Dragon Soar To The Sky (Rewrite)

Dragon Soar To The Sky (Rewrite)
Musuh Kuat



"Ada yang salah..."


Tapi apa?


Vallen berlari dengan kecepatan tinggi menuju Istana.


"Puteri, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan."


"Vallen, apakah ada sesuatu?"


"Apakah benar anda memberi perintah ke semua orang untuk memburu mereka yang memakai baju seperti penyihir?"


"Kau tidak sopan Vallen."


Jendral Creuz menyela pembicaraan mereka.


"Jendral Creuz?"


"Puteri tidak memberi perintah untuk memburu mereka, namun hanya untuk mencari keberadaan para penyihir."


"Jadi apa yang ingin anda lakukan jika bertemu dengan mereka?"


"Puteri hanya ingin meminta bantuan mereka. Namun, ada beberapa hal yang seharusnya tidak terjadi."


"Ada desas-desus yang tersebar di Kerajaan, jika kita membunuh semua penyihir maka kutukan ini akan menghilang."


"Ironisnya lagi, semua orang yang berada di Kerajaan Ivaria mulai melakukan perburuan Penyihir. Padahal mereka semua tidak bersalah."


"Hal ini membuat rencana Puteri untuk meminta bantuan para Penyihir menjadi titik buntu. Kami menyelamatkan yang bisa diselamatkan. Mereka berkumpul di Istana."


Para Penyihir yang berhasil selamat dari pembantaian itu mulai memasuki ruangan.


Vallen melihat para Penyihir itu dalam keadaan yang baik.


"Apakah mereka para Penyihir yang berhasil anda selamatkan?"


"Itu benar, karena beberapa alasan aku menyuruh mereka untuk tinggal di dalam Istana."


"Syukurlah. Setidaknya aku sudah tahu bagaimana situasinya."


"Semoga kamu mengerti kejadian sesungguhnya. Faktanya, Penyihir yang mengutuk Kerajaan, dia berbeda dengan ciri-ciri Penyihir pada umumnya."


"Aku yakin ada yang sengaja menyerbarkan berita yang salah kepada Rakyat."


"Kalau begitu, aku meminta sebuah perlindungan untuk seseorang Penyihir. Tadi aku bertemu dengannya."


"Hem, baiklah. Aku akan mengutus Jendral Creuz dan beberapa Prajurit untuk menjemput Penyihir itu."


"Terima kasih Puteri."


"Jangan berterima kasih kepadaku. Sudah sewajarnya Puteri Kerajaan untuk menyelamatkan para Rakyatnya."


Jendral Creuz dan Vallen, dengan beberapa Prajurit mulai bergerak untuk mejemput Mary.


Setelah sampai, mereka terkejut.


"Hoi apa yang kalian lakukan, lepaskan dia."


Mary diserang oleh beberapa orang dengan pakaian hitam.


"Tsk*... Anjing Kerajaan kah? Mundurlah, jika kalian mendekat. Penyihir ini akan mati."


Orang itu mencekik leher Mary.


"Sial..."


"Berhenti Vallen."


Creuz menghentikan Vallen yang sudah bersiap untuk maju.


"Otto... Bergerak sedikit saja, leher Penyihir ini akan putus."


"Baiklah, apa yang kalian inginkan?"


"Kami hanya ingin membawa dia dengan aman. Tapi ya... Jika kalian mau, serahkan pusaka Kerajaan kalian."


"Ternyata benar. Kalian adalah kelompok dari Penyihir yang sudah mengutuk Kerajaan kami, benar bukan?"


"Ping Pong... Benar sekali."


"Vallen, mereka itu berbahaya."


"Hah? Aku tidak peduli, Mary sedang dalam bahaya."


"Mundurlah, Vallen...!" Mary berteriak.


"Mary, jangan khawatir. Aku akan menyelamatkanmu."


"Vallen..."


"Oho... Ada apa ini? Apakah kalian sudah saling mengenal...?"


"Apa maksudmu?"


"Apakah kamu tidak tahu? Dia ini bukan Penyihir biasa lho."


"Hentikan, jangan dilanjutkan... Akh*..."


Mary dipukul.


"Mary... Kau sialan, jangan memukul dia."


"Kuberitahu kau. Dia ini adalah Penyihir yang sudah pernah membunuh banyak nyawa lho."


"Hah...?"


"Penyihir ini dulunya adalah anggota kami, sayang sekali dia keluar dari Organisasi tanpa pamit. Jadi kami memberi sedikit kunjungan... Benar kan, Mary Elzena?"


"Mary Elzena...? Kamu, Penyihir hitam."


"I-Itu benar... Aku dulunya dipanggil Penyihir hitam. Tapi, aku memutuskan untuk pergi dari Organisasi, karena mereka telah menyandera Ibuku, aku tidak ada pilihan selain menuruti kemauan mereka. Mereka berjanji akan melepaskanku ketika selesai dalam suatu misi. Tetapi, mereka membunuh Ibuku tepat di depanku..."


"Benarkah? Kami hanya ingin kamu lebih kuat Mary, jadi kami menghilangkan gangguan itu... Eh."


Dengan kecepatan kilat, Vallen melesat dan memukul wajah Pria itu. Di momen itu Vallen mendekap Mary dan menyelamatkannya.


"Kerja bagus Vallen..."


"Jendral Creuz, tolong lindungi Mary. Aku akan mengurus si kutu itu."


"Siapa yang suruh melindungi? Tanganku sudah gatal, sudah lama aku tidak memukul seseorang."


"Baiklah... Jangan mati lho Pak Tua."


"Siapa yang kau bilang Pak Tua, Hah?"


Pria yang dipukul Vallen, berjalan dengan santai.


"Hoya-Hoya... Kekuatanmu lumanyan sih, tapi gak berasa apapun."


"Kau memanggilku kutu ya?"


Secara tiba-tiba Pria itu dibelakang Vallen.


"Bukankah itu sedikit tidak sopan."


"Sial.... Ukh.."


Vallen terpukul, dan terhempas dengan keras.


"Vallen...! Sialan kau..."


Creuz melepaskan pukulan, namun di tangkis dengan mudah.


"Hanya ini..? Sigh... Sangat membosankan..."


Pria itu mengenggam tangan Creuz dan melemparnya.


"AAKKKHH....!"


"Mary...! Lepaskan dia, kau bajingan."


Prajurit yang berada disekitar Mary berusaha menyerang.


"Matilah..."


Dengan sekejap, kepala para Prajurit tergeletak di tanah.


"Mustahil... Bagaimana dia melakukannya?"


"Ketahuilah ini, kalian berdua lemah."


Beberapa orang yang satu kelompok dengan Pria itu mulai berbicara.


"Hoi, cepat bawa dia. Ketua bisa marah kalau kita terlalu lama."


"Cih... Aku masih belum puas menghajar mereka. Hoi, ingatlah ini bocah. Namaku Cylaz, jika kau mengganggu rencana kami. Aku sendiri yang akan membunuhmu."


Pria itu menarik rambut Mary.


"Aku akan membawa dia, jangan mengejar lho, Bocah."


Cylaz bersama kelompoknya mulai menghilang seperti kabut.


"Sial... Aku tidak bisa bergerak sama sekali."


"Vallen, aku tahu siapa mereka."


"Hah? Pak Tua, kamu yang lebih kuat dariku bisa terlempar seperti kertas."


"Berisik... Dia seumuran denganmu, tapi bisa mengahajarmu dengan mudah."


"Uhuk... Sebenarnya dia memukul kepalaku tepat di titik yang paling lemah dengan jarum yang berisi racun pelumpuh paling ampuh di benua ini."


"Sigh... Sini kulihat. Kau terlalu lengah. Jalanmu masih panjang Bocah."


"Apakah kau bisa bergerak Pak Tua?"


"Tidak..."


"Kita sama."


Beberapa jam berlalu.


"Aarrgh.... Akhirnya bisa bergerak juga."


"Hoi, Pak Tua. bawa aku."


"Oh, Vallen. Kau masih belum bisa bergerak? Yah nikmati waktumu. Aku akan melaporkan dulu kejadian ini kepada Puteri."


"Argg... Sialan kau Pak Tua."


"Sampai bertemu di Istana. Nikmati waktumu, Bocah."


Creuz pergi tanpa membawa Vallen.


"Eeiigh... Racun ini terlalu kuat, berapa lama lagi efeknya akan hilang? AKU AKAN MEMBUNUHMU... CYLAZ...!"


Di tempat yang lain.


"Achoo..."


"Hmm, kau tidak apa-apa, Cylaz?"


"Hemm, aku baik-baik saja. Tapi, aneh sekali ya. Biasanya aku tidak pernah sakit."


"Terkena demam ya? Yah, Bocah sepertimu sudah wajar sih..."


"Diamlah..."


Selain itu di Istana.


"Apakah itu benar Creuz?"


"Ya, Puteri. Tidak salah lagi, mereka dari Organisasi itu."


"Apa yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa menyerahkan Pusaka Kerajaan ini."


"Mereka adalah Organisasi paling berbahaya, posisi kita sangat sulit."


Tiba-tiba seseorang masuk.


"Tidak, kita bisa menang."


"Oh Vallen, kau sudah bisa bergerak ya."


"Yah, hanya kakiku saja yang bisa bergerak. Apa kau tahu bagaimana rasanya berlari dengan kedua tangan yang lumpuh? Aku ditertawai ketika melewati jalan Istana."


"Creuz, apa yang terjadi disini?"


"Itu sebenarnya Puteri, Jendral Creuz me..."


Creuz menutup mulut Vallen dan berbisik.


"Diamlah... Atau akan kujual kamu ke Ratu gila itu."


"Gulp... B-Baiklah... Sebenarnya Puteri, tadi aku sedang terkena racun pelumpuh. Jendral Creuz membawaku ke Tabib, namun karena aku sudah merasa baik, jadi aku segera menuju Istana."


"Hoh begitu ya. Syukurlah kamu tidak apa-apa."


Vallen melihat Creuz.


Creuz mengacungkan jempolnya.


(Akan kubalas kau Pak Tua).