Dragon Soar To The Sky (Rewrite)

Dragon Soar To The Sky (Rewrite)
Pertemuan Keempat Keluarga



Setelah Husk terbangun dari tempat tidurnya, dia menceritakan permasalahan yang menimpa di wilayah tersebut.


"Jadi begitulah ceritanya, tuan."


"Baiklah, untuk saat ini aku sudah mengerti tentang inti permasalahan ini."


"Oh, jangan panggil aku dengan tuan, panggil saja dengan namaku."


"Baiklah jika itu yang anda inginkan Vallen."


Setelah itu Vallen beranjak untuk pergi dari kediaman Husk dan Ethan.


"Setelah ini, apa yang akan kau lakukan Val?"


"Aku perlu mengirim laporan ke markas, dan menunggu perintah selanjutnya."


"Baiklah, jangan lupa ketika kamu butuh bantuan, janganlah merasa sungkan untuk meminta kepada kami."


"Ethan, kamu tidak perlu khawatir, yang harus kamu lakukan sekarang adalah merawat ayahmu, untuk masalah ini aku harap kamu jangan ikut campur, karena semua ini tidaklah sederhana."


"Jadi memang benar ada campur tangan pihak ketiga?"


"Aku tidak dapat memastikan, namun jika memang benar maka semua kejadian yang menimpa kalian ini, adalah hal yang masuk akal."


Vallen kemudian pergi menuju ke markas untuk menyerahkan hasil laporan.


Di tengah perjalanan...


(Hmm, ada beberapa orang yang mengikutiku.)


Seseorang melempar bom asap ke arah Vallen.


(Ini, obat bius. Untung saja tubuhku kebal terhadap racun, tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk muncul, aku akan bermain dengan kalian.)


Vallen tergeletak.


"Hei, kita menangkapnya. Cepat segera bawa dia."


(Hmm, kemana mereka membawaku? Orang-orang ini sangat cepat menerima informasi.)


"Ikat dan masukan dia ke penjara bawah tanah."


Vallen kemudian dimasukan ke penjara.


"Hei bangun."


Brukk..!! Pukulan di bagian perut Vallen.


"Kalian mau aku bangun? Lepaskan penutup mata ini, kemudian kita akan bicara."


"Terlalu banyak bacot."


Brukk..!! Vallen dipukul berkali-kali.


"Eii... Sudah cepat lepas penutup mata itu."


"B-baik Tuan muda."


(Suara ini? Joan.)


"Hahaha. Bagus, sangat bagus. Aku tidak menyangka seekor tikus yang bersembunyi di wilayah kami adalah seorang Knight yang luar biasa. Benar kan, Vallen?"


"Joan Polac. Seekor **** yang suka memakan uang rakyat."


"Eii... Pukul dia."


Brukk..!!


Joan menarik rambut Vallen.


"Dengarkan ini, kau sekarang berada di wilayahku. Aku bisa membunuhmu kapan saja semauku. Jadi, berikan laporan itu dan mungkin aku akan mempertimbangkan untuk menjadikanmu sebagai budak dari keluarga Polac. Hahaha."


"Hah, menjadi budak dari keluarga ****, apa enaknya? Aku lebih memilih untuk menghabisi seluruh keluargamu, dan melihat satu-persatu dari kalian memohon ampun di kaki ku."


"Kurang ajar. Oh, kalau tidak salah kamu adalah pengawal dari puteri Illeria kan? Hmm, wajah cantiknya, kulit lembutnya, wanginya. Hahaha, aku tidak bisa menahan hasratku."


Vallen mengeluarkan Aura yang mendominasi.


"Aku peringatkan kau seekor ****, jangan pernah menyentuh dia dengan tanganmu yang kotor itu, atau aku akan mengejarmu sampai ke ujung dunia."


"Pfft... Jangan bercanda, kau bisa apa? Aku yang berkuasa sekarang, tubuhmu dirantai, ada batu sihir untuk menekan Mana mu. Kau tidak bisa apa-apa, kau hanya sampah."


"Kalau begitu, lepaskan rantai ini, dan kita buktikan siapa diantara kita yang sampah."


"Kenapa aku harus repot-repot, sebentar lagi rencana kita akan segera selesai. Dan saat itu tiba, aku akan menikmati puteri Illeria itu. Hahaha."


(Rencana? Apa yang dimaksud **** ini?)


"Heh... Paling-paling kau hanya membual saja, seekor keluarga **** ingin menguasai istana."


"Semua itu mungkin jika ada dia. Hahaha."


(Dia? Siapa orang itu?)


"Otto... Aku terlalu banyak berbicara. Tapi ya, karena kau sebentar lagi akan mati, aku tidak perduli sih. Orang yang membantu kami dipanggil sebagai Shaman Parasite."


(Shaman Parasite, sepertinya aku pernah mendengar itu di sebuah arsip.)


"Dan tujuan kami adalah untuk menginfeksi seluruh keluarga istana dengan parasit ini."


"Heh, hanya sebuah parasit. Apa hebatnya?"


"Karena parasit yang digunakan itu bernama Brainworm, atau cacing otak."


(Brainworm..! Tidak mungkin, menurut Master Fafnir jenis parasit ini sudah musnah di saat perang dingin 5 tahun yang lalu.)


"Kau pasti tidak percaya kan? Lihat ini, aku memegang salah satu dari parasit itu."


Joan memperlihatkan parasit yang berada di toples kaca.


"KURANG AJAR KAU, JOAN..!"


"Hahaha. Teruslah menggonggong, suaramu tidak akan sampai ke telinga mereka."


"Aku bersumpah akan menghancurkanmu.!"


"Hei, cepat bunuh dia. Aku sudah muak mendengar ocehannya. Oh iya, jangan khawatirkan tentang puteri Illeria, aku akan merawatnya dengan baik. Hahaha."


"JOAN...!"


Dua pengawal Joan menusuk perut Vallen dan memenggal kepalanya.


"Heh, sungguh kematian yang layak. Ayo kita pergi."


Dari kejauhan seseorang mulai bangun dari meditasinya.


"Heh, ternyata teknik ini cukup bermanfaat."


Ternyata seseorang yang dibunuh oleh Joan bukanlah Vallen, melainkan hasil dari sebuah sihir ilusi.


Take Over. Merupakan sihir langka yang diajarkan langsung oleh Fafnir kepada Vallen. Sihir ini dapat membuat Caster(perafal) merasuki tubuh orang lain dan mengambil alih pikiranya serta merubah tampilannya.


Sebelumnya Vallen disergap oleh 3 orang, disaat kabut dari bom asap menyebar, Vallen mengambil satu dari ketiga orang itu sebagai wadah untuk Take Over, setelah selesai merafal, orang yang terkena sihir ini langsung berubah wujud sesuai dengan tampilan Casternya.


Dari sinilah Vallen mulai bertukar Posisi dengan wadahnya, dan bersembunyi sambil mengambil alih pikiran dari wadahnya. Agar kedua orang yang lain tidak merasa curiga, Vallen membuat kedua orang itu percaya bahwa keberadaan orang ketiga itu dari awal sebenarnya tidak ada. Akhirnya mereka beranggapan bahwa dari awal mereka hanya menyergap Vallen hanya dengan dua anggota saja.


Mayat yang dibunuh oleh Joan adalah orang ketiga itu.


(Hah... Sihir ini sangat menguras tenaga, aku ingin beristirahat sejenak sekaligus memulihkan Mana.)


Beberapa waktu berlalu hingga malam tiba.


"Hhooamm..." Vallen menguap.


(Yah, butuh waktu yang banyak untuk memulihkan Mana, aku akan melakukan sesuatu mengenai mayat itu.)


Vallen menuju kabin tua itu dan mencari mayat yang ada di bagian sel, kemudian dia membakar habis mayat itu hingga tidak tersisa.


(Semua bukti harus dimusnahkan.)


Vallen kemudian menelusuri seluruh ruangan dan menemukan sesuatu.


"Hahaha... Tidak kusangka."


(Joan cukup bodoh untuk meninggalkan Parasit di dalam kabin ini. Biar kuterima hadiahmu, dan ini akan menjadi bukti yang cukup untuk penyelidikan kali ini.)


Vallen keluar tanpa terdeteksi oleh para penjaga di kabin itu.


(Aku harus segera pergi ke markas untuk memberikan laporan, keluarga Polac bersekongkol dengan seorang Shaman.)


Perjalanan itu setidaknya membutuhkan 3 sampai 4 jam untuk sampai di tujuan.


"Prime, Knight dari Tier 2 akan menyerahkan laporan hasil penyelidikan dari keluarga Orev Polac."


"Perintahkan dia untuk masuk ke ruangan."


"Baik."


Vallen masuk dan memberi hormat.


"Hormat Prime Minister."


"Silahkan duduk."


"Baik."


"Jadi, apakah kamu sudah mempunyai bukti?"


"Itu benar Prime, namun saya merasa bahwa ada sesuatu yang membantu keluarga Polac dari balik layar."


"Ho... Itu cukup menarik, bisa kulihat hasil penyelidikanmu?"


"Baik, Prime."


Prime membaca hasil penyelidikan Vallen.


"Hmm, seorang Shaman. Apa kamu yakin?"


"Saya juga punya buktinya Prime. Namun, aku mempunyai suatu permintaan."


Keesokan harinya.


Di sebuah tempat di dalam istana kerajaan, 4 keluarga besar tengah berkumpul. Masing-masing dari mereka mengutus perwakilan untuk menghadiri acara tersebut.


"Sungguh merepotkan, aku harap pertemuan ini menyangkut masalah yang besar."


"Yah, kita belum tahu mengenai masalah ini."


"Itu benar, kita harus tenang sebelum memutuskan sesuatu."


Keempat perwakilan keluarga Guardian sedang berbincang.


Tidak lama kemudian. Vallen, Prime Minister, Komandan Knight masuk ke ruangan itu.


"Hooh... Bukankah itu Knight yang mempunyai reputasi akhir-akhir ini?"


"Salam hormat saya kepada pahlawan Guardian." Vallen memberi hormat.


"Hehm... Namamu Vallen bukan?"


"Iya benar, nama saya adalah Vallen."


"Dan Mastermu adalah kepala Akademi Alvarez, Fafnir."


"Itu benar."


"Hah... Kenapa Guru besar seperti Fafnir menerima kamu sebagai murid, sedangkan dia menolak untuk menjadikan anakku sebagai muridnya? Aku tidak paham."


"Bryan, Tuan Fafnir sudah bilang bahwa dia hanya akan menerima seseorang murid menurutnya memang berbakat tidak biasa."


"Hah... Kamu bilang Vallen ini Abnormal?"


Pembicaraan mereka dipotong oleh Prime.


"Baiklah tuan-tuan. Kita hari ini akan membahas mengenai suatu percobaan pemberontakan yang dilakukan oleh salah satu bangsawan yang berada di wilayah para Guardian."


"Hehm... Percobaan pemberontakan? Apa kamu tidak salah Prime?"


"Saya mempunyai bukti yang cukup untuk hal ini."


Prime menunjukan parasit Brainworm yang sudah berhasil di ambil oleh Vallen sebelumnya.


"APA...! Bukankah ini parasit yang sudah sangat langka?"


"Benar, ini adalah parasit yang bisa mengendalikan otak."


"Darimana kamu dapat binatang ini?"


Kemudian Prime menceritakan hasil laporan Vallen, mulai dari keadaan desa itu, keadaan para warga disana, konflik kepala desa, dan pergantian baron secara tiba-tiba, serta upaya penyergapan yang dilakukan oleh keluarga Polac.


"Hmm... Apakah benar itu terjadi? Keluarga Polac berada di dalam wilayahku. Jika memang hal ini benar-benar terjadi, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh kepala keluarga kami."


"Kamu bilang tadi si Vallen ini disergap oleh beberapa orang, jadi bagaimana kelanjutanya?"


"Untuk hal itu, Vallen akan menceritakan langsung kepada anda semua."


Vallen menceritakan tentang kejadian itu, mulai pada saat pertama kali dia menggunakan sihir langka bernama Take Over, dan hasil pembicaraan Joan selama di dalam kabin.


Brakk...!!! Memukul meja.


"Saya sebagai perwakilan Deovare merasa malu kali ini, kejadian ini terjadi di wilayah kami, dan kami tidak mengetahuinya. Padahal kami sudah mengurus bangsawan dari pihak keluarga kami untuk mengawasi seluruh lingkup wilayah kami."


"Mohon izin berbicara Tuan. Dengan adanya seorang Shaman di balik keluarga Polac, apakah mungkin utusan itu terkena sesuatu?"


"Apa maksudmu Vallen?"


"Sebagai contoh adalah Brainworm, apabila pikiran sudah dikendalikan oleh parasit ini, maka..."


"Ya, tidak menutup kemungkinan hal itu bisa terjadi."


Beberapa saat kemudian, seseorang memasuki ruangan itu.


"Ho... Kelihatannya semua sudah berkumpul."


Seisi ruangan berdiri dan menundukan kepala untuk menghormati orang itu.


"Are... Ternyata ada muridku disini, bagaimana kabarmu?"


"Master Fafnir, sudah lama tidak berjumpa. Aku baik-baik saja Master."


"Aku tengah memeriksa sebuah reruntuhan kuno dekat kekaisaran iblis. Namun, seseorang membuatku khawatir dan segera meninggalkan tempat itu."


"Hmm siapa orang itu Master?"


"Siapa orang itu?"


Plakk..!! Fafnir memukul kepala Vallen


"Aduh... Kenapa Master memukul kepalaku?"


"Jika bukan karena kamu mengeluarkan sihir Take Over, maka aku tidak akan peduli tentangmu."


"Hahaha... Maafkan muridmu ini Master."


"Hah... Jadi kenapa kamu mengeluarkan sihir itu?"


Prime Minister memotong pembicaraan mereka.


"Jadi begini kejadiannya Tuan Fafnir...."


Setelah menceritakan kejadian yang dialami Vallen.


"Hahaha... Itulah muridku. Tapi, tentang parasit ini..."


"Apakah tuan Fafnir mengetahui sesuatu?"


"Ya, dahulu kala di tempat kami Sanctuary, terdapat suatu kelompok yang meneliti tentang parasit. Tentu saja mereka meneliti binatang istimewa itu dengan pengawasan ketat dari kami. Namun, setelah perang besar terjadi pada saat itu, seluruh parasit itu sudah dihancurkan, tetapi pada saat perang dingin 5 tahun yang lalu, parasit ini sempat muncul kembali, namun entah kenapa tiba-tiba keberadaanya tidak diketahui. Dan sekarang dia muncul lagi dihadapan kita."


"Aku hanya pernah membaca melalui arsip kerajaan, tidak kusangka aku bisa melihat hal ini di depan mataku secara langsung."


"Baiklah mari kita lanjutkan pertemuan ini, dan memberikan solusi."


"Aku akan ikut pertemuan kali ini, kalian tidak masalah kan?"


"Tentu saja dengan hadirnya Guru Besar Fafnir, kita sangat menyambut anda."


Mereka memulai pertemuan itu, dan setelah beberapa jam akhirnya acara itu telah usai.


"Vallen, untuk misi kali ini, kamu sudah melakukan yang terbaik."


"Terima kasih Prime."


"Tidak... Aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu."


Vallen kembali ke kediamannya.


(Ah, aku ingat kembali tentang maid yang bertugas untuk melayaniku, bagaimana keadaan dia ya?)


"Aku pulang..."


"Selamat datang Tuan muda, bagaimana perjalanan anda kali ini? Apakah anda ingin makan dulu, mandi dulu, atau tubuhku?"


"Hoaah... Sudah kubilang jangan seperti itu Tiffa."


"Saya bercanda Tuan. Saya sudah menyiapkan kamar mandi anda, makanan juga sudah tertata."


"Baiklah terima kasih banyak Tiffa."


"Oh iya, apakah ada sesuatu yang terjadi selama aku pergi bertugas?"


"Beberapa kali Puteri Illeria datang untuk melihat keadaan anda, beliau terlihat khawatir karena anda sudah lama tidak pulang."


"Hah... Tiffa, segera siapkan pakaian resmiku. Aku akan menemui Puteri Illeria."


"Jangan..." Tiffa menarik telinga Vallen.


"Eh aduh, Tiffa?"


"Tuan muda, anda baru saja pulang dari bertugas, anda belum mandi, anda belum makan, dan ingin cepat-cepat menemui Puteri?"


"Tapi dia sedang khawatir bukan?"


"Tuan muda, nanti Puteri mabuk lho mencium bau anda."


"Ah... Itu benar sih."


"Maka dari itu Tuan silahkan mandi dulu, dan segera memakan makanan yang sudah saya masak. Untuk Tuan Puteri saya akan bilang kepadannya untuk bersiap-siap."


"Baiklah Tiffa, terima kasih banyak." Vallen memegang tangan Tiffa.


"Hehmpf... Aku hanya melakukan tugasku." Tiffa tersipu malu.


"KAMAR MANDI... AKU DATANG...!!"


Di dalam benak Tiffa berbunyi


(Dasar Tuan muda. Bodoh...) Sembari tersipu malu.


Setelah Vallen sudah bersiap-siap, dia segera beranjak ke istana.


Dia bertemu dengan Raja dan permaisuri, meminta izin untuk menemui Puterinya.


"Dengan senang hati kami mengizinkan kamu Vallen, Illeria akhir-akhir ini kurang bersemangat. Mungkin dia merasa khawatir kepadamu."


Setelah itu, Vallen menuju kamar Puteri.


Tok.. Tok.. Tok.. (Bunyi ketukan pintu.)


Dari balik pintu, Puteri menjawab.


"Siapa...?"


"Puteri, ini saya."


Dug... Dug... Dug... (Suara langkah berlari.)


Ketika pintu itu terbuka, Illeria melompat dan memeluk Vallen.


"Aku merindukanmu, Vallen."


"Aku juga merindukanmu, Illeria."


Mereka berdua berpelukan dengan erat.