimana keadaan Ayahanda?"
"Puteri, kondisi Paduka semakin parah."
"Sigh*... Apa yang harus kulakukan?"
"Tenanglah Yang Mulia, saya akan melihat kondisi Raja."
"Aku serahkan kepadamu Vallen."
Vallen mulai mengecek keadaan Raja.
(Darah membeku, sirkulasi terganggu, mata merah, kulit lebam, dan ada Aura kegelapan di sekitar jantung).
"Ternyata benar bahwa ini adalah kutukan."
"Kami juga menduga seperti itu. Jadi Vallen, bagaimana cara agar Raja bisa terlepas dari kutukan?"
"Menghancurkan sumber kutukan, atau membunuh orang yang menyebabkan kutukan ini. Apakah terakhir kali Raja pernah bertemu seseorang?"
"Seseorang pernah berkunjung ke Istana untuk menemui Paduka, dia membual tentang cara untuk mengakhiri konflik antara Ivaria dengan Kerajaan Manusia. Namun, pada saat itu kami hanya bisa tertawa.."
"Lanjutkan..."
"Karena merasa tidak dihiraukan, akhirnya orang itu keluar dan dia mengatakan akan memberikan sesuatu. Keesokan harinya Kerajaan kami tertutup oleh Miasma, bau yang menyengat, hingga membuat tanaman serta penduduk kami terkena penyakit aneh. Dalam semalam, kabut itu telah melumpuhkan Kerajaan kami."
"Apa kamu tahu seperti apa wujudnya?"
"Seorang wanita, berpakaian seperti penyihir. Dia membawa sesuatu seperti bola kristal berwarna merah."
"Penyihir ya? Kapan tepatnya wabah itu muncul?"
"Sekitar 1 bulan yang lalu. Kami sudah kehabisan cara untuk menyelesaikan masalah ini, maka dari itu Aku memerintahkan Jendral Creuz untuk menjalankan Ekspedisi ke Kerajaan Estora."
"Baiklah, aku akan mulai mencari keberadaan Penyihir itu."
"Aku serahkan kepadamu. Tolong selamatkan Kerajaan kami."
Vallen kemudian pergi untuk mencari keberadaan Penyihir.
Setelah keluar dari Istana, Vallen melihat banyak sekali orang yang terkena penyakit pernafasan, batuk berdarah.
"Kondisi yang sangat mengerikan."
Vallen mulai mencari jejak lewat Miasma yang tersebar di berbagai sudut kota.
"Hei apa yang kamu lakukan?"
Seseorang menegur Vallen.
"Oh, maaf. Aku ingin memulai penyelidikan mengenai wabah ini."
"Jika kau sayang nyawamu, segera hentikan apapun yang kamu lakukan. Kerajaan ini sudah tidak memiliki masa depan."
"Aku hanya ingin membantu kalian, jika kamu memiliki suatu informasi apapun mengenai hal ini, aku akan sangat tertolong."
"Sigh*... Aku melihatnya."
"Apa yang kau lihat?"
"Seseorang yang berdandan layaknya Penyihir. Mempunyai bau yang seperti bunga Lavender. Dia selalu berkunjung di salah satu pemakaman, dan kemudian pergi."
"Bisakah kau tunjukkan kemana arah dia pergi?"
"Hutan Elwood, sudah beberapa kali aku mengejar Wanita itu. Namun, entah kenapa aku selalu berakhir kehilangan jejaknya."
"Kapan terakhir kali kau melihat Wanita itu?"
"Satu minggu yang lalu. Seharusnya Wanita itu akan berkunjung lagi sekarang."
"Baiklah, terima kasih."
Vallen menuju area pemakaman.
(Ada seseorang...)
Terlihat seseorang yang memakai baju Penyihir, dengan topi yang lebar, dan ramuan di sabuknya.
"Hai Nyonya..."
Penyihir itu terkejut, dan langsung lari menuju hutan.
"Hoi, tunggu. Aku hanya ingin berbicara."
Penyihir itu berhenti.
"B-Baiklah."
Vallen mulai mengikuti Penyihir itu. Secara pelan-pelan, mereka menuju hutan Elwood.
"Hei, sebenarnya mau kemana kita?"
"Ssttt*..."
Penyihir menyuruh Vallen untuk diam.
Vallen menyadari ada hal aneh.
(Udara disini sangat busuk, pepohonan tanpa daun, tanah berwarna putih. Apa yang sebenarnya terjadi di hutan ini?"
Setelah melewati berbagai perjalanan, mereka tiba di suatu gubuk tua.
"Masuklah."
"Baiklah."
Vallen masuk. Di gubuk itu terdapat banyak sekali herbal, kulit kering dari macam-macam binatang, dan panci besar.
Penyihir mulai menyeduh teh dan menyuguhkan kepada Vallen.
"T-Terima kasih."
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?"
"Apakah kamu yang bertanggung jaw...."
"Jika yang kau tanyakan apakah aku menaruh kutukan ke Kerajaan ini, maka jawabannya adalah bukan aku pelakunya."
"Semua orang bilang pelakunya adalah seseorang yang memakai pakaian Penyihir, dan kebetulan aku bertemu denganmu yang memiliki..."
"Apakah kamu mencurigai semua orang yang memakai baju Penyihir?"
"Ah, Bukan itu maksudku..."
"Aku tahu. Kalian semua menanyakan hal yang sama. Apakah hanya kalian saja yang merasakan dampak kutukan itu? Sayang sekali, aku juga merasakan dampaknya."
"M-Maafkan atas tuduhanku yang salah. Namaku Vallen, dari Kerajaan Estora."
"Kerajaan Estora? Oh begitu, mereka meminta bantuan kalian. Namaku Mary."
"Baiklah Mary, apakah kamu tahu sesuatu mengenai kejadian ini?"
"Aku tidak tahu apapun, yang kutahu adalah Adikku juga menjadi korban."
"Aku turut berduka cita, karena wabah ini...."
"Eh, bukankah kamu salah tentang satu hal?"
"Apa maksudmu?"
"Adikku bukan mati karena wabah, tapi karena di bunuh oleh orang-orang dari Kerajaan itu."
"T-Tunggu... Bagaimana itu bisa..."
"Setelah wabah terjadi, Kerajaan memberikan perintah untuk mencari orang yang memakai pakaian Penyihir. Adikku, yang saat itu masih kecil dan tidak tahu apa-apa... MEREKA MENGEKSEKUSI ADIKKU... Melemparinya dengan batu, mengutuknya, menyeretnya ke tengah kota, dan mereka... mereka."
Mary mulai marah dan menangis.
"Baiklah sudah cukup. Aku tahu kelanjutannya."
"Setelah mereka tahu kalau para Panyihir yang mereka bunuh tidak mengakhiri kutukan itu. Mereka hanya bilang minta maaf... Apakah Adikku bisa kembali jika kalian meminta maaf?"
"Mary... Aku tidak tahu jika kalian telah mengalami kejadian mengerikan seperti itu."
"Yah... Sekarang kamu tahu."
"Apakah makam itu adalah punya Adikmu?"
Mary menunduk.
"Aku berjanji akan menyelesaikan masalah kutukan ini."
"Lakukan apapun yang kamu mau. Aku tidak peduli apapun mengenai Kerajaan ini."
Vallen kemudian keluar dari gubuk.
(Apakah Puteri yang memerintahkan pencarian para Penyihir? Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya).
Vallen kembali ke Istana, untuk bertemu dengan Arleana.