
Banyak dari mereka kaget setelah melihat hasil Attribute ku, mereka seakan tak percaya bahwa salah satu dari atribut terkuat bisa dimiliki oleh orang biasa yang bahkan bukan seorang bangsawan maupun keturunan pahlawan, kesan seperti ini bagus dikarenakan dapat membuat rakyat jelata dipandang dengan lebih baik, dan ini diperlukan di Academy apabila para petinggi ingin menghilangkan rasa deskriminatif kaum bangsawan.
"Attribute yang cukup menarik dimiliki oleh orang desa sepertimu, untuk level dari atribut mu masih berada di tahap awal yaitu level E tingkat 5."
Aku sengaja menekan jumlah kekuatanku, karna akan merepotkan jika mereka melihat level atribut ku yang sesungguhnya, sesuai kekuatannya Attribute mempunyai tingkatan berdasarkan jumlah kerusakan dan kekuatan maka dari itu ditandai dengan Level tertentu, dan berdasarkan urutan jumlah kerusakan dari yang paling tinggi adalah "SS", "S" , "R" , "A" , "B" , "C" , "D" , dan yang terakhir "E", setiap Level masing2 mempunyai tingkat 1 sampai dengan 10, jika aku tak menekan kekuatanku yang sesungguhnya mungkin aku berada di Level A tingkat 3 atau 4 yang mana setara dengan level seorang petinggi di Academy ini, dan aku juga mengatasi kecurigaan karna sudah meledakkan Siris, dengan Level ku yang hanya ada di Level E meledakkan Siris adalah hal yang mustahil dan aku yakin mereka akan beranggapan bahwa Siris itu sudah tua atau ada komponen sihir yang rusak apabila bersentuhan dengan Attribute Petir.
"Baiklah Vallen silahkan menuju tempat Tes terakhir, dan karna kamu mempunyai bakat sihir maka menuju ke lorong sebelah kiri."
"Siap."
Ehh ternyata ada 3 lorong dan ujian Ranking Magus berada di lorong pertama atau sebelah kiri, yang di tengah untuk tes Alkemis dan yang paling kanan pasti tes Warrior.
"Academy Alvarez bukan kaleng kaleng ***, luas bat."
Ketika aku berjalan dan memasuki lorong aku berhenti untuk mengambil nomer disana.
"Yoo orang desa kita bertemu lagi." Ahh sial ketemu para kawanan bangsawan ini lagi.
"Haaa etto kamu adalah anak dari seorang Duck(bebek) bukan." Hehe sengaja ku plesetin dari Duke menjadi Duck.
"Apa kau bilang....! Hei orang miskin jangan sampai aku menghajar mu disini."
"Kebetulan sekali aku penasaran dengan sikap sombongmu itu, majulah sini."
"Kamu.....!" Ohh dia mau merafal mantra.
Sebelum bangsawan ini merapal mantra salah satu orang di rombongan itu menegur.
"Hoi kalian berdua hentikan, kalau kalian mau bertarung boleh2 aja tapi liat tempat juga."
"Cihhh.. kau ingat ini rakyat jelata aku akan menghajarmu di Arena nanti."
Ternyata Level dari anak Duke itu lumayan, dia berada di Level D tingkat 8, seperti yang diharapkan dari keluarga bangsawan, aku berharap dia bisa menghiburku nanti di Arena.
Akhirnya aku tiba di Arena dan aku terkejut dengan betapa luasnya tempat ini, dan juga sudah banyak yang hadir ternyata, aku penasaran dimana para bangsawan itu aku melihat sekitar dan ternyata mereka mempunyai tempat tersendiri yaitu di balkon atas lengkap dengan peralatan minum teh dan tempat makan yang mewah, ternyata rakyat biasa seperti kami duduk di bawah kah, menarik sekali.
Aku mendengar kebingsingan orang2 disekitarku.
"Yahh namanya juga Horang tajirr."
Mereka berbisik dan mengumpat ria tapi ada seseorang yang membuatku penasaran, di antara rombongan bangsawan tadi aku merasakan ada salah satu dari mereka yang mempunyai Aura mirip seperti punya kak Fiona.
1 jam kemudian akhirnya semua murid bakat sihir sudah berkumpul di arena, para rakyat biasa duduk bagian bawah posisi kami melingkar karna arena berada di tengah, dan para bangsawan duduk di Balkon atas, sungguh masih sulit untuk menghapus sistem deskriminatif.
"Perhatian para murid Academy Alvarez kalian semua yang berada disini adalah seorang Magus dengan kekuatan yang besar, mulai kecil kalian sudah belajar tentang sihir dan kekuatan hingga sampai sekarang pun kalian masih belajar, karna diharapkan ketika kalian lulus dari Academy kalian akan menjadi seorang Magus yang kuat dan mengabdi ke Kerajaan(siswa bersorak), para murid2 sekalian tunjukkan padaku tekad kalian di dalam Arena suci ini."
Sambutan dari salah satu guru pengajar di Academy, meskpun dia cukup tua dan berjenggot panjang tapi kekuatannya sangat besar, dan selanjutnya adalah panduan2 tentang ujian terakhir.
"Para murid2 Magus kalian sebentar lagi akan saling berhadapan memperebutkan peringkat teratas di dalam kelas, sistemnya adalah duel 1 vs 1 dan musuh kalian akan diacak berdasarkan nomer yang sudah kalian dapat, peraturanya adalah dilarang menggunakan sihir yang bisa membunuh lawanmu, apabila kalian jatuh keluar dari Arena maka kalian akan dianggap kalah, dan dilarang membuat lumpuh atau menghilangkan bagian tubuh dari lawanmu, pertandingan akan selesai apabila salah satu peserta pingsan atau menyerah, melanggar peraturan akan mendapatkan sanksi berdasarkan aturan yang dilanggar, sistem pertarungan yang kalah akan langsung mendapat peringkat, dan yang menang akan terus maju sampai menuju final, total calon murid baru Magus di sini mencapai angka 324, dan diperkirakan akan menepati 3 kelas diantaranya Kelas A diisi oleh peringkat 1 sampai 100, kelas B diisi oleh peringkat 101 sampai 200, dan kelas C diisi oleh peringkat sisanya, peringkat 1-10 akan mendapatkan gelar dan juga hadiah langsung dari kepala Academy, apabila ada diantara kalian yang masuk di kelas tahun kedua maka akan tetap masuk kelas sesuai peringkat itu dan sisanya akan diatur oleh guru disana, itu saja sekian dari saya sebagai pembawa berita acara dan semoga beruntung."
Hehh jadi yang terus menang akan terus bertarung sedangkan yang kalah tidak akan bertarung lagi, terasa sangat tak adil menurutku.
"Baiklah untuk pertandingan pertama nomer peserta 34 melawan 102 silahkan menuju arena."
Hehmm pertarungan pertama, sekarang kita lihat seberapa kuat murid seumuranku di Academy.
"Keberuntunganmu berakhir sampai disini ." Kata si nomer 34.
"Kalau tentang itu agak gimana gitu." Balas nomer 102
"Pertandingan Dimulai."
"Wahai roh angin dengarkan permintaanku... hembuskan angin kepada makhluk yang menantang keagunganmu Wind chaser ." Hoo peserta nomer 34 mempunyai sihir angin dan kecepatan perafalan mantranya lumayan baik.
"Wahai roh tanah dengarkan permintaanku... Angkatlah bumi dan hancurkan musuhmu Earthquake Slazer ." Wow dia membuat seluruh arena merasakan goncangan tanah yang hebat.
Cukup menarik nomer 34 membuat sihir angin dan menyerang langsung lawanya tetapi peserta nomer 102 membuat dinding tanah untuk menghalau serangan dan membuat gempa yang mendorong lawanya keluar dari arena, pemenangnya sudah di tentukan.
"Pemenangnya peserta nomer 102."
Penonton bersorak.
Perafalan yang lama hanya untuk sihir tingkat rendah, padahal jika itu aku mengeluarkan mantra tingkat rendah hanya menggunakan imajinasi saja sudah cukup.