Dragon Soar To The Sky (Rewrite)

Dragon Soar To The Sky (Rewrite)
Istana Ivaria



"Vallen, apa kau sudah siap? Kita segera berangkat menuju Istana."


"Baiklah Jendral Creuz, saya sudah siap."


(Semalam Roxaline tidak membiarkanku istirahat, sungguh wanita yang liar).


Vallen, beserta rombongan Jendral Creuz segera berangkat ke Istana dengan menaiki kuda.


Tak lama kemudian mereka sampai di pusat kota Kerajaan Ivaria.


"Aku melihat warga disini cukup baik keadaanya dibandingkan dengan wilayah-wilayah terluar."


"Karena setiap pasokan yang diperoleh dari tempat pertanian akan segera di hitung di dalam wilayah Ibukota, oleh karena itu perekonomian di tempat ini tidak terlalu terkena dampak yang buruk."


(Aku mencium bau masalah disini).


Vallen, dan Creuz menuju Istana. Kedatangan mereka disambut dengan meriah.


"Selamat datang Jendral Creuz, kami sudah menunggumu."


"Aku kembali, dan membawa seseorang Aristokrat dari Estora."


"Perkenalkan namaku adalah Vallen Deovare. Aristokrat dari keluarga Guardian Deovare."


"Ohh, dia seorang anggota keluarga Guardian."


"Luar biasa..."


"Kali ini Kerajaan masih bisa terselamatkan."


Vallen, dan Creuz kemudian menuju Chamber. Tempat dimana singgahsana Raja berada."


"Senang melihat anda lagi, Yang Mulia."


"Selamat datang Creuz, siapa pemuda yang kamu bawa ini?"


"Perkenalkan Yang Mulia Puteri, nama saya Vallen Deovare. Seorang Aristokrat dari keluarga Guardian Deovare."


"Terima kasih sudah bersedia untuk datang, dan membantu Kerajaan kami. Aku sangat berterima kasih kepada Estora."


"Dengan senang hati, Yang Mulia."


"Aku mohon maaf Vallen, karena keadaan Raja yang tengah dalam keadaan yang tidak baik, maka aku disini menggantikan beliau sampai dia sembuh sepenuhnya."


"Tidak masalah Yang Mulia Puteri...."


"Arleana. Namaku Arleana El Seraphin."


"Izinkan saya untuk memanggil nama anda sekali lagi... Terima kasih Yang Mulia Puteri Arleana El Seraphin."


"Aku menyambut dengan hangat kedatanganmu. Pelayan, segera antar Tuan Vallen menuju ruangan dimana dia akan tinggal."


"Baik, Yang Mulia."


"Silahkan Vallen..."


"Terima kasih Yang Mulia."


Vallen kemudian dipandu oleh para pelayan menuju tempat tinggalnya di dalam Istana.


"Itu benar, Yang Mulia. Vallen, dia bukan hanya kuat. Tetapi juga berbakat. Jika tidak ada dia, mungkin aku sudah tenggelam ke dasar Samudera."


"Ya, aku membaca laporanmu. Aku bersyukur kamu bisa kembali dengan aman."


"Bagaimana kabar Paduka Raja?"


"Keadaanya semakin memburuk, kutukan itu masih tetap menggerogoti tubuh Ayahku. Apa yang harus aku lakukan, Creuz?"


"Puteri Arleana, bersabarlah karena aku yakin, Vallen akan membawa suatu keajaiban."


"Aku percaya dengan perkataanmu Creuz."


Vallen sampai di ruangannya.


"Nikmati waktu anda Tuan Vallen."


"Terima kasih."


(Para Maid disini semuanya sangat cantik, dan manis. Apalagi dengan telinga kelinci, dan ekor mereka, tetapi Puteri Arleana memanglah sesuatu yang paling luar biasa).


"Ruangan yang lebar, banyak buku tersusun rapi, meja kerja yang luas, kamar mandi, dan kamar tidur. Begitu ya, mereka membuat ruangan yang All In One."


Vallen memutuskan untuk istirahat sejenak, sampai...


TOK...! TOK...!


"Hmm, siapa ya?"


"Ya, Vallen. Bagaimana, apakah kamu puas dengan ruangan ini?"


"Woah, Yang Mulia Puteri. Maaf saya tidak tahu kalau anda yang akan berkunjung."


"Heh... Tenanglah Vallen, jangan terlalu formal kepadaku. Aku hanya pengganti bagi Raja untuk sementara waktu saja."


"Baiklah Puteri Arleana."


"Apakah kamu akan menyelamatkan Kerajaan kami?"


(Hmm, ternyata Puteri adalah orang yang langsung ke inti pembicaraan).


"Tentu saja saya akan membantu, setelah melihat keadaan Kerajaan Ivaria. Aku tidak akan tinggal diam begitu saja."


"Terima kasih Vallen. Aku sangat ketakutan.."


"Hmmm? Apa yang anda takutkan?"


"Masa depan. Aku takut nasib Kerajaan Ivaria di masa yang akan datang. Membayangkan semua itu membuatku takut."


"Saya mengerti dengan ucapan anda. Namun Puteri, jika anda menyadari bahwa Kerajaan tidak punya masa depan, maka satu hal yang harus dilakukan adalah melawan takdir."


"Melawan takdir?"


"Itu benar, selagi anda masih belum menyerah. Maka kemungkinan terjadinya sesuatu tidaklah mustahil. Yakinlah pada diri anda sendiri."


"Baik, kau benar Vallen. Aku adalah seorang Raja sekarang. Aku tidak bisa memperlihatkan kelemahanku kepada musuh, dan terutama kepada Rakyatku."


(Puteri yang sangat ambisius. Mungkin Ivaria akan terselamatkan).