Dragon Soar To The Sky (Rewrite)

Dragon Soar To The Sky (Rewrite)
Menghampiri Si Tua



Vallen akhirnya beranjak pulang kembali ke desa. Namun, di dalam perjalanan dia selalu terlihat lesu dan tidak bersemangat.


(Ah, sudah malam. Aku akan mendirikan tenda terlebih dahulu.)


Tak lama tenda itu siap untuk ditempati, dan Vallen memasak hasil buruannya.


(Ha, perutku sudah mulai keroncongan.)


Ketika Vallen mulai memanggang, tiba-tiba ada seorang wanita yang menggandeng tangan anak kecil.


"Hmm, Nyonya. Maaf mengganggu, anda mau kemana di malam hari seperti ini?"


"Kami sebenarnya dalam perjalanan dari desa menuju Ibukota, tetapi kami sempat tersesat, dan setelah kami tahu rute perjalannya, ternyata hari sudah mulai malam."


"Kalau begitu, Nyonya bermalam saja di sini. Karena untuk menuju Ibukota masih jauh, apabila harus ditempuh dengan berjalan kaki."


"Begitu ya, apakah tidak apa-apa kalau kami berdua ikut bermalam disini?"


"Tidak masalah, anda bisa memakai tenda saya untuk bermalam dengan anak anda. Saya akan tidur diluar dan berjaga. Karena kalau api ini mati, maka suhu akan semakin dingin, jadi saya akan menjaga api ini diluar dan Anda bisa tidur di dalam tenda." Vallen berkata sambil tersenyum.


Tak terduga ada bunyi perut yang sedang kelaparan.


Krruukkk....!!!!


"Hem, Adik. Kamu mau ini?"


Vallen menunjukan daging kelinci yang telah dipanggang.


"Ini adalah daging kelinci dan rasanya sangat enak lho... "


"Wah... Terima kasih Kakak yang baik."


Anak kecil itu menerima daging panggang dengan gembira.


"Mari kesini, Nyonya. Saya yakin anda juga pasti lapar, dan daging kelinci itu aman kok. Silahkan dimakan."


"Hem, baunya sangat wangi. Sepertinya enak sekali."


"Tentu saja enak, daging kelinci ini sangat lezat jika dipanggang. karena dagingnya yang wangi dan lembut."


Setelah mereka selesai makan malam, kedua ibu dan anak itu masuk ke tenda sedangkan Vallen berjaga diluar.


Acchhoo(bersin)....!!!!


"Ah, dingin sekali. Api ini tidak dapat bisa menghangatkan hawa dingin di hati."


Matahari terbit...


Hooammm(menguap)...!!!!


(Waktunya bangun dan melanjutkan perjalanan.)


"Wah, terima kasih banyak, Nyonya."


"Sudahlah, ini tidak ada apa-apanya. Baiklah kalau begitu. Dik, saya mau berangkat dulu ya. Terima kasih."


"Kakak yang baik. Terima kasih ya... " Bocah itu melambai ke Vallen.


"Baik... hati-hati di jalan ya."


Setelah beberapa jam berlalu.


Vallen hampir tiba di desa. Keadaan sudah sore menjelang malam.


Sebelum pulang ke rumah, dia sejenak pergi ke pemakaman di desa.


Vallen berhenti di depan salah satu makam.


"Sudah lama sekali sejak aku berkunjung ke makam ini. Bagaimana kabar Kakek di sana?"


Vallen melihat ke langit.


"Pasti Kakek tenang disana kan?"


Vallen kemudian duduk dan berbicara di depan batu nisan Kakeknya.


"Kek, aku kemarin pergi ke Ibukota untuk mengikuti ujian. Aku juga sudah berjanji ke semua orang di desa, aku mendapat teman baru di sana, aku memakan sesuatu yang belum pernah aku makan selama di desa, aku juga bertemu Kak Fiona. Akan tetapi, aku gagal memasuki Akademi karena aku tidak mempunyai bakat apapun."


Vallen sejenak mengingat perkataan yang sering diucapkan oleh kakeknya.


"Berdirilah Vallen, jika kamu sedang bersedih, ingatlah ucapan Kakek tua ini 'Berdirilah yang kuat dan berteriak dengan keras apa yang sedang kamu inginkan, kakek akan selalu melihatmu dan akan selalu ada di dekatmu, maka dari itu jangan pernah menyerah untuk berusaha menggapai impianmu.' Hingga sampai saat terakhir."


"Kek... aku tidak akan menyerah."


Setelah beberapa saat kemudian.


"Oh, aku ingat sesuatu tentang cerita Kakek dulu."


Pada saat itu Vallen masih berumur 6 tahun sedangkan Fiona berumur 10 tahun.


Ketika mereka masih kecil. Pada sore hari, kakak-beradik ini datang untuk mendengar cerita kakeknya yang dulu berprofesi sebagai petualang.


"Kakek... Aku mau mendengar cerita lagi." Ucap Fiona dengan sangat polos.


"hem, aku juga, Kek". kata Vallen.


"Hohoho... Kalian suka mendengar ceritaku ya? Duduklah di sini, kakek akan menceritakan sesuatu."


" Wah, Hore...!" teriak Vallen dan Fiona.


"Cerita ini terjadi pada saat kakek masih muda. Pada saat itu..."