Dragon Soar To The Sky (Rewrite)

Dragon Soar To The Sky (Rewrite)
Ke Pelukan Ibu




Setelah melepaskan sihir pengancur hebat, Vallen tidak merasakan penyesalan apapun karna telah membunuh seorang Manusia. Setidaknya itu yang terjadi, Namun...


"Bagaimana Tuan Parley, akting kita bagus kan?" Ucap Vallen sambil mengeluarkan jempol.


"Ahh tentu saja Vallen seperti yang sudah direncanakan. Jadi dimana sekarang Elde?"


"Sebelum petir itu mengenainya aku sudah memasukan Elde ke dalam cincin parsial ini dan kutukar dengan abu. Tenang saja sesuai rencana dia masih hidup sekarang di dalam ruang waktu."


"Syukurlah kalau seperti itu. Aku memang setuju pada rencana dia akan dieksekusi di depan masyarakat untuk menunjukkan bahwa aturan di desa ini mutlak."


"Yah aku dari awal memang tidak berniat membunuh orang, sedangkan Elde juga orang yang lemah dan aku tau kenapa dia bertindak seperti ini. Kehilangan sosok seorang Ibu pada masa kecil memang menyakitkan."


"Jadi bagaimana nanti ketika dia keluar orang orang di desa akan tahu bahwa putraku hidup kembali?"


"Wajahnya sudah tidak akan bisa kembali seperti semula dengan pukulanku yang seperti itu tetapi, aku bisa merubah wajahnya sedikit lebih baik. Selain sebagai penyihir aku juga ahli pengobatan."


"Sungguh seorang yang mengerikan. Tidak hanya ahli dalam strategi namun juga kekuatan yang besar. Kamu hebat Vallen."


"Tentu tidak Tuan Parley, aku tetaplah masih seorang bocah yang belum tahu seluk beluk dunia yang luas ini jika dibandingkan dengan anda. Anda adalah sebagai Senior dan saya sebagai Junior, tentu saja mempunyai kewajiban untuk menerima ilmu yang berharga dari seorang yang sudah hidup lebih lama daripada saya."


"Tepatnya ilmu apa yang anda bicarakan Vallen? Kalau soal sihir level kita berdua bagaikan bumi dan langit."


"Seorang yang bijaksana pernah berkata bahwa pengalaman adalah Guru terbaik. Sewaktu kecil kita diajarkan untuk menghormati orang yang lebih tua, kenapa demikian? Karna arti sebenarnya dari menghormati mereka adalah kita sebagai generasi yang lebih muda mengakui dan menghargai pengalaman orang yang lebih tua dari kita."


"Kata kata yang sangat bijak, orangtua ini sangat tersanjung."


Vallen tiba di kediaman Baron Parley dan segera memasuki ruang pengobatan.


Vallen mengeluarkan Elde dari cincin parsialnya dan mulai mengoperasi wajahnya. Meskipun tulangnya sudah tidak berbentuk tapi untuk Vallen, ini bukan masalah serius.


Setelah Vallen selesai mengoperasi wajahnya, dia juga menghilangkan sebagian ingatan darinya. Tentu saja hal-hal negatif saja yang kuhilangkan agar bertujuan untuk membentuk karakter Elde dari pondasi awal.


Dia hanya akan mengingat kehangatan kekeluargaan dan aku berharap dia nanti akan menjadi lebih baik.


"Tuan Parley ingat untuk selalu membuat ramuan ini ketika malam tiba dan juga ikatan perban itu bisa dibuka setelah minimal 30 dan untuk hasil terbaik 45 hari. Tenang saja aku membuat wajah Putra anda semakin tampan Hahaha."


"Terima kasih Vallen. Oh iya, kamu sudah akan pergi kan?"


"Ya, aku harus segera pulang ke rumah, keluargaku pasti menungguku di sana."


Aku rindu semua orang terutama Ibuku. Bagaimana kira-kira perasaannya ketika melihat putranya seperti ini?


Vallen berpamitan dengan yang lain.


"Tunggu Tuan Vallen, ini ada sedikit oleh-oleh untuk keluargamu dan aku sudah menyewa Dragon Raider untuk mengantarmu pulang. Salam untuk keluargamu."


"Tapi ini..."


Jangan bercanda Tuan Parley. Anda memberikan oleh-oleh sebanyak ini? Bagaimanapun ini sudah terlalu...


"Sudah-sudah jangan sungkan. Hahaha."


"Baiklah terima kasih Tuan Parley. Aku akan berkunjung lagi suatu saat nanti."


Vallen mulai terbang dengan Raider dan memintanya agar sejenak mampir ke penginapan Shione.


Oh sepertinya Dolas yang pertama menemuiku.


"Hai Dolas."


"Owh, Vallen apakah kamu sudah akan pergi?"


"Yah aku tidak bisa berlama-lama disini. Keluargaku pasti khawatir."


Dan kemudian aku melihat Sistine keluar dari penginapan dan menemuiku.


"Vallen, kamu akan berkunjung kesini kan suatu saat nanti?"


Melihatnya dengan wajah seperti itu aku tidak tega harus meninggalkannya.


"Tentu saja aku akan berkunjung lagi, jadi jangan khawatir mungkin agak masih lama..."


Sebelum selesai berbicara aku merasakan kelembutan yang tiada tara di bibirku. Apakah ini sebuah ciuman kenapa senikmat ini?


Tanpa tersadar Vallen terhanyut dalam kenikmatan. Sistine Memeluk Vallen dengan erat.


*Pa*dahal aku belum mengatakan bahwa aku mempunyai janji dengan seseorang di tempatku. aku akan berbicara kepadanya.


"Ohh jadi seperti itu?"


Siatine menundukkan wajahnya dan berbalik badan.


"Sistine..." Valln memanggil dan berusaha meraihnya.


Tiba-tiba...


"Vallen, kamu mencintaiku kan? Kalau begitu jangan jadikan aku pacarmu, tetapi jadikanlah aku Istrimu. Hingga saat itu tiba, aku akan selalu menunggumu." Ucap Sistine dengan tersipu.


"Heh...! Maksudmu aku boleh mempunyai Istri lebih dari satu?"


"Hehm siapa peduli, hanya saja jangan terlantarkan aku itu saja. Kamu harus bertanggung jawab."


"Jika saat itu tiba, akankah kamu bersedia menjadi bagian dari hidupku?"


"Entahlah... Tetapi aku berpesan agar jangan pernah menyakiti perasaan orang lain."


Vallen mencium Sistine dan berpamitan dengannya.


Setelah itu...


Hanya membutuhkan waktu selama 12 jam berkendara dengan seorang Dragon Raider untuk mencapai desa.


Hari sudah sore


Suasana ketika ada diatas awan, perlahan-lahan Vallen mulai merasakan aroma khas pertanian, hingga mulai melihat di balik kabut itu muncul sebuah desa. Ya benar, desa Vallen bernama Mura atau desa Mura.


Vallen mendarat tepat di air mancur di tengah-tengah desa.


Vallen mulai melihat banyak wajah yang tidak asing berkumpul dan penasaran dengan kehadirannya.


Seketika ketika mereka mulai mengenali sesosok Anak muda itu, penduduk mulai desa berteriak.


"Wooah.... Itu Vallen, dia sudah kembali."


"Wahh benarkah itu dia? Tetapi kenapa aku merasa dia semakin tampan?"


"Hush... Itu tidak penting."


Aku mendengar mereka berbicara dan bersiteru satu sama lain...


Kemudian Vallen menjelaskan bahwa selama 1 tahun ini dia berlatih di sebuah pegunungan dan mereka menyambutku.


"Maaf semuanya, tapi aku harus segera menuju rumah dan kepala desa tolong jaga barang-barangku."


Vallen segera berlari secepat angin dan akhirnya tiba di depan rumah.


"Rumah ini... rumah kecilku. Aku rindu melihatnya."


Seseorang keluar dari pintu..


"Ah Ibu..." Air mata Vallen mulai jatuh.


Ibu Vallen yang kaget melihat Anaknya datang tiba-tiba menjatuhkan keranjang sayur dan perlahan mendekat.


"Ooh... Anakku. Kamu benar Anakku kan? Aku tidak sedang bermimpi kan?" Ucap sang Ibu sambil menyentuh pipi Anaknya dan menangis.


"Ya Bu. Aku Vallen anakmu." Seketika Ibu memeluk Vallen dengan isak tangis.


Kemudian Ayah Vallen juga keluar dari dalam rumah.


"Vallen..." Ayahnya memanggil dan kemudian memeluk mereka berdua.


"Ibu dan Ayah, aku pulang." Vallen merasakan kehangatan dari kedua orangtuanya.


"Hemm... Selamat datang Anakku."


Suara Ibu yang hangat dan halus mengempas seluruh kerinduanku.


SIHIR DUNIA MELAMPAUI LANGIT AKAN SEGERA MASUK MUSIM KE-2.


Akhirnya kehidupan Akademi akan segera di mulai.