
Satu hari berlalu.
Setelah kejadian di penginapan. Pagi yang cerah dan indah itu Vallen dan Sistine berbincang di sebuah kedai teh.
"Dengan adanya kamu di sini aku merasa bahwa kejadian kemarin seperti mimpi saja, bagaimanapun juga aku sudah cukup lama risih dengan kelakuan Elde."
"Aku ragu dia bisa menyerah semudah itu. Kamu tahu kan apa yang dia katakan sebelum lari."
"Yah pada saat itu tiba, aku hanya bisa berlindung di belakangmu... Hehehe."
"Tentu saja, aku pasti akan melindungimu dan juga Dolas. Tetapi aku akan segera pulang ke rumah dan lagipula satu tahun itu waktu yang cukup lama."
"Hmm... Padahal kamu bisa tinggal bersamaku disini." Sistine memasang wajah Cemberut.
"Dan apakah selanjutnya aku harus menikahimu?" Ucap Vallen dengan sedikit menggoda.
"Haa ap...apa yang kamu katakan?" Muka memerah dan menyembunyikan malu.
"Hahaha bercanda kok."
"Kalau memang betulan aku juga bersedia kok." Ucapan Sistine dengan nada yang kecil
"Hehm... Apa tadi yang kamu katakan? Suaramu terlalu pelan."
"Bukan apa-apa kok. Ngomong-ngomong kapan kamu akan berangkat?"
"Hari ini aku akan berangkat, tapi sebelum itu ada sesuatu yang harus aku lakukan."
Setelah mereka berdua selesai meminum teh, mereka pun kembali ke penginapan.
Hari menjelang Siang.
Aku harus melakukan sesuatu kepada Elde. Aku tidak bisa meninggalkan Sistine begitu saja dengan adanya kejadian kemarin dan kurasa akan lebih baik jika aku langsung menemui mereka di kediaman Baron.
Vallen berlari menuju mansion dimana anggota keluarga Baron berada. Tidak lama Vallen tiba di gerbang mansion.
Ada seorang penjaga yang bertanya.
"Hoi... Ada perlu apa kamu ke tempat ini?"
"Aku ingin menemui Baron di desa ini. Ada sesuatu yang harus kami bicarakan."
"Maaf kawan pengunjung di tempat ini terbatas, setidaknya kamu harus membuktikan bahwa dirimu adalah orang yang penting."
"Ohh kalau begitu apa ini cukup." Vallen mengeluarkan Lencana yang dia dapat dari Fafnir.
"Ah anda dari keluarga Noble. Maafkan atas perilaku kami."
Para penjaga itu berlutut.
Hmm Master mempunyai Lencana Noble, aku heran dimana dia mendapat benda ini.
Tiba tiba dari kejauhan ada seseorang yang berteriak.
"Persilahkan dia untuk masuk. Dia tamu penting."
"Eh... Tuan Baron. baik Tuan." Ucap penjaga itu.
Gerbang terbuka.
"Tuan silahkan lewat sini."
"Baiklah."
Vallen mengikuti Baron untuk pergi ke ruang tamu.
"Silahkan duduk Tuan. Sebelumnya perkenalkan namaku Parley. Aku adalah seorang Baron di desa Quile dan Tuan adalah?"
"Namaku Vallen dan aku adalah seorang petualang."
"Baiklah Tuan Vallen. Lencana yang anda bawa adalah Lencana Noble. Kenapa anda membawa Lencana yang seharusnya bukan milik seorang petualang?"
"Panggil saja Vallen. Untuk Lencana ini aku adalah salah satu utusan dari Noble."
"Baiklah... Ada perlu apa petualang datang ke desa yang kecil ini?"
"Anda cukup murah hati ya tuan Parley. Untuk seseorang yang sudah berhasil masuk dan keluar dengan selamat dari lembah."
Situasi mulai berubah serius.
"Heh... Anda cukup tahu banyak ya? Benar aku adalah seorang yang pernah memasuki lembah dan bertemu dengan penguasa di sana dan aku tahu betul pancaran Aura dari penguasa itu sangat mirip dengan Aura yang anda miliki."
"Ho... Mata anda cukup jeli juga. Sepertinya aku harus berterus terang disini. Perkenalkan sekali lagi namaku Vallen seorang yang sudah memasuki lembah dan menjadi murid sang Naga kuno serta menerima Blessing langsung darinya."
"Dengan pancaran Aura sehebat itu memang dari awal aku sudah menduganya. Untuk apa utusan Naga datang ke desa kami yang damai ini?"
"Yah tidak salah lagi desa ini memang damai, makmur, rakyat berkecukupan, dan diakui sebagai salah satu desa dengan perkembangan terbaik. Namun, bagaimana dengan peraturan memberikan kebebasan hak kepada para penduduk anda di sini?"
"Oya... Anda meragukan cara bagaimana aku memimpin di desa ini. Tentu saja aku memberikan kebebasan penuh dalam hak masing-masing kepada para penduduk jika masih dalam batasan. Lagipula kami juga taat hukum jadi apa yang membuat anda meragukan kebijakan saya saat ini?"
"Anda sudah membuat peraturan dengan baik di buktikan dengan kesan para penduduk yang menerima kebijakan anda. Tetapi apakah anda sudah mengajarkan hukum itu kepada Anak anda sendiri?"
"Hehm maksud anda Elde. Kalau boleh tahu apa yang sudah dia perbuat kepada anda?"
"Sebenarnya bukan kepadaku, tetapi lebih ke temanku yang berada di Shione tepatnya."
Vallen menceritakan semua kejadian kemarin.
"Baiklah tetapi jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi dan kuharap anda dapat lebih memperhatikan kelakuan Anak anda yang bersikap layaknya seorang Diktator."
"Baik terima kasih atas pemberitahuannya dan sebenarnya untuk saat ini saya sudah memberi tugas khusus kepada salah satu petugas khusus untuk mengawasi gerakan Elde. Jadi kalau ada apa-apa saya akan segera menerima laporan darinya dan saya akan menjamin keselamatan gadis itu dan juga keluarganya ."
"Baiklah Tuan Parley saya memegang janji anda..."
Disaat mereka masih berbincang tiba tiba ada penjaga yang masuk.
"Tuan Parley, ada sebuah pesan dari Petugas untuk anda."
"Hehm bawa laporan itu kesini." Memegang surat.
"Elde berulah lagi dan dia sekarang sedang ada di penginapan Shione itu."
"Apa...! Ini gawat kita harus segera ke sana."
"Hehm... Kita akan segera kesana. Penjaga siapkan kudaku dan bawakan satu untuk Tuan muda ini juga."
"Baik tuan."
Dengan berkuda mereka pun dengan cepat menuju Shione.
Disaat mereka tiba...
"Ada apa dengan keramaian ini..."
Di sisi lain di kejauhan terlihat ada seorang sedang menjambak rambut gadis
"Hahaha rasakan ini..." Plak...!!! Menampar. "Ini yang terjadi jika kau menantangku gadis bodoh."
"Hoi Elde sialan lepaskan Kakakku. Kalau tidak akan aku bunuh kau." Dolas berteriak namun perutnya ditendang oleh para pengawal Elde.
"Hahaha apa yang dapat kau lakukan. Hoi penjaga pukuli bocah itu."
"Tolong cukup. Dolas tidak bersalah dia tidak ada kaitanya dengan semua ini, tolong lepaskan dia aku mohon ." Ucap Sistine dengan wajah lebam.
Plak...!!! Menampar dan menjambak.
"Jadi kau lebih memilih adikmu daripada dirimu sendiri. Oke aku akan melepaskan adikmu tetapi ada syaratnya, kau harus bersedia untuk menjadi istriku dan tenang saja kamu tidak sendiri aku punya banyak selir di rumah. Hahaha." Kata Elde dengan angkuh.
"Kalau itu memang syaratnya aku berse..."
Sebelum Sistine selesai berbicara, dari kejauhan semua orang merasakan tekanan energi yang sangat besar, tekanan energi itu bahkan dapat membuat cuaca seketika berubah dari awan yang cerah tiba tiba menjadi gelap dan angin berhembus kencang.
"Apa-apaan dengan cuaca ini." Ucap Elde dengan bertanya tanya.
Seketika Vallen dengan langkah petirnya yang sangat cepat bahkan untuk mata Manusia tidakk dapat melihat dan mengikuti gerakannya. Vallen memukul wajah Elde dengan sangat kuat sampai-sampai dia terlempar jauh.
Sistine yang sudah lemas tidak dapat berdiri, dipeluk dan di tahan oleh Vallen.
"Ehm... Oh Vallen aku kira kamu sudah pulang. Ah ini benar dirimu kan? Aku tidak sedang berhalusinasi kan? " Ucap Sistine dengan lemah dan wajah yang lebam dan berdarah.
Vallen dengan erat memeluk dan menyandarkan kepala Sistine di dadanya.
"Yah ini aku, maaf aku terlambat."
"Hehm aku yakin kamu pasti datang kok."
Vallen melihat bekas tamparan dan luka di wajah Sistine.
Dan kemudian....
"Elde." Vallen berteriak. "Kau Manusia kurang ajar, Aku akan membunuhmu."
" jangan mendekat apa kau lupa siapa aku. Aku anak pemimpin di desa ini."
"Oh... Jadi kau bisa berbuat semena-mena di tempat ini? Tidak semudah itu."
Vallen mulai menendang, memukul, menyeret dengan menarik rambut Elde, terus memukul dan terlempar tepat di hadapan Ayahnya.
"Arg... Ayah tolong aku. Hukum orang itu yang telah memukul Anakmiu." Ucap Elde dengan wajah dan tubuh yang terluka parah, bahkan wajahnya pun sudah tak berbentuk seperti wajah pada umumnya
"Elde kamu sudah berbuat hal yang seharusnya tak pernah kamu lakukan. Asal kamu tahu sesuai peraturan, kamu harus di hukum mati. Anak bodoh sudah berapa kali aku bilang kepadamu untuk tidak membuat masalah. Jika hal seperti ini terjadi bahkan aku pun tidak dapat melindungimu, Tuan Vallen tolong selesaikan, aku tak butuh penerus seperti dia." Jelas Parley dengan berat hati dan menahan tangis.
Elde terpaku mendengar ucapan ayahnya sendiri, dan Parley mengingat masa ketika Elde masih kecil.
"Dulu kamu adalah Anak yang baik Elde. Tapi lihat dirimu sekarang apa yang akan Ibumu katakan jika ia melihat hal ini?"
"Ayah maafkan aku, maafkan aku." Berteriak keras
"Lakukan Tuan Vallen, cepat selesaikan." Ucapan Parley dengan Isak tangis dan rintihan.
"Sesuai kemauanmu Tuan Parley. Aku tidak akan segan-segan lagi dan karna Ayahmu adalah seorang yang baik hati. Aku akan memberikan kematian yang tidak menyakitkan untukmu seakan kau hanya akan tergigit oleh semut ."
Vallen mengumpulkan kekuatan...
"Thunderbird."
Petir yang sangat besar keluar dari langit menyambar Elde dan seketika membuatnya menjadi abu. Langit yang tadinya mendung kembali cerah dan angin sudah mereda.
"Terima kasih Tuan Vallen." Ucap Parley dan langsung mengumpulkan abu Anaknya dan di masukan ke dalam guci.
"Maafkan aku tuan Parley." Kata Vallen sembari menenangkan Parley.